Pengungsi Rohingya dari Myanmar saat sampai Bangladesh akhir Desember lalu. (AP Photo)

batampos.co.id – Umat muslim di Rohingya, Myanmar begitu mengenaskan. Mereka, kini, memilih meninggalkan kampung halaman. Hidup di negara orang dengan status tidak memiliki kewarganegaraan alias stateless.

Negara yang dituju mereka adalah Bangladesh.

Para muslim Rohingya ini berupaya meninggalkan horor yang menggelayuti wajah mereka. Di Bangladesh beberapa pengungsi Rohingya bahkan memohon agar tidak dikembalikan ke kampung halamannya.

“Tolong selamatkan kami. Kami ingin tinggal di sini. Jika terus di sana (Rohingya), kami mungkin akan terbunuh,” ujar Amir Hossain (61).

Nasib para pencari suaka itu sedikit tertolong dengan bantuan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT). Bahkan nantinya akan diberikan bantuan khusus saat hari raya Idul Adha mendatang. Sebab ACT menggelar Cox’s Bazar, Bangladesh.

Di sana ACT akan meredam pilu Rohingya yang berada di Kamp Kutupalong dan Kamp Balukhali Bangladesh. Acara itu dikemas dalam Global Qurban. “Di Kamp Kutupalong kini ada sekitar 15 ribu KK atau 66 ribu jiwa. Sementara itu, Kamp Balukhali sudah ada 4 ribu KK,” sebut Hasan, salah satu mitra ACT di Chittagong dalam pesan persnya yang diterima JawaPos.com, Rabu (30/8).

Hasan menambahkan, menjelang Idul Adha memperkirakan jumlah pengusi pencari suaka di Bangladesh akan terus bertambah. “Tahun lalu, jumlah daging kurban yang kami bagikan ke mereka saja rasanya belum cukup. Alhamdulillah hampir sebagian besar pengungsi mendapat daging kurban, walau jumlahnya tidak begitu banyak,” tuturnya.

Daging kurban yang dibagikan ACT terhadap pengungsi Rohingya itu berasal dari sumbangan dari warga Indonesia.(iil/jpg/JPC)

Respon Anda?

komentar