batampos.co.id – Camat Bunguran Tengah (Bungteng), Saidir mengatakan, masyarakat sudah mengharapkan adanya peningkatan sumber daya manusia di bidang tertentu sesuai kondisi sumber daya alam.

Di Natuna katanya, punya potensi pengembangan peternakan sapi. Salah satunya di Kecamatan Bunguran Tengah. Dan masyarakat berharap, pemerintah mendirikan sekolah bidang ilmu peternakan.

“Masyarakat berharap Pemerintah bangun SMK peternakan. Sesuai bidang ilmu dan potensi sumber daya alam yang mendukung,” sebut Saidir kemarin.

SMK peternakan ini kata Saidir, dinilai tepat untuk mendukung program ketahanan pangan diperbatasan. Sehingga diperlukan sumber daya manusia yang membidangi ilmu peternakan.

Saat ini katanya, Pemerintah juga minim sumber daya manusia di bidang peternakan. Menyebabkan peternak mengalami kendala dalam mengatasi persoalan ternak. Salah satunya peternakan sapi.

“Natuna kurang SDM dibidangtekni tertertentu. Dokter hewan saja ada berapa untuk melayani masyarakat peternak,” ujarnya.

Dikatakannya, saat ini Natuna memiliki beberapa sekolah kejuruan seperti SMK Kelautan, SMK Pertanian dan SMK Perminyakan untuk mencetak SDM yang memiliki keahlian khusus.

Akan tetapi menurutnya itu belum cukup karena Natuna juga harus memiliki tenaga ahli di bidang peternakan untuk mewujudkan swasembada pangan secara keseluruhan.

Maka kemarin kami mencoba mengusulkan untuk dibangun SMK Peternakan. Ini juga perlu, karena kalau kita berbicara pangan bukan hanya sebatas beras, sayuran dan ikan tapi juga daging, telur dan lain sebagainya. Jadi masing-masing harus ada ahlinya,” terang Saidir.

Menurutnya,  sektor peternakan di Natuna cukup prospek. Bahkan sektor ini juga bisa membuat Natuna sebagai daerah eksportir bila dikembangkan dengan baik.

Peluang disektor peternakan juga besar. Di Natuna masih didukung lahan luas dan ditambah semangat masyarakat juga tinggi dalam beternak.

Populasi sapi di Natuna disebutnya masih cukup tinggi dan peternakan lain. Bahkan populasi ternak sapi di kecamatan Bunguran Tengah saja tercatat sekitar 3.000 ekor pertahun. Belum di kecamatan lain yang juga memiliki potensi yang sama.

“Tapi sekarang belum bisa dikatakan swasembada karena masih ada pasokan dari luar, saya rasa salah satu penyebabnya terletak pada SDM yang kurang mumpuni dan sistem pengelolaanya. Dan perlu dibangun sekolah dibidang itu,” pungkasnya.(arn)

Respon Anda?

komentar