Ilustrasi. 

batampos.co.id – Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) sudah berakhir sejak Jumat (25/8). Mereka harus kembali lagi ke daerah asalnya dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Mereka ada yang dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dari Universitas Negeri Solo (UNS) maupun dari universitas terkemuka lainnya yang ada di Indonesia.

Dengan kembalinya 42 guru bantuan program Sm3T tersebut, maka Anambas kembali defisit tenaga pengajar. Meski sudah mendapatkan gantinya yakni dari Guru Garis Depan (GGD) sebanyak 38 orang namun jumlah tersebut belum mencukupi kebutuhan guru di Anambas.

“Untuk tenaga guru memang Anambas masih sangat kurang, terutama sekolah yang jauh dari pusat kota,” ungkap Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Anambas Asiah, usai acara pelepasan guru SM3T di gedung Balai Pertemuan Masyarakat Siantan (BPMS) Jumat (25/8).

Oleh karena itu Wakil Bupati Kepulauan Anambas Wan Zuhendra menginginkan jika ada kesempatan ingin Guru Tidak Tetap (GTT) yang ada di Kabupaten Kepulauan Anambas dapat diangkat menjadi PNS.

“Tenaga pendidik sangat kami butuhkan. Kami berharap agar Kementerian dapat memberikan bantuan tenaga pendidik di Anambas dan dapat melantik GTT yang ada di Anambas menjadi PNS,” ungkapnya. Pemkab mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para guru SM3T tersebut.

“Kami ucapkan terima kasih kepada para guru SM3T yang telah mengabdi di Anambas selama 1 tahun lamanya. Mudah-mudahan jasa guru SM3T menjadi pahala,” ungkapnya. (sya)

Respon Anda?

komentar