Halimah Jacob

batampos.co.id – Sejarah sebagai yang pertama di Singapura tak pernah jauh dari Halimah Jacob. Setelah tercatat sebagai perempuan pertama yang mengetuai parlemen Negeri Singa, perempuan berayah muslim India dan ibu Melayu itu bakal ditetapkan sebagai presiden Singapura.

Tahun ini, pemilihan presiden Singapura secara khusus diperuntukkan bagi komunitas Melayu. Artinya hanya orang Melayu yang bisa mencalonkan diri. Sesuai konstitusi yang diamandemen tahun lalu, pilpres Singapura diperuntukkan khusus bagi salah satu etnis jika tidak ada seorang pun dari etnis tersebut yang menjabat presiden dalam lima masa jabatan terakhir.

Presiden terakhir dari etnis Melayu adalah Yusof Ishak. Ia presiden pertama Singapura yang menjabat 1965–1970. Enam presiden berikutnya -yang terakhir Tony Tan- berasal dari etnis Cina dan India.

Saat ini, populasi Singapura terdiri atas 74 persen etnis China, 13 persen etnis Melayu, sembilan persen etnis India dan 3,2 persen etnis lainnya.

Semula pilpres tahun ini diikuti lima kandidat. Namun, hanya tiga orang yang terdaftar sebagai etnis Melayu, termasuk Halimah. Di penjaringan persyaratan, dua kandidat lain dari etnis Melayu yang jadi pesaing Halimah, gugur. Mereka gagal memenuhi persyaratan, yakni jika berasal dari sektor swasta, maka sang calon harus pernah memimpin perusahaan dengan aset minimal 500 juta dolar Singapura tiga tahun berturut-turut. Halimah sendiri lolos otomatis karena ia adalah ketua parlemen.

Dua kandidat yang tak lolos adalah Chairman Bourbon Offshore Asia Pacific, Farid Khan, dan CEO Second Chance Properties, Mohamed Salleh Marican. ”Meski saya kecewa dengan keputusan Komite Pemilu Presiden, hal itu tidak akan menghentikan saya untuk terus melayani rakyat,” ujar Farid. Kekecewaan serupa diungkapkan Salleh. Meski begitu, keduanya menerima keputusan tersebut.

Halimah, 63 tahun, belum memberikan pernyataan resmi. Namun, pekan lalu, menyatakan siap jadi pelayanan bagi rakyat Singapura. ”Saya berjanji melakukan yang terbaik untuk melayani rakyat Singapura dan itu tidak akan berubah terlepas ada pemilu atau tidak,’’ ujarnya.

Terpilihnya Halimah bukan tanpa masalah. Di media-media sosial, Singaporean (warga Singapura) menunjukkan kekecewaannya. Menggunakan hastag #notmypresident alias bukan presiden saya, mereka mempertanyakan keputusan Komite Pemilu Presiden (ELD) untuk memilih Halimah.

Hastag itu adalah hastag yang sama digunakan masyarakat Amerika Serikat ketika Donald Trump dinyatakan sebagai presiden terpilih Amerika Serikat. Dalam curhatannya, masyarakat Singapura merasa kecewa dan menganggap Halimah adalah produk non-demokratis di negara yang disebut negara demokrasi.

”Presiden terpilih? Siapa yang memilih?” tutur seorang warganet dalam akun Twitternya. Pun ada yang mengkritik pemerintah dengan mengatakan Singapura hanya ingin menghalau teroris masuk negara dengan memilih presiden perempuan berkerudung.

Tetapi, Halimah sesungguhnya bukan perempuan biasa-biasa saja. Sejarah membuktikan dia adalah perempuan dengan keinginan kuat.

Saat SMP, dia dijuluki ratu bolos. Julukan itu tidak lepas dari kenyataan bahwa dia memang jarang masuk sekolah. Bahkan, dia hampir ditendang keluar dari Singapore Chinese Girls School karena keseringan absen.

Tetapi, bukan tanpa alasan dia membolos. Dia membantu ibunya menjaga warung nasi Padang milik mereka demi menghidupi keluarga. Ayah Halimah meninggal saat dia berusia delapan tahun. ”Saya pernah absen lama dan kepala sekolah memanggil saya. Dia bilang, ”Jika Anda terus tidak datang ke sekolah, saya harus menendang Anda keluar dari sekolah.” Itulah ultimatum terakhir,” kata Halimah seperti dilansir Channel NewsAsia.

Kejadian itu dianggap Halimah sebagai salah satu momen terburuk dalam hidupnya. ”Namun, saya berkata pada diri sendiri, berhentilah berkubang dalam mengasihani diri sendiri, angkat dirimu dan terus maju.”

Pemikiran itu pula menjadi moto hidup Halimah. Sepanjang hidup dia mengaku telah mengalami banyak gundukan dan kegagalan lain. Tetapi, semua rintangan itu membuatnya terus kuat sampai ia berada di posisi saat ini. (Reuters/TheStraitTimes/CNA/sha/c6/any)

 

Respon Anda?

komentar