Kasat Reskrim Polres Karimun, AKP Lulik Febyantara (tengah) menunjukkan tersangka dukun cabul dan barang bukti yang digunakan pada saat melaksanakan praktek perdukunan di Tanjungbalai Karimun. F Sandi/Batam Pos.

batampos.co.id – Satreskrim Polres Karimun berhasil menangkap dukun cabul, Ismail di Tembilahan Sabtu (26/8). Penangkapan tersebut berdasarkan laporan polisi nomor LP-B/81/II/2017 yang dilaporkan oleh korban di bawah umur berinisial AP, 17, yang terjadi pada bulan lalu.

“Berdasarkan penyelidikan yang kita lakukan, diketahui bahwa tersangka dukun cabul, Ismail berada di Tembilahan. Maka anggota kita langsung bergerak ke tempat tersangka. Namun pada saat tiba di sana, tersangka tidak ada, melainkan sedang berada di rumah warga lainnya yang meminta bantuan pengobatan pada tersangka,” ujar Kasat Reskrim Polres Karimun, AKP Lulik Febyantara kepada Batam Pos, Selasa (29/8).
Sempat terjadi katanya,

Pada saat akan diamankan, tersangka berlindung pada warga yang ingin meminta bantuannya tersebut. Mulanya sempat terjadi perlawanan. Namun setelah dijelaskan oleh anggota Polres Karimun yang akan melakukan penangkapan dengan penjelasan bahwa Ismail sedang tersangkut masalah hukum, akhirnya Polisi berhasil membawa tersangka ke Tanjungbalai Karimun untuk menjalani proses hukum.

“Mulanya tersangka tidak mengakui perbuatannya. Namun pada saat penyidik mulai melakukan pemeriksaan secara intensif dan juga pemeriksaan korban, akhirnya tersangka mengakui telah melakukan pencabulan terhadap AP. Untuk itu saat ini tersangka dijerat dengan undang-undang tentang perlindungan anak dengan ancaman pidana penjara di atas lima tahun,” paparnya.

Menyinggung kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur, Lulik menyebutkan, kejadiannya berawal dari salah seorang ahli keluarga dari AP yang menggunakan jasa pengobatan tersangka.

“Singkatnya, tersangka menyatakan kepada keluarga tersangka bahwa di badan ahli keluarga korban ada barang yang “dipasang” seseorang sehingga harus dikeluarkan. Pada saat itu, tersangka berpura-pura berhasil mengeluarkan paku dari dalam tubuh pasien tersebut. Tetapi disebutkan belum cukup, sebab masih ada barang di dalam diri korban. Untuk bisa dikeluarkan semua, maka harus ada anak perawan yang diserahkan sebagai media untuk mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam tubuh,” jelasnya Lulik.

Ternyata, menurut Lulik, tidak disangka oleh ahli keluarga korban ternyata tersangka mempunyai niat lain. Seolah-olah korban AP menjalani proses sebagai media pengobatan, dengan mata tertutup akhirnya korban dicabuli sebanyak tiga kali. Setelah korban menceritakan hal ini kepada ahli keluarganya, akhirnya hal ini dilaporkan ke polisi. Pada saat diamankan, ditemukan barang bukti keris, ratusan jarum yang sudah berkarat, satu kain kafan, satu botol minyak dan sebuah kotak berisi tanah kuburan. (san)

Respon Anda?

komentar