PT Adhya Tirta Batam (ATB)  mengolah sumber air baku yang ditampung dalam lima waduk yang ada.

Sejak didirikan pada tahun 1995, Batam yang sejak awal didisain menjadi kawasan Industri terus mengalami kemajuan secara signifikan. Baik dari infrastruktur maupun pertumbuhan jumlah penduduk yang setiap tahunnya terus bertambah.

Kondisi tersebut memunculkan permasalahan baru terkait kebutuhan akan air bersih untuk masyarakat Batam. Oleh karena itu, keberadaan waduk tadah hujan dan menjaga wilayah resapan air menjadi hal yang sangat penting untuk dijaga secara bersama-sama.

“Batam sudah sangat maju. Kepadatan penduduknya sudah setara dengan kota besar seperti Denpasar maupun Lampung. Sementara ketersediaan air bersih saat ini masih mencukupi, namun tidak berarti akan tetap bertahan sampai masa depan. Sehingga perlu adanya tambahan ketersediaan air baku disamping menjaga air baku yang ada. Dan hal ini harus tetap berkelanjutan, dan sangat penting,” ujar Ir Benny Andrianto MM, President Director ATB saat menjadi pembicara dalam dialog singkat di kegiatan ATB-BP Batam Festival Hijau 2017 lalu di Kepri Mall.

Benny juga memaparkan ATB Sebagai perusahaan air yang ditunjuk pemerintah untuk mengelola air bersih di Batam tentunya ikut peduli dalam menjaga lingkungan, khususnya Catchment Area.

“Cathcment area atau daerah tangkapan (resapan) air harus dipelihara, ATB secara konsisten setiap tahunnya selalu melakukan penanaman pohon di wilayah tangkapan air, bersama dengan komunitas sepeda dan melibatkan masyarakat luas agar bisa lebih peduli akan pentingnya menjaga lingkungan. Sehingga menjaga Catchment Area maka akan berpengaruh pada ketersediaan air baku,” jelas Benny lagi.

Saat ini, tambahnya, Batam sudah dihuni dengan rata-rata 9.000 orang per kilometer per segi. Artinya kebutuhan air bersih di Batam sudah setara dengan Medan, dimana air yang dibutuhkan sekitar 7.000-8.000 liter per detik dalam satu harinya.

Oleh karena itu, Batam perlu ada cadangan air baku untuk masa depan. Dimana ketersedian air kita saat ini sekitar 3.800 liter per detik. Apabila Waduk Tembesi beroperasi, maka akan menjadi 4.400 liter per detik. Sehingga perlu adanya cadangan tambahan air baku lagi, untuk mencukupi kebutuhan air di masa depan

Sementara konsumsi masyarakat Batam dalam hal air bersih masuk dalam kategori boros dibandingkan rata-rata standar Indonesia. Dimana pemakaian air mencapai 180 liter per orang dalam satu harinya. Sementara Standar Indonesia adalah 120 liter per hari setiap orang.

Pemandangan dari udara waduk Duriangkang. DOK/ATB

“Pemakaian air di Batam masuk dalam kategori boros dibanding rata-rata pemakaian air nasional. Untuk itu kita harus belajar berhemat air,” jelas Benny lagi.

Sementara itu, Purba Robert M Sianipar, Anggota 4 Deputi Bidang Pengusahaan Sarana lainnya BP Batam mengatakan langkah yang di lakukan ATB berupa menjaga lingkungan hidup dengan melakukan penanaman pohon di daerah tangkapan air sudah tepat.

Bahkan pihaknya mendorong untuk lebih banyak lagi pihak terlibat untuk ikut serta dalam menjaga lingkungan terutama daerah tangkapan air.

“Langkah yang dilakukan ATB sudah sangat tepat menjaga lingkungan berupa penanaman bibit pohon di daerah tangkapan air di Duriangkang. Kita berharap tidak hanya sampai di sini saja beberapa waduk juga perlu dilestarikan seperti Tembesi kita sambut baik, kalau perlu bukan hanya ATB saja namun bisa melibatkan pihak lainnya untuk berpartisipasi menjaga lingkungan,” kata Robert

Menurut Robert, menjaga keberlangsungan daerah tangkapan air jadi kepedulian bersama, bukan hanya bergantung dari pemerintah semata, namun perlu peran serta semua elemen masyarakat. Terlebih saat ini pertumbuhan penduduk di Batam juga banyak mengabaikan cathcment area, bahkan banyak yang melakukan penebangan pohon.

“Dengan adanya antusias dari masyarakat yang luar biasa saat di gelar ATB Festival hijau, hal ini bisa memberikan gambaran melihat langsung alam yang ada di dalam area tangkapan air dan akhirnya menimbulkan kesadaran bahwa cathment area perlu dilestarikan bukan menebang pohon justru kita bersama sama memelihara,” harap Robert.

Menjaga keberlangsungan catchment area di dam, BP Batam juga menegaskan menstrerilkan aktifitas-aktifitas yang merusak fungsi daerah tangkapan air seperti pemukiman, pertanian atau peternakan. Sebagai daerah konservasi cathcment area harus bebas dari aktifitas kegiatan manusia. (rilis)

Respon Anda?

komentar