ilustrasi.

batampos.co.id – Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menetapkan dua kebudayaan dari Kabupaten Lingga yakni pengobatan tradisional Bejenjang dan Tari Inai sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia 2017. Hingga saat ini sudah 14 karya budaya dari Kepri yang ditetapkan jadi WBTB Indonesia.

Staf Pusdok Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepri, Dedi Arman mengatakan ada 28 karya budaya dari Kepri yang diusulkan namun yang lolos dan ditetapkan baru dua karya budaya.

“Harapannya ke depan makin banyak yang diusulkan. Makin banyak yang ditetapkan. Penetapan ini (WBTB, red) tujuannya untuk pelestarian nilai budaya. Supaya tak diklaim negara lain,” kata Dedi di Tanjungpinang, Jumat (25/8).

Dedi menyebutkan, sebelum penetapan WBTB, dilakukan pencatatan dan baru diusulkan ke Kemdikbud. Selama ini pencatatan karya budaya di Kepri masih minim. Dampaknya karya budaya yang diusulkan juga minim.

“Karya budaya yang diusulkan harus ada kajian terlebih dahulu. Ada video dan foto. Termasuk pelaku atau maestro,” ujarnya.

Dedi menambahkan, terdapat 79 karya budaya dari kepri yang masuk data base Kemendikbud. Namun yang ditetapkan baru 14 karya budaya. Perinciannya adalah Makyong, Gurindam 12, Gazal, Mendu, Pantun Melayu, Gubang, Gendang Siantan, Teater Bangsawan, Joget Dangkong, Tudung Manto, Gasing Kepri, Langlang Buana, Bejenjang, dan Tari Inai.

Dua karya budaya yang ditetapkan tahun ini adalah bejenjang. Bejenjang adalah pengobatan tradisional di Desa Mentuda, Kecamatan Lingga. Tarian ini kondisinya hampir punah. Sudah jarang ditampilkan karena tak ada lagi tetua yang dalam upacara berperan sebagai dukun (pawang).

Sementara Tari inai adalah tarian sakral dalam pelaksanaan upacara pengantin masyarakat Melayu di Kepri, Jambi dan daerah Melayu lainnya. Tari inai dibawakan penari yang tampil menggunakan properti atau perlengkapan berupa lilin. Tari inai antara daerah Melayu satu dan lainnya berbeda baik ragam, gerak sampai properti yang dibawakan. Di Jambi dibawakan berpasang-pasangan. Ada pula yang membawakannya secara tunggal.

Tari inai biasanya dibawakan malam hari setelah selesai salat Isya. Tari inai menjadi bagian penting dalam acara memberi tanda kepada pengantin. Gerak dalam tari inai memakai gerak level rendah. Geraknya bersumber dari gerakan silat.

Tari inai pemainnya biasanya laki-laki dan maksimal jumlahnya tiga orang. Karya budaya ini masih hidup dalam keseharian masyarakat Melayu Kepri. Usai lebaran, sebagaian besar masyarakat Melayu melangsungkan acara pernikahan. Di mana, bulan setelah lebaran dianggap bulan yang baik untuk melangsungkan tradisi pernikahan, khususnya bagi masyarakat Melayu Lingga dan Pulau Singkep. (cca)

Respon Anda?

komentar