batampos.co.id – Tanjungpinang sebagai ibu kota provinsi Kepri memiliki sejumlah perguruan tinggi negeri maupun swasta. Kerap pula menjadi rujukan belajar anak-anak pulau untuk menuntut ilmu. Bagi Iskandarsyah, fakta sedemikian adalah bonus demografi yang menguntungkan jikalau disikapi dan diperhatikan dengan benar.

Ketua Fraksi PKS DPRD Kepulauan Riau ini juga beranggapan, pemberdayaan kampus-kampus di Tanjungpinang itu akan menjadikan kota ini sebagai kota pendidikan di Kepulauan Riau.

“Wajar jika Tanjungpinang sebagai ibu kota Provinsi Kepri menjadi pusat pendidikan, yang menampung ribuan mahasiswa dari berbagai pulau,” kata Iskandarsyah, kemarin.

Ia mengatakan jumlah kampus di Tanjungpinang dalam sepuluh tahun terakhir semakin meningkat. Saat ini di Tanjungpinang ada Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pembangunan, Sekolah Tinggi Agama Islam Mifta Ulum, Sekolah Tinggi Kesehatan Hang Tuah, Politeknik Kesehatan Tanjungpinang dan Universitas Maritim Raja Ali Haji.

Kampus harus memiliki energi yang kuat dalam meningkatkan sumber daya manusia. Energi itu tidak hanya bersumber dari para dosen, melainkan seluruh unsur di dalam kampus sehingga mampu melahirkan sumber daya manusia yang unggul di bidang tertentu.

Untuk melahirkan SDM yang andal, kata dia, lembaga pendidikan tinggi di Tanjungpinang harus memiliki keunggulan tertentu. SDM yang lahir dari perguruan tinggi yang baik tidak akan sulit mendapatkan pekerjaan atau pun membuka usaha sesuai keahliannya.

“Seandainya saya diberi peluang untuk mencalonkan diri sebagai wali kota di Tanjungpinang, dan menang dalam pilkada, hal pertama yang saya lakukan adalah mendekati pihak kampus. Kampus adalah sumber pengetahuan, tempat generasi penerus bangsa mendapatkan pendidikan,” katanya, yang juga alumni SMAN I Tanjungpinang.

Iskandar mengemukakan pemerintah pusat dan daerah juga bertanggung jawab mengembangkan kampus swasta dan negeri sehingga memiliki daya saing. Pemerintah jangan hanya bermimpi dan beretorika dapat membangun SDM yang unggul tanpa bersinergi dengan pihak kampus.

Saat ini, banyak permasalahan yang dihadapi kampus. Permasalahan yang dihadapi pihak kampus seharusnya diselesaikan dari hulu ke hilir tanpa mengganggu independensi kampus.

“Permasalahan kampus seharusnya menjadi bagian dari permasalahan pemerintah, yang harus diselesaikan bersama,” ucapnya.

Kampus tidak hanya membutuhkan anggaran, melainkan perhatian dan sentuhan pemerintah agar dapat berkembang pesat. Contohnya, permasalahan lahan Kampus Univeritas Maritim Raja Ali Haji seharusnya segera diselesaikan sesuai ketentuan yang berlaku. Bagi Iskandar, permasalahan tanah itu tidak sulit diselesaikan jika ada keinginan untuk menyelesaikannya karena sudah ada regulasinya.

Begitu juga sebaliknya, pemerintah kerap “diserang” banyak permasalahan, yang seharusnya dapat dibantu diselesaikan melalui kajian dan analisa dosen-dosen yang ahli.

“Membangun Tanjungpinang harus dari kampus. Kampus harus dikembangkan, dan didorong bersinergi dengan berbagai pihak,” katanya. (aya)

Respon Anda?

komentar