Petugas dari BNN Kota Tanjungpinang memeriksa urine warga lokalisasi, kemarin. F.Slamet/Batam Pos.

batampos.co.id – Sejumlah pekerja seks komersial (PSK) ngumpet di kamar saat petugas dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tanjungpinang menyeruduk ke lokalisasi Batu 24, Toapaya Selasa (29/8) siang. Rata-rata mereka ngaku takut apabila hasilnya positif narkoba justru akan ditangkap.

Guyuran hujan merata membasahi Bintan sejak pagi kemarin. Beberapa pekerja seks komersial di lokalisasi Batu 24 Toapaya terlihat berleha-leha di teras kafe tempat mereka bekerja. Sebagian lagi masih tidur pulas karena malamnya telah melayani
para lelaki hidung belang.

Tepat sekitar pukul 10.00, beberapa pekerja seks komersial mulai
keluar dari tempat induk semangnya. Wajahnya sudah berpoles bedak tebal, dan umumnya berpakain ketat. Ditemani rintik air hujan, mereka yang berjalan berkelompok menuju ke klinik Bukit Indah untuk menjalani pemeriksaan rutin tes darah untuk pemeriksaan HIV AIDS dan lainnya.

Di luar dugaan ternyata siang itu, di ruangan belakang, sejumlah
petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tanjungpinang sudah siap dengan tabung silinder untuk menampung urine. Ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah ada warga lokalisasi yang positif pengguna narkoba.

Sementara di ruang depan, kursi panjang yang terbuat dari kayu telah tersisi warga lokalisasi. Mereka duduk tersipu malu saat wartawan dengan bersanding kamera masuk ke ruangan. Rata-rata mereka menutup wajah untuk menghindari dari lensa kamera.

Adalah Indah, sebut saja demikian, salah seorang warga lokalisasi yang mengikuti tes HIV dan AIDS dan urine. Wanita yang menggenakan pakaian kaos abu-abu itu mengatakan, baru pertama ikut tes urine dan darah. Meski baru pertama, ia merasa tidak canggung.

Satu per satu pekerja seks komersial dipanggil, untuk diambil sampel darahnya. Saat itu, seorang petugas kehilangan dua orang, karena saat dipanggil, orangnya sudah kabur. “Sudah kami daftar, tapi sepertinya kabur,” kata Novi petugas Puskesmas Toapaya.

Ia mengatakan, pemeriksaan sampel darah untuk tes HIV AIDS dilakukan per tiga bulan, sedangkan pemeriksaan spilis 6 bulan sekali. Selain itu ada juga pemeriksaan intim vagina anda (IVA). Disinggung hasil pemeriksaannya, ia mengatakan, tidak bisa dipublikasikan, karena penderita HIV AIDS sifatnya rahasia.

Namun, bagi warga yang terjangkit akan ditangani semestinya.
Kasi Rehabilitasi BNNK Tanjungpinang, Sri Burdiningsih mengatakan, tes urine ini baru pertama dilakukan di lokalisasi Batu 24 Toapaya.

Dari 33 orang yang diperiksa, 1 orang terindikasi pengguna narkoba jenis sabu. Ia menyebutkan, seharusnya yang mengikuti tes urine sebanyak 80 orang, tapi yang datang hanya 33 orang. Maka itu, ia berencana akan melakukan door to door.

“Banyak yang kabur dan sembunyi, tapi juga banyak yang tidak datang karena ada warga di sini yang meninggal, mungkin banyak yang ngelayat. Target kita sebenarnya 80, tapi yang datang cuma 30 orang,” katanya.

Dari 1 orang yang terindikasi pengguna narkoba, ia menjelaskan, 1 orang itu adalah pengguna ringan, sehingga ke depannya akan ditangani cukup dengan rehabilitasi. Di Bintan, ada tiga tempat rehabilitasi.

Selain Puskesmas Toapaya, rehabilitasi pengguna narkoba juga ada di RSUD Bintan di Kijang dan RSUD Provinsi Kepri di Tanjunguban. Sementara itu, Sari, sebut saja demikian, warga lainnya yang ditemui di luar klinik mengaku takut dan memilih diam di kamar dan tidak datang ke klinik.

“Takut kalau nanti hasilnya positif, malah berurusan
dengan polisi dan ditangkap,” katanya.

Setelah semua warga yang hadir di klinik diperiksa urine dan darahnya, petugas dari BNN Kota Tanjungpinang bersama Puskesmas Toapaya dan RSUD Tanjunguban Provinsi Kepri melanjutkan pemeriksaan door to door ke wisma-wisma yang ada di sana. Ini dilakukan untuk melacak warga yang
belum melakukan tes urine di hari itu. (cr21)

Respon Anda?

komentar