Kecamatan Seri Kuala Lobam Miliki Kasus Gizi Buruk Tertinggi se Bintan

batampos.co.id – Kecamatan Seri Kuala Lobam (SKL) menempati peringkat tertinggi kasus gizi buruk se Bintan. Tercatat sebanyak 15 kasus giziburuk dalam dua tahun terakhir. Menekan angka penderita gizi buruk, petugas kesehatan rutin melakukan sweeping ke rumah warga.

Kepala Puskesmas Teluk Sasah dr Kurniawan kepada Batam Pos, Kamis (7/9) kemarin membenarkan, wilayah kerja Puskesmas Teluk Sasah dengan ruang lingkup Seri Kuala Lobam merupakan penderita tertinggi kasus gizi buruk se Bintan.

“Kami sudah koar-koar, tapi orangtua susah diajak kerja sama. Terbesar penderitanya di Teluk Sasah dan Tanjung Permai,” sebutnya.

Tingginya angka penderita gizi buruk dilatarbelakangi, karena orangtua sangat sulit diajak komunikasi akibat banyak orangtua penderita gizi buruk yang sibuk bekerja, sehingga kurang meluangkan waktu untuk anak.

“Diminta datang ke posyandu saja, alasannya kerja. Makanya, kami gencar melakukan sweeping ke rumah. Termasuk apabila ada titik kumpul di masyarakat, kami selalu menyelipkan promosi kesehatan,” katanya.

Kurniawan berharap, dalam menangani kasus gizi buruk harus ada kerja sama dan pengawasan dari lintas sektoral serta koordinasi di tingkat RT/RW, kelurahan dan desa. Petugas kesehatan tak mungkin maksimal melakukan pengawasan sendiri terhadap anak-anak penderita gizi buruk.

Berta petugas kesehatan bagian gizi yang melakukan sosialisasi gizi buruk di
posyandu Perumahan Lobam Mas Asri, kemarin menyimpulkan, gizi buruk
lantaran pengetahuan orangtua tentang gizi minim. Selain itu, kondisi
orangtua yang umumnya bekerja sehingga banyak menitipkan anaknya ke pengasuh namun kurang memperhatikan gizi anak.

Kadis Kesehatan Bintan, dr Gamma yang dihubungi Batam Pos, kemarin mengakui, penanganan kasus gizi buruk di Seri Kuala Lobam menjadi prioritasnya. Sejauh ini, petugas kesehatan dari puskesmas, dinas kabupaten maupun provinsi sudah bekerja keras.

“Masalahnya ada di ibu penderita dan tempat penitipan anak karena di sana rata rata orangtuanya pekerja,” sebutnya.

Mengenai gizi buruk ia menjelaskan dibagi dua. Penderita gizi buruk kategori primer yang dimaksud apabila anak kurang asupan gizi sehingga berat badannya menurun. Sedangkan sekunder merupakan gizi buruk yang dibawa akibat penyakit tertentu.

Ditanya soal alokasi anggaran khusus untuk penderita gizi buruk di Bintan, ia menyebut, jika awalnya Dinkes telah mengalokasikan anggaran. Namun Pemprov Kepri sudah mengalokasikannya, sehingga alokasi cukup dari Pemprov saja.

“Kalau dua duanya dialokasikan dengan sasarannya sama, bisa dobel dan
menjadi temuan. Makanya sementara dari provinsi saja,” katanya.

Seminggu sekali, menurutnya, anak penderita gizi buruk diberikan asupan makanan tambahan berupa biskuit. Hanya, asupan biskuit saja tidak cukup. Anak penderita gizi buruk juga perlu asupan makanan yang mengandung protein dan lainnya. Solusi
ke depan, ia akan mengandeng PKK dan semua pihak untuk melakukan
pembinaan terhadap masyarakat.

“Yang pasti waktu bertemu anak dan orangtua kurang, karena orangtua sudah bekerja dan setelah pulang alasannya capek,” tutupnya. (cr21)

Respon Anda?

komentar