Pompong tujuan Tanjungpinang Penyengat siap berlayar di Dermaga Penyengat, belum lama ini. Foto:Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Satu tahun sudah tragedi tenggelamnya pompong Penyengat yang menewaskan 15 orang itu terjadi. Kejadian tersebut membuat geger warga Kota Tanjungpinang.

Pasca kejadian laka laut yang menewaskan belasan penumpang tersebut. Kewaspadaan menjadi hal yang paling utama. Pemandangan orang menggenakan jaket apung (life jaket) di atas pompong baik itu penumpang yang dari Tanjungpinang menyebrang ke Penyengat ataupun sebaliknya sejak peristiwa itu menjadi hal yang paling lumrah dilihat.

Aktifitas seputaran Plantar Kuning, tempat berlabuhnya Pompong yang biasa menaik turunkan penumpang yang hendak bepergian ke Pulau Penyengat ataupun sebaliknya tampak lenggang seperti biasa diakhir pekan kemarin. Spanduk besar di pelantar Tanjungpinang dan Penyengat yang berisi himbauan pun masih terbentang.

Petugas Dinas Perhubungan dan personel TNI AL pun hingga saat ini masih tetap berjaga. Semuanya satu tangan, bahu membahu memastikan setiap penumpang yang menyeberang menunaikan kewajibannya untuk mengenakan jaket apung.

Pelan tapi pasti, segalanya mulai tertib. Tak peduli berapa pun usia penumpangnya. Life jaket wajib dikenakan saat mereka hendak menyeberang. Antusias atas kewajiban tersebut diterima oleh penumpang dan penambang.

”Beberapa waktu lalu, ketersedian jaket apung ini sempat menipis. Kata penambang Pompong ada yang curi. Makanya masih ada yang tetap memberangkatkan penumpang, walaupun tidak pakai life jaket,” ujar salah seorang warga yang ditemui ketika hendak menyebrang ke Penyengat dari Plantar Kuning.

Seolah tidak ingin kejadian 21 Agustus 2016 itu terulang kembali, kata Arfandi, belum lama ini Pemko Tanjungpinang kembali menghibahkan seratusan jaket apung bagi penambang Pompong. Hal itu tentunya merupakan evaluasi dari Pemerintah Daerah dan tidak menyepelekan keselamatan walau jarak penyeberangan yang ditempuh dekat. Warga yang menggunakan jasa angkutan laut pun menyambutnya dengan senang hati.

”Kejadian tahun lalu itu masih sangat jelas saya ingat. Apalagi saya yang sering menggunakan Pompong jika berkunjung ke rumah saudara di Penyengat. Agak deg-degan juga kalau tak pakai life jaket. Sekarang Alhamdulillah, ketersediannya life jaketnya sudah banyak lagi,” kata Arfandi.

Sementara itu, Ketua Organisasi Penambang Perahu Motor (OPPM) Penyengat, Raja Imran Hanafi, mengatakan meski tidak lupa akan kejadian yang merenggut belasan nyawa. Namun, pihaknya tidak membuat peringatan khusus pasca satu tahun tragedi tersebut. Semuanya tetap berjalan seperti biasa.

“Yang lalu mari kita jadikan pelajaran agar tidak terulang kembali dikemudian hari,” ujar Hanafi.

Dikatakan Hanafi, saat ini keselamatan dalam berlayar merupakan hal yang paling utama. pihaknya pun bersyukur, Pemko Tanjungpinang kembali menghibahkan jaket apung bagi organisasi penambang Pompong yang dipimpinnya.

”Kemarin sempat banyak hilang ini life jaket. Tapi alhmadulillah tiga bulan yang lalu di hibahkan lagi,” katanya.

Pihaknya, sambung Hanafi, tidak memungkiri sebelumnya masih ada penambang dan juga penumpang yang nakal tidak mau menggenakan life jaket saat hendak menyebrang. Namun, saat ini hal seperti itu tidak lagi terjadi. Sebab, di dermaga tersebut dijaga oleh petugas dari Dishub dan TNI AL.

”Kalau mereka tak mau pakai, tidak bisa nyebrang. karena tidak dikasih sama petugas yang mengawasi dan memantau hilir mudik penyebrangan disana,” ucapnya.

Untuk itu, Hanafi pun berpesan, kepada masyarakat yang hendak menyebrang ke Penyengat ataupun sebaliknya. Jika penambang pompong tidak menyediakan jaket apung. Agar meminta ataupun melaporkan hal tersebut kepada petugas yang berjaga disana.

”Utamakan keselamatan. Karena musibah bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Jangan mau menyebrang kalau tak dikasi life jaket,” pungkasnya. (ias)

Respon Anda?

komentar