ilustrasi
ilustrasi

Banyak cara untuk menjadi kaya. Yang normal dan masuk akal ya bekerja dan hidup hemat. Di era yang serba gelap gulita ini mau kaya cepat ya kalau enggak mau kerja keras ya menipu. Cara lainnya, yang dipercaya Donjuan yakni colong tali pocong untuk pesugihan.

Donjuan, 46, punya jadwal bulanan ke luar kota untuk mencuri tali pocong si penghuni kubur.

”Tidak tahu bojoku iku kesambet setan tekan endi. Biyen enggak pernah aneh aneh. Aku menerima hidup susah. Makan sepiring berdua pakai uyah (garam,red) saja sering. Gitu kok ya nduablek malah sekarang main pesugihan. Medeni (menakutkan,red),” kata istri Donjuan, si Karin, 49, pada sela sela sidang gugatan cerai di Pengadilan Agama (PA), Klas 1A Surabaya, Kamis (24/8).

Selama 15 tahun hidup dengan Donjuan, dia mengaku hidupnya memang susah super sengsara. Ibarat singkatan GLTL alias gali lubang tutup lobang. Meski demikian, ia mengaku suaminya sempat frustasi dan depresi bahkan sempat dirawat di rumah sakit jiwa.

”Suami itu tidak pernah menerima kenyataan, tiga tahun lalu keluar dari perawatan dokter kok malah sekarang kumat ke ritual colong tali pocong, lak mending colong tali kutang,” terang Karin.

Sampai gugatan ini turun, Karin belum mengetahui darimana ritual colong tali pocong itu bisa ditemukan suaminya. Pastinya, Donjuan berubah drastis setelah keluar dari rumah sakit jiwa.

Dari ritual itu, Karin mengaku banyak perubahan dalam perekonomiannya. Jika dulu hidup di rumah kontrakan sana sini, kini sudah memiliki rumah sendiri. Bahkan, rumah itu dibeli dengan uang tunai.

”Tali pocongnya disembunyikan di lemari sama suami. Pakai kembang kembang segala. Saya sih takut aja, lha kalau yang mati enggak terima aku lak yo susah. Enggak bisa tidur,” terang dia.

Sementara itu, Donjuan yang hadir dalam sidang gugatan cerai terlihat seperti orang linlung. Ia tidak berkomentar apa apa. Ketika diajak komunikasi juga tidak nyambung.

”Kenapa? Tidak apa-apa. Tidak ada apa apa. Terimakasih,” kata Donjuan yang pergi begitu saja ke depan kantor PA.

(Umi Hany Akasah – Wartawan Radar Surabaya)

Respon Anda?

komentar