ilustrasi

Suami-istri, Donwori, 38, dan Karin, 34, memiliki anak tiga. Mereka berjanji sehidup semati bersama. Kalau perlu kuburan pun satu liang lahat. Keduanya pun berusaha saling pengertian dengan kemampuan mereka.

”Suami saya itu dari kecil sakit-sakitan, kalau terlalu capek kerja sakit. Dia juga karakternya lebih kalem, beda banget dengan aku yang emang harus cepat dan cenderung tomboy,” kata Karin saat ingin membuat perjanjian sehidup semati kepada salah satu pengacaranya di depan kantor Pengadilan Agama (PA), klas 1A Surabaya, rabu (9/8).

Tampil dengan rambut pendek serta make up tipis, Karin yang bekerja sebagai marketing asuransi itu mengaku sangat mencintai suaminya. Padahal, banyak keluarga maupun tetangganya yang menyatakan suaminya tidak bisa diandalkan sebagai seorang suami. Selama lima tahun menikah, suaminya hanya tinggal di rumah dan merawat anak–anaknya.

Resign, memang saya suruh, tapi setelah itu sulit dapat kerja. Suami juga sakit-sakitan, aku tambah sayang karena meski sakit, suami itu selalu bantu pekerjaan rumah. Dia tidak pernah menyuruh aku ini itu. Bahkan, pagi dia sudah masakkan aku,” kata Karin dengan wajah berbinar.

Sebagai istri, awalnya Karin merasa hal itu sangat tidak adil bagi hidupnya. Ia melihat suami seharusnya yang bertanggung jawab mencari uang, namun justru karena kondisi fisik suami, maka semua tugas ia harus lakukan sendiri.

”Saya benar-benar tersiksa, tapi sekarang saya sudah mulai sadar. Rezeki suami istri itu bisa lewat mana saja, mungkin saat ini memang harus lewat aku,” kata Karin.

Saat tidak ikhlas menjalani tanggung jawab bekerja, warga Medokan itu justru sulit mencari nasabah, namun ketika ia mulai sadar, maka rezekinya makin lancar.

”Saya sadar, saya makin mencintai suami, hidup bahagia. Sekarang saya sudah tidak mendengarkan perkataan orang. Anak-anak saya juga sangat paham kondisi kami. Bagi saya, rezeki itu anak sehat dan hidup bahagia itu sudah cukup,” kata Karin.

Dalam kesempatan itu, Donwori juga mengaku ingin bekerja jika kondisi fisiknya kembali pulih.

”Saya itu merasa bersalah dengan istri karena tidak bekerja, tapi saya berharap saya bisa sehat seperti dulu sehingga tidak sakit-sakitan seperti ini,” harap Donwori.

Saat ini, ia fokus bertugas layaknya seorang istri di rumah. Ia mengambil alih tugas utamanya, seperti memasak, merawat anak-anak di rumah. ”Saya harus berikan terbaik kepada keluarga saya, mereka itu amanat yang dititipkan ke saya,” pungkasnya. (Umi Hany Akasah – Wartawan Radar Surabaya)

Respon Anda?

komentar