batampos.co.id – Keluhan tentang buruknya sinyal ponsel warga di pulau-pulau penyangga (hinterland) di sekitar Batam, kini sudah berakhir. Pasalnya, Telkomsel membuat terobosan dengan mengekspansi jaringan hingga ke pulau-pulau pelosok, termasuk hinterland.

Bahkan, warga di sana bukan hanya bisa menikmati kualitas jaringan sinyal generasi kedua dan ketiga (2G/3G) saja, melainkan juga sudah bisa mengakses layanan jaringan terbaik di Indonesia saat ini, yakni 4G LTE (Fourth Generation Long Term Evolution). Saking majunya, jangan heran jika kini warga di hinterland sudah bisa berjualan secara online.

***

Putra meletakkan telepon pintar ke meja makan di hadapannya. Tangan kanannya gantian meraih cangkir berisi kopi susu, lalu menyeruputnya dua kali. Sembari meletakkan cangkir, matanya berbinar.

“Barusan kawan di Bengkulu WA (Whatsapp), dia pesan kamera,” kata Putra dengan senyum merekah, saat dijumpai di sudut kedai kopi yang berjarak sekitar 300 meter dari Pelantar Pelabuhan Rakyat Belakangpadang, Minggu (20/8) lalu.

Pria 27 tahun itu memang tengah getol berjualan berbagai jenis barang secara online (daring). Rutinitas itu mulai ia lakoni sejak tiga tahun silam. Ia memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan Instagram, serta media perpesanan seperti WhatsApp (WA) dan Line untuk memasarkan barang dagangannya.

Barang yang dijualnya juga beragam, mulai dari perangkat elektronik seperti kamera dan ponsel, hasil karyanya sendiri seperti karikatur dan lukisan, bahkan hingga batu akik. “Dua tahun lalu saat batu akik booming, saya banyak dapat pesanan, bahkan pelanggan saya ada yang dari Pulau Jawa,” kenang Putra.

Sedangkan jika ada pelanggan yang memesan kamera atau ponsel, ia akan mencarikan barang tersebut dengan menyeberang ke Pulau Batam dengan menumpang kapal pompong (perahu kayu kecil bermesin tempel).

“Pesan apa saja kita layani, yang penting kalau enggak ada di sini (Belakangpadang), saya carikan ke Batam,” ujarnya.

Bahkan, dari hasil berjualan barang-barang secara online tersebut, Putra mengaku bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia juga mengaku punya tabungan yang cukup. Pasalnya, omset jualan online itu tak kurang dari Rp 30 juta setiap bulannya. Maklum saja, pelanggannya memang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, dari Pulau Sumatera, Jawa, hingga Kalimantan.

“Untungnya lumayan untuk beli susu anak,” kata bapak satu orang anak tersebut.

Putra merupakan warga asli Pulau Belakangpadang, Kecamatan Belakangpadang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Pulau Belakangpadang merupakan satu di antara beberapa pulau hinterland di sekitar pulau utama (main land) Batam. Selain Belakangpadang, pulau hinterland lain di Batam yakni Pulau Galang dan Bulang.

Meski berada di pulau kecil dan pelosok, namun Putra mengatakan aktivitasnya berjualan online tetap lancar. Ia mengaku tak pernah terkendala masalah jaringan dari penyedia jasa telekomunikasi seluler (provider) yang ia pakai.

“Saya pakai Simpati (dari Telkomsel, red), dan sejauh ini oke-oke saja,” sebutnya.

Kondisi itu, sambung Putra, memang jauh berbeda dibanding beberapa tahun silam. Dulu, kata ia, warga Belakangpadang kerap mengeluh tak mendapatkan sinyal ponsel. Bahkan, jika berada di bibir pantai, ponsel warga malah kerap mendapatkan luapan sinyal (spillover) dari provider asing, seperti dari Singapura dan Malaysia.

“Kalau pas sinyal kita lemah, biasanya yang nyangkut malah sinyal SingTel (Singapore Telecommunications Limited), jadinya kami kena roaming internasional,” ia mengingat kejadian sekitar tujuh tahun silam.

Maklum saja, lokasi Pulau Belakangpadang memang cukup dekat dengan Singapura. Jaraknya kurang lebih hanya sekitar 20 kilometer, dan hanya dipisahkan laut internasional, yakni Selat Singapura. Pulau Belakangpadang termasuk satu di antara ratusan pulau terluar di Indonesia.

Namun kini, kejadian serupa tak ada lagi. Menurut Putra, kekuatan sinyal di ponselnya jauh lebih bagus sejak sekitar empat tahun terakhir. Bahkan, ia mengaku kini sudah bisa menikmati layanan data dengan kualitas jaringan terbaik di tanah air, yakni 4G LTE. Tak heran, kata dia, beberapa kawannya di Belakangpadang juga sudah mulai banyak yang mengikuti jejaknya berjualan barang-barang secara online.

“Mau mengakses apapun gampang sekarang. Kalau sudah begini, warga yang tinggal di pulau kecil kayak kami ini enggak kalah sama yang tinggal di Batam sana,” kata Putra bangga.

Tak hanya Putra. Warga yang tinggal di pesisir Pulau Batam lainnya juga mengaku mendapatkan berkah dengan pengembangan jaringan telekomunikasi seluler di wilayahnya. Seperti yang dirasakan Hikma, warga yang tinggal di Batumerah, Kecamatan Batuampar, Kota Batam. Wanita berjilbab itu juga menekuni aktivitas berjualan online aneka jenis produk fashion seperti tas, baju, hingga parfum. Ia juga memanfaatkan media sosial maupun media perpesanan untuk berjualan.

Tentu saja, ia membutuhkan kualitas layanan jaringan yang bagus dari provider telekomunikasi untuk menopang aktivitasnya tersebut.

“Saya pakai Kartu As, internetan enggak ada masalah. Jualan jalan terus,” kata Hikma saat ditemui di bibir pantai Batumerah, Minggu (27/8) lalu.

Ia tak memungkiri, keandalan sinyal dari provider telekomunikasi turut menopang kelancarannya berbisnis. Betapa tidak, untuk mengunggah foto produk maupun berkomunikasi dengan relasi usahanya, ia membutuhkan kualitas layanan data yang cepat dan stabil.

“Apalagi sekarang sinyal saya sudah 4G, jadi makin mudah kalau mau update barang jualan,” tutur wanita 22 tahun itu.

Hikma juga mengungkap, meski tinggal di pesisir pantai dan bisa menatap langsung deretan gedung pencakar langit Singapura dari tempat tinggalnya, namun ia tak pernah terkena luapan sinyal dari provider di negeri seberang. Padahal, kata ia, beberapa kerabatnya yang menggunakan provider selain Telkomsel, kerap terkena roaming saat berada di rumah.

“Barusan bibi saya mengeluh karena kena roaming, dia dapat SMS (Short Message Service/pesan singkat) dari Digi, bunyinya selamat datang di Malaysia. Padahal dia di sini (Batumerah),” kata Hikma sembari tertawa.

Ia berharap, kualitas jaringan telekomunikasi Telkomsel semakin meningkat agar komunikasi dan bisnisnya tak terganggu. Terlebih, ujar Hikma, di era digitalisasi seperti saat ini, kekuatan jaringan telekomunikasi merupakan hal yang sangat penting.

“Semakin banyak orang bisa mengakses internet, semakin maju bangsa kita,” katanya.

Hikma sedang menamai beberapa produk fashion yang akan diunggahnya ke media sosial di dekat rumahnya di tepi pantai Batumerah, Batuampar, Batam, Minggu (27-8) lalu.
Foto: Ratna-Batam Pos

***

Luasnya jangkauan jaringan telekomunikasi, terutama layanan data, memang membawa dampak positif bagi warga yang tinggal di wilayah yang berbentuk kepulauan seperti di Provinsi Kepri ini. Betapa tidak, dengan luas wilayah 252.601 kilometer persegi (km2) dengan mayoritas sekitar 96 persen berupa lautan dan hanya 4 persen yang berupa daratan atau pulau, kebanyakan merupakan pulau-pulau kecil, membuat jangkauan jaringan telekomunikasi tak bisa merata. Hanya warga di beberapa pulau utama seperti Batam, Bintan, dan Karimun yang sudah bisa mendapatkan layanan sinyal yang kuat dan akses internet memadai. Sedangkan warga yang tinggal di ratusan pulau-pulau hinterland, baru beberapa saja yang bisa menikmati layanan internet.

Meski begitu, Pemerintah Provinsi Kepri mencatat dalam kurun dua tahun belakangan ini, terjadi peningkatan jumlah warga yang memanfaatkan akses jaringan telekomunikasi, terutama layanan data untuk menunjang aktivitas perdagangan secara elektronik atau e-commerce.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kepri, Guntur Sakti mengatakan, berdasar data dari Asosiasi Digital Entrepreneur Indonesia (ADEI) Kepri, jumlah pelaku usaha e-commerce meningkat hampir 100 persen dibanding tahun 2015 lalu. Jika dulu pelaku usaha digital hanya satu hingga lima orang saja, kini sudah ada 25 pelaku start up baru.

“Member ADEI Kepri sekarang sudah 43 anggota. Itu bukti kalau start up digital sangat bertumbuh di Kepri,” jelas Guntur.

Kepala Dinas tak memungkiri, ada beberapa faktor lain yang membuat ekosistem digital di wilayah Kepri belum bisa maksimal. Antara lain, minimnya dukungan kebijakan yang inovatif yang dapat mendukung dunia digital. Itu karena, antara satu pulau dengan pulau lainnya berbeda kondisi dan infrastrukturnya. Selain itu, juga karena akses infrastruktur broadband internet yang masih rendah, terutama yang berada di luar pulau utama Batam.

“Tapi perbaikan dan peningkatan kualitas jaringan infrastruktur dan layanan telekomunikasi yang sedang dilakukan adalah salah satu upaya mendorong tumbuh dan berkembangnya ekosistem digital di daerah,” kata mantan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri tersebut.

Guntur juga mengaku, saat ini pihaknya aktif berkoordinasi dengan operator telekomunikasi. Salah satunya Telkom Group, agar dapat mempercepat pembangunan jaringan infrsatruktur dan mengakhiri kesenjangan digital di daerah pelosok dan pulau-pulau terluar di Kepri.

“Kami juga ingin mendorong e-government (electronic government/sistem pelayanan pemerintahan secara elektronik) hingga tingkat pemerintahan terbawah. Makanya kita jajaki kerjasama dengan Telkom Group,” paparnya.

Sementara itu, Manager Network service Telkomsel Batam Andi Suapril mengatakan, pengembangan dan ekspansi jaringan telekomunikasi di daerah-daerah hinterland merupakan salah satu fokus Telkomsel untuk mencerdaskan Indonesia. Begitu juga, kata Andi, untuk Kecamatan Belakangpadang, Bulang dan Galang, Telkomsel terus memantau perkembangan dan pemerataan jaringan di daerah tersebut.

“Untuk Belakangpadang, sinyal sudah merata. Ekspansi terus dilakukan terutama untuk 4G. Sedangkan Galang dan Bulang masih bergantung pada ketersediaan PLN (jaringan listrik) di daerah tersebut. Tapi saat ini daerah tersebut hampir semua site/tower sudah tercover jaringan 3G,” tutur Andi.

Menurut Andi, terjadi peningkatan jumlah pelanggan Telkomsel di pulau-pulau hinterland tersebut. Tak hanya itu, pihaknya juga mencatat ada kenaikan penggunaan layanan data di wilayah itu, dibanding tahun 2016 lalu.

“Kenaikan di Belakangpadang sebesar 132 persen. Kalau daerah Bulang 79 persen dan Galang 180 persen,” sebutnya.

Untuk menjaga keunggulan layanan, Andi mengatakan Telkomsel akan terus berupaya meningkatkan kualitas dan kapasitas jaringan di semua lokasi daerah terpencil. Bahkan, untuk daerah yang langsung berbatasan dengan negara luar seperti Singapura dan Malaysia. Antara lain, memperkuat dan melakukan ekspansi jaringan dengan pembangunan Base Transceiver Station (BTS) baru. Selain itu, juga menjaga keandalan jaringan dengan mengutamakan kualitas dan menjaga ketersediaan situs/tower (availability site).

“Kami juga terus meningkatkan kualitas network (jaringan) dengan modernisasi perangkat,” ujar Andi. (Ratna Irtatik/Batam) 

Respon Anda?

komentar