batampos.co.id – Perampok yang menikam warga Perumahan Taman Harapan Indah Bengkong, Lia Astuti hingga tewas ternyata sudah kenal lama dengan korbannya. Hal tersebut dibenarkan oleh tetangga sebelah rumah korban, Buya Muda Budiman.

“Pelaku namanya Khaidir. Ia pernah tinggal di sini, Perumahan Taman Harapan Indah Bengkong sebelum saya tempati ini. Siangnya sebelum menikam ibu Lia Astuti, Khaidir ini datang kemari dikenalkan korban ke saya,” ujar Buya, panggilan akrabnya.

Dari cara bicaranya, lanjut Buya, pelaku sudah kenal akrab dengan korban. Khaidir datang siang hari menjumpai Lia, hendak meminjam uang. Kepada Lia, Khaidir mengaku kalau uang yang akan dipinjamnya itu, untuk biaya berobat istrinya yang lagi sakit parah di Jember.

“Bahkan sebelum pelaku pulang sian itu sempat bertemu dengan saya duduk di rumah yang saya tinggali. Khaidir bahkan sempat minta obat untuk istrinya yang katanya lagi sakit. Ibu Lia itu juga meminta tolong ke saya agar saya kasih obat ke Khaidir. Saya kasih lah air mineral yang sudah saya kasih doa-doa bacaan alquran. Setelah itu air tadi dibawa pulang oleh pelaku,” terang Buya.

Malamnya, Buya yang saat itu lagi mendapatkan undangan untuk menikahkan orang di Tanjunguma mendapatkan telepon dari adiknya, Ilham yang mengabari kalau tetangga sebelah rumahnya, Lia Astuti hendak dirampok dan ditikam orang hingga tewas.

Pelaku Kalah saat Diajak Duel Warga

Khaidir, perampok yang menikam Lia Astuti yang sempat melarikan diri dan bersembunyi usai menikam, mampu dibekuk satu warga Perumahan Taman Harapan Indah Bengkong setelah kalah diajak berduel atau berkelahi.

Saksi kunci yang mampu meringkus pelaku dengan tangan kosong setelah berduel adalah Ilham, 21, pemuda asal Aceh Selatan yang tinggal di Perumahan Taman Harapan Indah sebelah rumah korban.

Ilham mengetahui kejadian perampokan dan penikaman itu setelah korban berteriak minta tolong. Teriakan itu didengar Ilham yang kebetulan lagi berada di depan rumah yang ia tempati.

“Ibu Lia awalnya sempat ngobrol dengan saya malam sebelum tertikam pelaku. Di depan rumah saya, korban usai nonton pertunjukan orgen tunggal. Ia berhenti setelah tahu saya ada di depan rumah. Saya sempat tanya, bu Lia, sudah malam kok masih diluar rumah. Segeralah masuk rumah, nggak baik perempuan malam hari masih diluar rumah. Tak lama, korban pulang masuk ke rumah dan sempat menutup pintu gerbang pagar besi rumahnya dan menggemboknya,” ujar pemuda jebolan pondok pesantren di Aceh ini.

Saat Ilham akan masuk rumah, Ia mendengar jeritan korban yang memanggil namanya dan meminta tolong.

ilustrasi

“Teriakan itu kencang suaranya. Korban teriak Ilham toloong.. saya ditikam orang. Dengar korban minta tolong, saya bergegas keluar rumah dan berlari hendak masuk ke rumah korban. Ternyata pintu pagar besi rumahnya sudah dikunci gembok. Sehingga saya tak bisa masuk rumahnya,” terang Ilham.

Tahu pagar besi pintu rumah korban tergembok, Ilham mencoba memanjat pagar rumah. Belum sempat masuk ke teras rumah korban, di hadapannya, Ilham menyaksikan pelaku menghujamkan pisau ke tubuh korban berkali-kali.

“Saat lompat masuk ke teras rumah, pelaku yang melihat kedatangan saya, langsung berlari ke arah saya dan menikamkan pisaunya ke tubuh saya. Beruntung saya dapat mengelak dan berbalik menendang tangan kanan pelaku hingga pisau yang digunakan menikam korban terjatuh di lantai,” ujar Ilham.

Begitu pisaunya terjatuh, pelaku mencoba melarikan diri dengan memanjat pagar besi sisi samping rumah korban dan berlari ke arah belakang perumahan. Ilham yang sempat melawan pelaku, terus memburunya dan mengejar kemana arah larinya pelaku.

“Tepat dibelakang perumahan ini kan tanahnya tebing curam dan tinggi. Saya lihat pelaku yang lari saya kejar itu nekat turun ke semak-semak tebing tersebut lalu kabur ke arah depan di jalan raya dengan menyisir lapangan futsal ini. Sebelum saya kejar pelaku, saya sempat teriak minta tolong ke warga. Warga pun banyak yang keluar setelah dengar teriakan saya,” ujar Ilham.

Meksi sudah banyak warga yang keluar rumah, tak satupun warga yang berani membantu Ilham turun ke tebing mengejar pelarian pelaku. Akhirnya Ilham dengan tangan kosong nekat mengejar dan mencari pelaku yang bersembunyi.

“Untuk kaki saya tak kena pecahan kaca beling. Karena di tebing banyak pecahan kaca. Saya sisir itu tebing bersebelahan dengan lapangan futsal. Saya hanya bawa ponsel yang saya nyalakan lampunya. Saya ikuti jejak kaki pelaku berlari di lumpur-lumpur. Begitu mendekati salah satu bangunan ruko di bawah Perumahan Taman Harapan Indah ini, Saya mendapati pelaku bersembunyi telungkup di rerumputan dekat parkiran lori-lori,” terang Ilham.

Begitu tahu dan yakin yang bersembunyi adalah penikam tetangganya, Ilham langsung menginjak kepala pelaku. Kaget karena kepala diinjak, pelaku langsung berdiri dan berkelahi dengan Ilham.

Meski kalah jauh tinggi dan besarnya badan pelaku, Ilham tetap melakukan perlawanan. Hasilnya, pelaku kalah dan memohon ampun ke Ilham. Saat terjadi perkelahian yang harusnya tak seimbang itu, Ilham melumpuhkan pelaku dengan menghantamkan kepalan tangannya tepat mengenai tenggorokan pelaku.

“Begitu saya pukul tenggorokannya, pelaku lemas dan sesak napas. Tahu pelaku sudah lemah, saya ambil kayu balok yang ada didekat saya dan saya pukulkan ke kedua kaki pelaku. Dari situlah pelaku mohon-mohon ampun ke saya,” ujar pemuda yang memiliki kemampuan bela diri dari kecil ini.

Kepada Ilham, Khaidir mengaku nekat menikam Lia, karena ingin memiliki perhiasan korban. Ia beralasan nekat merampok korban karena butuh biaya untuk perobatan anak dan istri pelaku yang lagi sakit keras di Jember.

Mengetahui pelaku dapat dibekuk Ilham, sekuriti perumahan dan warga berbondong-bondong mendekati pelaku dan sempat pelaku dipukuli warga. Tak lama, sekuriti perumahan melaporkan aksi pelaku ke kepolisian.

Sementara, korban sendiri usai ditikam pelaku, sempat keluar rumah dan meminta tolong tentangga yang ada di depan rumahnya. Namun sayang, sebelum dibawa ke rumah sakit, korban sudah tewas terlebih dahulu dengan empat luka tusukan di punggung sisi kiri, dada sisi kanan, perut tengah, pinggang kiri serta satu luka sayatan di jari tangan sebelah kiri.

Apakah pelaku beraksi seorang diri atau ada rekannya yang membantunya, sampai saat ini polisi masih mendalami hal itu. Pelaku saat ini masih dalam perawatan di RS Budi Kemuliaan setelah sempat dihakimi warga dan kalah duel dengan salah satu pemuda di Perumahan Taman Harapan Indah Bengkong. (gas)

 

Respon Anda?

komentar