Era digitalisasi tak bisa dibendung lagi. Terutama di kalangan anak muda Indonesia yang semakin melek teknologi. Namun butuh wadah mengembangkan dan menyalurkan kreativitas mereka, agar tidak liar dan tidak terjerembab dalam penyalahgunaan konten digital.

MUSIK Melayu itu mengalun lembut di Sabtu (19/8) pagi. Tiga remaja masuk ke area panggung dengan rentak gerak seirama dengan lagu tadi. Satu remaja pria, dua remaja putri. Ketiganya menggunakan konstum Melayu yang didominasi warna kuning. Lengkap dengan tanjak dan aksesoris lain, serta simbol-simbol kerajaan Melayu Riau-Lingga.

Mereka terus bergerak mengikuti irama, memainkan lakon masing-masing. Pagi itu, ketiga remaja itu; Abdul Rahman Tamyiz, Fanny Fitriyana, dan Elsa Mayori, sedang menarikan tarian melayu bertajuk “Engku Putri”. Sebuah tarian yang bercerita tentang penyerahan kekuasan kerajaan Riau-Lingga. Tamyiz berperan sebagai Sultan Mahmud III, Fanny sebagai Engku Putri (permaisuri), dan Elsa sebagai Engku Hamidah.

Engku Putri adalah permaisuri Sultan Mahmud III, Sultan Riau-Lingga yang berkuasa pada tahun 1762 hingga 1812. Dia dikenal berani melawan semua tekanan kekuasaan, baik dari dalam kerajaan Lingga, maupun tekanan Inggris dan Belanda. Bersama sang suami dia mempertahankan hak dan marwah kerajaan, kekuatan adat, dan budaya Melayu. Dia berjuang dengan kekuatan hujjah, hukum, norma, adat, dan kata-kata. Ia melawan senapan, kelewang, suap, dan meriam kekuasaan.

Ketiga penari yang duduk di bangku kelas XI atau kelas 2 Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Batam tersebut, sukses membawa unsur-unsur tersebut dalam tarian. Ratusan pasang mata remaja dari berbagai sekolah di Batam yang menyaksikan berdecak kagum. Bahkan, ratusan kamera telepon selular merekam gerakan tarian itu dari awal hingga akhir. Puluhan awak media juga mengabadikan momen itu.

“Tarian ini juga akan kami tampilkan pada Festival Lomba dan Seni Siswa Nasional (FLS2N) di NTT akhir September mendatang,” ujar Fanny usai tampil. Sebelumnya ketiganya juara FLS2N tingkat Kepri. “Kami berhak mewakili Kepri di tingkat nasional.”

FLS2N adalah gawean Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Kementerian Pendidikan. Namun, saat Fanny dan dua rekannya tampil di aula serba guna SMK Kartini Batam di Baloi Centre, Lubukbaja, Batam, Sabtu 19 Agustus lalu, itu bukan hajatan kementerian pendidikan, tapi besutan Telkomsel lewat program LOOP KePo (Kreatif Project). Telkomsel mengusung tema ‘Capture Your Awesome Moment of Activities’. Tujuannya mengajak LOOPers-sebutan pelanggan LOOP- untuk mengekspresikan berbagai keseruan tentang ekstrakurikuler dan hobi dari sekolah masing-masing melalui video.

Tak hanya wakil SMK Negeri 2 Batam yang ambil bagian dalam program yang dipusatkan di SMK Kartini Batam itu. Ada sejumlah sekolah menengah atas (SMA) dan SMK. Antara lain SMK Kartini, SMK Multistudi High School (MHS), SMAN 16, dan SMAN 17. Mereka hadir lengkap dengan para suporternya yang heboh.

Selain menampilkan seni dan budaya, ada juga yang menampilkan karya ilmiah di bidang fisika, kimia, maupun biologi. Tak ketinggalan atraksi baris-berbaris (paskibra), cheerleaders, musik, pantomim, dan beragam jenis tarian daerah dan tarian modern, serta atraksi menarik lainnya.

Siswa SMK Multi Study High Scholl menampilkan tari kreasi yang memadukan tarian tradisional dan modern saat tampil di acara Loop KePo Telkomsel 2017 yang diselenggarakan di SMK Kartini, Baloi, Sabtu (19/8). F. Yusuf Hidayat/Batam Pos

“Kami senang Telkomsel menyediakan wadah buat kami anak muda menyalurkan kreativitas kami,” ujar Tamyiz, sembari menyeka keringat yang bercucuran membasahi wajahnya, usai tampil.

Tamyiz menilai bergabung di komunitas LOOP KePo, bukan hanya membawa dia dan teman-temannya bisa mengembangkan dan menampilkan hasil kreativitasnya yang menjadi bagian dari kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya, wadah ini juga memberi ruang menambah teman dan ilmu dalam menghasilkan berbagai karya berbasis digital.

“Apalagi ada mentor-mentor yang ahli di bidang digital yang mau berbagi dengan anak muda seperti kami ini,” ujarnya.

LOOP KePo juga menghubungkan anak-anak muda kreatif dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari kota hingga ke pelosok negeri. “LOOP KePo menyatukan kami dengan banyak anak muda kreatif,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Dimas Fery, siswa kelas XI SMK Multistudi High School Batam. LOOP KePo tak hanya membuat dia dan teman-temannya di sekolah menjadi lebih kreatif, tapi mampu menghindarkan kami dari kegiatan-kegiatan yang tak bermanfaat dan negatif di luar sana. “Kreatifitas kami tersalurkan,” ujarnya.

Remaja yang mengambil jurusan Rekayasa Perangkat Lunak di SMK MHS tersebut memuji program LOOP KePo yang memberikan pencerahan pada anak muda tentang bagaimana menjadi kreatif tapi tak menyakiti atau melukai perasaan orang lain.

“Kami akhirnya bisa memanfaatkan teknologi secara positif, produktif, dan bertanggungjawab,” katanya.

Menariknya lagi, jika selama ini kreativitas yang dihasilkan di sekolah maupun di rumah hanya bisa dinikmati sendiri dan lingkungan sekolah atau teman-temannya saja. Kini dengan program LOOP KePo bisa dieksplore lebih luas lagi. Bahkan bisa diikutkan kompetisi sehingga menambah semangat untuk terus berkreasi.

Edy Prayitno, guru SMK MHS Batam juga menilai, LOOP KePo menjadi wadah yang sangat baik bagi anak muda menyalurkan kreativitasnya. Apalagi bukan hanya seni dan budaya yang diakomodir, juga kreativitas di bidang sains dan teknologi.

“Iya, menarik sekali, kreatifitas di bidang kimia, fisika, biologi, dan ilmu pegetahuan lainnya juga diakomodir di sini,” ujarnya.

Ia menyebutkan, di SMK MHS selama ini ada sekitar 20 kegiatan ekstra kurikuler yang bisa dipilih siswanya. Pilihan disesuaikan dengan bakat masing-masing. Namun, kreativitas yang selama ini dihasilkan hanya dikonsumsi untuk kebutuhan nilai dan hiburan di lingkungan sekolah. Kini dengan adanya wadah LOOP KePo, semua bentuk kreativitas bisa ditampilkan, bisa didiskusikan plus minusnya.

Bahkan bisa dikreasi dalam bentuk produk digital sehingga bisa dibagi dengan anak-anak muda kreatif di berbagai belahan wilayah Indonesia.

Tak sekadar berbagi, LOOP KePo juga memberi ruang anak-anak didiknya bertukar informasi dan berbagi ilmu untuk menghasilkan kreativitas yang lebih baik lagi.

“Luar biasa, wadahnya disiapkan, event-nya dibuatkan, mentornya didatangkan, penyalurannya jelas, sehingga semua ini membuat kami tenaga pendidik terbantu dan semakin semangat mendorong anak-anak didik kami berkreasi,” ujar Edy.

Ia berharap, berbagai program LOOP KePo bisa berkelanjutan karena teknologi terus berkembang sehingga wadah anak-anak muda kreatif menyalurkan karya tak terputus. Apalagi era digitalisasi saat ini sangat rawan anak-anak remaja salah memanfaatkan. Contoh sederhana kegemaran bermedia sosial. Jika tak diarahkan, bisa membuat beragam status yang ujung-ujungnya bisa menjerat mereka ke ranah hukum karena melanggar undang-undan IT dan ujaran kebencian.

“Kalau di LOOP KePo kan diarahkan, bahkan dibuatkan event dengan tema beragam dan selalu menyesuaikan perkembangan teknologi. Apalagi ada edukasi menggunakan produk digital menjadi lebih bertanggungjawab,” katanya.

***

Siswa SMKN 2 Batam menampilkan tari kreasi yang memadukan tarian tradisional dan modern saat tampil di acara Loop KePo Telkomsel 2017 yang diselenggarakan di SMK Kartini, Baloi, Sabtu (19/8). F. Yusuf Hidayat/Batam Pos

Sejak diluncurkan Telkomsel 9 Maret 2014, LOOP memang langsung mendapat tempat di hati anak muda Indonesia. LOOP bukan hanya pelengkap tiga brand unggulan Telkomsel lainnya yang lebih dulu hadir, yaitu kartuHalo, simPATI, dan Kartu As. Lebih dari itu LOOP memang dirancang untuk segmen anak muda. Khususnya yang berusia 12-19 tahun.

“Makanya sedari awal LOOP hadir dengan penawaran produk yang lebih menarik dan atraktif sesuai dengan selera segmen youth,” ujar Paulus Djatmiko, Executive Vice President Area Sumatera, Selasa (22/8).

Telkomsel melihat, segmen anak muda ini merupakan pasar besar dengan kebutuhan dan perilaku berkomunikasi yang unik. Segala bentuk penawaran yang diberikan, baik dalam layanan dan desain yang ditampilkan, betul-betul disesuaikan dengan selera anak muda.

Bahkan dari tampilan kartu perdana saja, didesai lebih energik, muda, penuh warna, dan kekinian. Tak hanya itu, Telkomsel juga merawat pelanggan anak mudanya (LOOPers) dengan memberikan banyak keuntungan. Mulai dari tarif telepon, SMS, dan paket data yang lebih murah.

Dari sisi kegiatan, LOOP menyelenggarakan berbagai kegiatan kreatif dengan nama LOOP KePo (Kreatif Project) yang mewadahi anak muda untuk mengembangkan bakatnya di bidang digital, seni, olahraga, sains, dan berbagai aspek lainnya.

Hal ini bisa dilihat dari berbagai kegiatan yang dihelat LOOP yang selalu dikonsep sesuai dengan selera anak muda.

Di awal-awal peluncuran misalnya, dibuat program musik bertajuk ‘One Million Dreams Concert’. Konser ini digelar serentak di 10 kota saat itu, yakni Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, Banjarmasin dan Makassar.

Kegiatan tersebut juga diawali kompetisi band antar sekolah. Para pemenang didaulat tampil diacara pembukaan konser tersebut. Karya musiknya juga dijadikan Nada Sambung Pribadi (NSP) sebagai bentuk apresiasi.

Tidak hanya konser, sesuai tema yang diusung saat itu: “Bersama, Beri Arti, Dalam Satu Aksi” LOOP mengumpulkan 1 juta mimpi dari anak-anak Indonesia tentang kemajuan pendidikan.

Mimpi itu dikirimkan ke laman loop.co.id. Di akhir program, mimpi generasi muda di bidang pendidikan LOOP dalam bentuk bantuan pendidikan kepada anak-anak yang terancam putus sekolah di pelosok tanah air.

Paulus juga menceritakan, dua bulan setelah diluncurkan, LOOP juga merangkul anak-anak muda yang punya keterampilan memainkan si bola bundar lewat program ‘LOOP Soccer FunFest’, sebuah program kompetisi sepak bola yang bertujuan menjaring bakat-bakat muda Indonesia di tingkat SMP dan SMA.

Kegiatan ini ditandai dengan aktivitas drop ball ribuan bola yang dilakukan
secara serentak di 12 kota tempat kompetisi berlangsung. Yaitu Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, Malang, Samarinda, Makassar, Manado, dan Jayapura.

Program ini melanjutkan program mimpi anak-anak muda Indonesia khususnya di bidang sepakbola. Mereka yang memiliki talenta saat itu diberi kesempatan bergabung pada “Elite Training Camp” di Jakarta. Telkomsel saat itu menggandeng pelatih timnas Indonesia U-19, Indra Sjafri untuk menjaring 100 pemain yang terpilih hasil seleksi selama kompetisi berlangsung.

Setelah di semester pertama 2014 sukses menggelar ‘One Million Dreams Concert’ di 10 kota secara serentak dengan metode live streaming, dan kompetisi mini soccer ‘LOOP Soccer FunFest’, barulah LOOP meluncurkan program terbarunya yang dinamakan LOOP KePo (Kreatif Project).

Program ini mengambil istilah ‘KePo’ yang lagi banyak digunakan di kalangan muda saat ini. Pada bahasa slang Indonesia, KePo merupakan istilah bagi mereka yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Sementara dalam konteks program ini, LOOP KePo bermakna Kreatif Project. KePo diasosiasikan dengan rasa ingin tahu tinggi yang positif.

“LOOP KePo inilah wadah khusus bagi anak muda menyalurkan kreativitas digital mereka. Karya mereka diunggah di website http://www.loop.co.id.,” ungkap Paulus.

Di laman ini mereka juga mendapatkan berbagai informasi kegiatan, informasi produk dan layanan serta berbagai informasi tengang aktivitas di sekolah mereka. Di laman ini juga dapat memberikan informasi dari berbagai program yang mereka inginkan, khususnya dalam bidang digital.

Paulus juga membeberkan, tak sekadar menyediakan wadah, tim LOOP KePo juga selalu melakukan roadshow ke berbagai sekolah di kota-kota tempat penyelenggaraan kegiatan anak muda yang ditaja Telkomsel. Termasuk mengunjungi tempat nongkrong mereka.

LOOPers juga selalu diajak bergabung di acara utama di tiap kota. Mereka bisa mengikuti pelatihan tentang Digital Writing dan Mobile Video, dengan menghadirkan pembicara yang berpengalaman.

“Kita pernah menghadirkan Joko Anwar, Pandji Pragiwaksono, Dewi Lestari, Raditya Dika, SkinnyIndonesian24, Bena Kribo, dan lainnya,” ujarnya.

Di acara besar tiap kota, LOOPers juga dapat menemukan berbagai inovasi teknologi selular terkini dan berbagai teknologi yang erat kaitannya dengan ekosistem digital.

Pada setiap program juga selalu digelar LOOP KePo Challenge. Temanya berbeda-beda setiap tahunnya. Di tahun pertama kehadiran LOOP KePo, digelar LOOP KePo Challenge bertajuk ‘Make Things Better Together’. Para LOOPers ditantang membuat karya dengan format ‘Mobile Video’ dan ‘Digital Writing’.

Di tahun kedua (2015), LOOP KePo membuat program yang tak kalah seru. Termasuk mengulas habis berbagai hal menarik seputar mobile video, digital music, dan digital writing.

LOOP KePo juga melakukan roadshow di 20 kota yakni Bogor, Palembang, Palu, Lampung, Cirebon, Tangerang, Pekanbaru, Jayapura, Banjarmasin, padang, Jakarta dan Samarinda, Jogjakarta, Malang, Semarang, Solo, Medan, Bandung, Surabaya dan Makassar.

Di masing-masing kota tersebut LOOP KePo mengunjungi sekolah-sekolah hingga tempat nongkrong. LOOPers juga diajak untuk bergabung di acara utama di tiap kota. Mereka dapat mengikuti coaching clinic tentang Mobile Video, Digital Music dan Digital Writing.

“Waktu itu kami hadirkan pembicara Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, Sacha Stevenson, Arif Muhammad (Poconggg), RAN dan GAC,” kata Paulus.

Tujuan dari semua itu, LOOPers di Indonesia tidak hanya menjadi konsumen dari berbagai aplikasi digital, tapi juga mampu menjadi pencipta (kreator) dari konten-konten tersebut.

Masih di tahun kedua, LOOP KePo, juga menggelar kegiatan anak muda berskala besar. Antara lain, ‘LOOP KePo Big Bang 2015’. Pesta digital ini diadakan untuk merayakan semangat kreatif anak muda yang telah berani menciptakan konten kreatif digital yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas.

Konten kreatif itu mulai dalam hal desain, penulisan, video, aplikasi, dan lainnya. Targetnya konten kreatif yang dibuat anak muda itu berkualitas dan dapat menembus pasar global.

“Waktu itu kita gelar di empat kota, yaitu di Medan, Bandung, Surabaya, dan Makassar,” kenang Paulus.

Di empat kota itu, para LOOPers juga diberi kesempatan mengikuti YouTube Broadcast Box dimana para pengunjung dan kreator dapat mempelajari kemudahan membuat dan mengunggah video ke situs YouTube dengan panduan langsung dari pakar video.

“Kita juga buatkan workshop dengan menghadirkan para pakar dari YouTube mengupas tiga hal yang paling banyak ditanyakan oleh kreator, yaitu teknis mengembangkan channel melalui YouTube Partnership Program, cara memaksimalkan fitur dan video di YouTube, serta penjelasan seputar copyright konten di media maya,” tutur Paulus.

LOOP KePo Challenge juga digelar dengan tema “The Story of Our (Youth) Life”. LOOPers ditantang membuat karya dengan format Mobile Video, Digital Music dan Digital Writing, dan lalu mengunggah karya-karyanya ke www.loop.co.id/kepo.

Di tahun ketiga (2016), keheboan dari LOOP KePo terus berlanjut. LOOP KePo Challenge saat itu menggelar ‘Video Project’ antar sekolah. Pada puncaknya digelar LOOP KePo BigBang.

Tak hanya itu, LOOP KePo juga melakukan roadshow di 400 sekolah di 50 kota
dari barat hingga timur Indonesia. Tujuanya,kita ingin mengajak lebih banyak LOOPers belajar lebih dalam tentang proses menciptakan konten digital,
terutama video, yang baik dan menarik.

“Banyak sekali kegiatan kita gelar di tahun 2016, tahun ketiga LOOP,” kata Paulus.

Bagaimana dengan 2017, Paulus menjelaskan kegiatannya tak kalah banyak. Bahkan belum lama ini, LOOP menggandeng Gramedia menggelar Simulasi Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2017 Serentak di 44 Kota di Indonesia.

Simulasi dipusatkan di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Seluruh aktivitas simulasi di 43 kota lainnya ditayangkan secara langsung pada layar besar dan live streaming di laman LOOP www.loop.co.id.

Simulasi SBMPTN ini tidak hanya dapat diikuti pelajar kelas XII SMA/SMK. Para pelajar yang masih duduk di kelas XI serta mereka yang sudah lulus SMA/SMK juga diperkenankan untuk mendaftarkan diri dan menguji kemampuannya dalam mengerjakan soal SBMPTN.

Kegiatan ini berhasil mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Simulasi SMBPTN Pertama yang Menggunakan QR Code untuk Pendaftaran Peserta. Pendaftaran saat itu dilakukan secara online di website LOOP di www.loop.co.id. Setelah melakukan pembayaran, pendaftar lalu mendapatkan SMS dan e-mail berisi link QR code, yang kemudian mereka gunakan ketika melakukan registrasi ulang simulasi SBMPTN.

“Jadi kegiatannya banyak aspek namun tetap dalam segmen anak muda. Simulasi SBMPTN tadi contohnya,” kata Paulus.

Rangkaian roadshow LOOP KePo 2017, Paulus menyebutkan kegiatannya dilaksanakan sampai September 2017 di sekolah-sekolah di lebih dari 50 kota di Indonesia. Di Batam dipusatkan di SMK Kartini.

Di kota tertentu dihadirkan juga mentor ternama seperti Skinny Indonesian 24 dan Shalsabilla. Mereka akan membahas topik seputar pembuatan video digital dan berbagai tips dan trik untuk menghasilkan konten video yang berkualitas. Pada kesempatan yang sama, para LOOPers juga boleh unjuk kebolehan mereka di depan teman-teman sekolahnya dengan menampilkan berbagai penampilan yang menarik.

Tahun ini, LOOP KePo Challenge juga tetap digelar. Temanya, ‘Capture Your Awesome Moment of Activities’. Dengan tema ini, para LOOPers ditantang untuk mengekspresikan keseruan mereka dengan kreatif dalam aktivitas ekstrakurikuler maupun kegiatan hobi lainnya di lima kategori yang bisa dipilih, yaitu Seni Budaya, Komunikasi, Sains, Olahraga dan Organisasi. Video hasil karya tersebut dapat langsung diunggah di www.loop.co.id/kepo.

“Jadi kalau direview sejak diluncurkan 2014, LOOP KePo sudah mengunjungi lebih dari 600 sekolah di 50 kota di Indonesia. Bahkan tahun lalu lebih dari 145.000 submission berhasil terkumpul lebih dari 1.200 sekolah yang ambil bagian,” sebut Paulus.

Hal senada dikatakan oleh Manager Telkomsel Branch Batam, Agus Pramono. “Sesuai tagline-nya ‘Ini KITA’, LOOP juga berkomiten memberikan nilai lebih kepada anak muda Indonesia, dengan terus memberikan wadah kepada mereka untuk mengekspresikan dan mengembangkan dirinya,” ujar Agus.

Agus menambahkan, melalui LOOP KePo, generasi muda juga semakin luas pergaulannya, khususnya dengan anak-anak muda yang kreatif. Bahkan, melalui laman www.loop.co.id, anak-anak muda bisa berbagi pengetahuan di bidang konten digital, maupun bidang pendidikan.

“Di sana mereka menyatu, berbagi ide, pengetahuan agar bisa menciptkan konten digital yang bermanfaat,” kata Agus.

Dengan LOOP KePo, anak muda tidak hanya diarahkan menjadi kreatif dalam menghasilkan dan pengembangan produk digital, tapi juga bisa memanfaatkan teknologi dengan positif dan produktif melalui berbagai layanan digital Telkomsel.

“Telkomsel melalui LOOP tetap konsisten memberikan wadah kepada anak muda untuk terus berkarya dan mengembangkan kreatifitasnya secara positif hingga ke pelosok negeri,” kata Paulus.

***

Mahmud Syaltut, psikolog yang juga komioner Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri mengatakan anak-anak muda khususnya yang berusia remaja (12-19 tahun) memang sangat membutuhkan wadah pegembangan dan penyaluran kreativitas mereka.

“Kreativitas itu bagian dari aktualisasi diri si remaja. Butuh kompensasi berupa wadah, agar kreativitas mereka bisa dihargai,” ujar Syaltut.

Jika tak memiliki wadah yang tepat, Syaltut khawatir remaja-remaja kreatif itu bisa terjerumus pada hal-hal negatif. “Kreativitas itu bukan hal negatif, tapi kalau tak punya wadah, bisa ke hal-hal negatif,” katanya.

Apalagi saat ini, mayoritas anak muda melek teknologi internet. Bahkan bisa dikatakan tak ada lagi yang tak memiliki gawai (gedget). Data lembaga riset pasar e-Marketer, warganet (netizen) di Indonesia populasinya sudah menembus angka 102,8 juta orang pada 2016. Di atasnya ada Tiongkok (700,1 juta), India (283,8 juta), Amerika Serikat (264,9 juta), Brazil (119,8 juta), dan Jepang (104,5 juta).

Namun tahun 2017 ini, e-Marketer menaksir warganet Indonesia bisa mencapai 112,6 juta orang. Bisa menyalip Jepang di peringkat ke-5 yang pertumbuhan warganet-nya lebih lamban. Bahkan di tahun 2018 diperkirakan warganet Indonesia akan ada di atas angka 123 juta orang.

Syaltut yakin paling banyak mengakses internet atau bersentuhan langsung dengan teknologi digital adalah kalangan anak muda, khususnya untuk kebutuhan sosial media. Apalagi ponsel dan koneksi broadband mobile saat ini semakin terjangkau. Bahkan koneksinya menembus hingga ke pelosok negeri.

Selain itu, yang paling suka membuat konten-konten digital juga anak-anak muda. Mulai dari sekadar mengotak-atik gambar atau foto (meme), video, hingga konten digital lainnya.

Teknologi digital tak bisa dibendung lagi. Namun Syaltut mengingatkan jika anak muda tidak diarahkan, tidak ada wadahnya, tidak ada kegiatanya, tidak ada tempat untuk berkompetisi terhadap konten yang mereka hasilnya, akhirnya disalurkan ke media sosial begitu saja.

“Jika konten itu positif aman-aman saja, tapi kalau negatif bisa terjerat hukum karena melanggar undang-undang IT atau ujaran kebencian,” kata Syaltut.

Ia mengapresiasi langkah Telkomsel yang sudah empat tahun terakhir konsisten menggelar program LOOP KePo yang menjadi wadah bagi anak muda kreatif di Indonesia untuk mengembangkan kreativitasnya. Bahkan membuatkan eventnya, mengajari membuat konten yang positif dan bertanggungjawab, menyalurkan konten yang dihasilkan, membuatkan wadah kompetisinya, dan membimbing langsung anak-anak muda dengan mendatangi sekolah-sekolah mereka untuk memberikan edukasi dengan melibatkan para pakar.

“Apa yang dilakukan Telkomsel yang menyediakan wadah bagi anak muda kreatif lewat LOOP KePo-nya, itu wujud nyata apresiasi terhadap anak muda yang mampu menghasilkan produk kreatif,” ujarnya.

Dengan begitu, anak muda terhindar kegiatan negatif, seperti pergaulan bebas, narkoba, dan perbuatan negatif lainnya.

“Ini positif sekali. Bisa jadi model percontohan dalam pengembangan kreativitas digital anak muda di berbagai bidang untuk lembaga lainnya,” ujar Syaltut.

Pria yang sehari-hari juga sebagai konsultan pendidikan ini berharap pada orangtua, saat anak-anak mereka menekuni dunia digital atau teknologi informasi, jangan pernah mengkonotasikan dengan hal-hal negatif. Bahkan seorang anak hiperaktif di bidang teknologi sekalipun, jangan dianggap negatif. Anak-anak seperti itu justeru butuh dukungan dengan mencarikan wadah yang tepat.

“Jika ada wadahnya, maka mereka menemukan dunianya, dan itu sangat positif sekali. Siapa yang menolak teknologi maka dia akan tergusur,” ujarnya.

Sambutan positif juga diutarakan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri Arifin Nasir. Apalagi, tidak hanya mencakup seni dan budaya, tapi sudah lebih luas. Ada Komunikasi, Sains, Olahraga, dan Organisasi.

“Positif sekali. Saya sangat berharap tak hanya Telkomsel, pihak lainnya juga berperan dalam pengembangan kreativitas anak muda,” katanya, Rabu (23/8).

Mantan Kadisdik Batam ini mengatakan, tanggungjawab menciptakan generasi muda kreatif, inovatif, dan bertanggungjawab, bukan hanya hanya di tangan pemerintah dalam halini lembaga pendidikan, tapi semua kalangan. Menurutnya, pemerintah memiliki keterbatasan.

Arifin melihat program LOOP KePo ini sangat bagus karena bisa menjangkau hingga ke pelosok negeri. Termasuk sekolah-sekolah di hinterland atau pulau-pulau terluar di Kepri. Jaringan selular yang kuat dan menjangkau hingga ke pelosok dan perbatasan negara tetangga, memungkinkan anak-anak muda kreatif di daerah pulau terpencil berpartisipasi menghasilkan konten digital. Apalagi konten itu bisa ditampung dengan cukup mengunggah ke laman yang telah disediakan.

“Tapi untuk lebih mantap lagi, sebaiknya untuk event dan edukasi tentang cara menghasilkan konten digital yang berkualitas, turun hingga ke pulau-pulau terluar karena fasilitas dan peralatan anak-anak di pulau terluar belum secanggih anak-anak muda di kota-kota besar,” pinta Arifin.

Ia juga berharap program LOOP KePo dengan banyak rangkaian kegiatan tak terputus hingga tahun keempat saja. “Mudah-mudahan bisa konsisten dan terus menerus sehingga menjangkau semua sekolah di Indonesia, khususnya di Kepri ini,” pinta Arifin.

Kapolda Kepri Irjen Sam Budigusdian juga menyambut positif program LOOP KePo Telkomsel. Menurutnya, anak-anak muda saat ini memang sudah sangat melek teknologi. Namun kadang mereka menyalurkan kreativitasnya dengan cara yang salah. Kapolda mencontohkan pembuatan meme yang sifatnya mengejek, konten video yang diedit dengan tujuan negatif, dan lainnya yang diunggah di media sosial bisa membahayakan si anak muda dan orang lain.

“Kalau ada wadahnya kan mantap. Paling tidak, mereka bisa terhindar dari penyalahgunaan konten digital negatif, sehingga tidak terjerat UU IT atau ujaran kebencian. Sayang kan anak muda kreatif masuk penjara gara-gara salah penyaluran kreativitas mereka,” ujar Sam.

Orang nomor satu di kepolisian daerah Kepri ini juga berharap wadah kreativitas anak muda seperti yang dibuat Telkomsel dipertahankan dan diperbanyak event-nya, diperluas lagi jangkauannya hingga ke semua pelosok negeri. Supaya makin banyak anak-anak muda, khususnya remaja jadi kreator digital, agar terhindar dari perbuatan negatif.

“Semakin banyak wadahnya, semakin baik. Jangan sampai jempol anak muda jadi ‘harimau’ dia karena tak punya wadah penyaluran,” katanya.

Manager Corporate Communication Telkomsel Sumatera, Hadi Sucipto, mengatakan Telkomsel melalui program LOOP KePo selalu konsisten mendorong anak muda Indonesia jadi kreator digital. Program ini akan terus berlanjut dan setiap tahunnya jumlah anak muda kreatif yang dirangkul di seluruh penjuru negeri terus bertambah.

“Jenis dan jumlah rangkaian kegiatan juga semakin banyak, semua terkait dengan anak muda,” ujarnya.  (MUHAMMAD NUR, Batam)

Respon Anda?

komentar