Pengguna internet aktif di Batam mencapai 740 ribu dari 1,2 juta penduduk Batam yang sudah terhubung media sosial. Sebuah potensi besar untuk pengembangan bisnis berbasis digital.

Iklan biro perjalanan Go-Vakansi muncul ketika membuka instagram. Ia mengajak liburan tanpa ribet. Iklan ini membawa calon konsumen ke website Go-Vakansi yang sudah terbangun dengan baik.

Dalam website itu terdapat beberapa pilihan paket perjalanan dan liburan. Mulai liburan private, perjalanan bulan madu, open trip, hingga custom trip. Paket-paket dan destinasi juga sudah tersedia. Lengkap dengan harga paket perjalanan, jadwal trip dan jumlah seat yang tersedia.

Cukup klik paket perjalanan, destinasi, dan jumlah orang, kemudian klik transaksi, konsumen sudah siap untuk berangkat liburan. Kemudahan itulah yang diberikan Go-Vakansi yang fokus pada bisnis perjalanan online.

“Sesuai dengan tagline kita, Trip Seru Tanpa Ribet. Transaksi gak ribet. Cukup masuk website kita, klik, klik, klik, bayar, udah siap jalan-jalan,” kata Dimas Abri Haryo, pemilik Go-Vakansi, Kamis (14/9) pekan lalu.

Dimas salah satu pemula (start up) di bisnis berbasis digital di Batam. Ia mulai merintis Go-Vakansi Februari 2015. Sejak awal, Dimas sudah membangun bisnis biro perjalanan Go-Vakansi yang berbeda dari biro perjalanan pada umumnya. Ia langsung fokus pada biro perjalanan online. Meski begitu, ia tak lantas meninggalkan cara offline.

Meski terbilang baru, komposisi transaksi online di Go-Vakansi sebanyak 80 persen dan sisanya 20 persen transaksi offline.

“Ini era keterbukaan informasi, industri sudah digital, saatnya terjun ke bisnis berbasis digital atau online,” jelas Dimas mengenai alasan memilih biro perjalanan online.

Meski agak sulit, e-commerce, sangat banyak kemudahan dan keuntungannya. Biaya operasionalnya rendah, tidak perlu kantor yang besar, tidak perlu staf terutama petugas tiketing yang banyak, transaksi lebih cepat, dan yang pasti jangkauannya lebih luas.

“Jadi konsumen tidak hanya orang Batam, tetapi seluruh Indonesia. Bahkan bisa juga orang luar negeri, cuma saat ini website kami masih berbahasa Indonesia,” katanya.

***

Go-Vakansi hanya satu dari beberapa start up bisnis berbasis digital di Batam. Sekretaris Asosiasi Digital Entrepeneur Indonesia (ADEI) Batam, Ammar Satria, menyebutkan, di sektor bisis sudah lumayan banyak start up berbasis aplikasi digital di Batam. Selain WakJek dan Go-Vakansi, ada juga Tremondi, Kazana Mall, Batam Mall, Toko Rental, Marlin Booking, Eska Salon, Go Deal, Mr Go, Hotel-hotel online, IndoTIKI, dan lainnya.

Bisa dikatakan perusahaan start up jika usia perusahaan tergolong muda, jumlah pegawai kurang dari 20 orang, pendapatan kurang dari 100 ribu dolar AS per tahun, masih dalam tahap berkembang, umumnya beroperasi dalam bidang teknologi, produk yang dibuat berupa aplikasi dalam bentuk digital, dan biasanya beroperasi melalui website.

Lalu seperti apa potensinya di Batam? Ammar Satria menjelaskan, potensinya sangat besar. Namun bicara soal industri digital, mesti dilihat dari dua persfektif, yakni digital dan masyarakat. Dari sisi digital, infrastruktur yang dimiliki Batam untuk mengembangkan industri digital telah tersedia dan memadai. Baik yang disiapkan pemerintah maupun swasta.

Di pusat kota ini terdapat IT Center milik Badan Pengusahaan (BP) Batam yang merupakan salah satu area penyimpanan serta pengolahan data dan informasi yang terjamin dan aman. IT Centre BP Batam kini dimanfaatkan oleh berbagai instansi seperti Disaster Recovery Centre (DRC) oleh BIG, EKTP oleh Kemendagri, Kemenhub, BPPT, Kominfo, Teknet, dan masih banyak lagi.

Pusat data milik BP Batam bisa dimanfaatkan untuk melayani teknologi komputasi awan sebagai pusat data ataupun pusat penyimpanan data cadangan (disaster recovery center). Pusat data BP Batam, saat ini sudah memenuhi standar SS507 atau standar teknis untuk data center. Jadi bisa dimanfaatkan oleh pemerintah maupun swasta.

Kemudian Telkom, juga perusahaan pemerintah, telah mengembangkan jaringan yang bisa digunakan untuk bisnis maupun industri dengan adanya fiber optik.

“Inilah dasar-dasar yang dibutuhkan untuk mengembangkan industri digital,” kata Ammar, Rabu (13/9) pekan lalu.

Secara infrastuktur, selain pemerintah, pihak swasta juga memainkan peran dengan banyaknya Internet Service Provider atau penyedia jasa layanan internet. Menurut Ammar, jumlah jasa Internet Service Provider (ISP) di Batam lebih 300-an. Di Batam lebih dari 100 Km jaringan fiber optic sudah terpasang. Hampir semua wilayah sudah terjangkau jaringan 4G LTE.

Berdasarkan jumlah penggunaan data atau pengguna internet aktif, ada 740 ribu dari 1,2 juta masyarakat Batam sudah terhubung sosial media. Artinya lebih setengah dari jumlah penduduk Batam sudah terhubung media sosial. Setiap hari mereka aktif menggunakan Facebook, Instagram, Twitter, WhatsApp, dan media sosial lainnya.

Potensi inilah (infrastruktur dan pengguna internet) bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan industri digital. “Batam ini potensinya besar. Harus berani memulai,” katanya.

Menurut Ammar, saat ini, sangat mudah melihat industri digital dan potensinya di Batam.
“Di sekeliling kita sekarang, ketika membuka smartphone Android, lalu ketik kata ‘Batam’ atau ‘Kepri’, akan muncul beberapa aplikasi digital,” kata Ammar.

Mengembangkan bisnis digital perlu keterlibatan aktif dari pemerintah daerah. Ammar mengungkapkan konsep digitalisasi ekonomi harus segera dicanangkan secara masif oleh pemerintah daerah.

CEO Infinite Framework Studio (IFS), Mike Wiluan juga sangat optimis ekonomi digital di Batam akan berkembang dan berjaya.

“Batam bagus, masih terang benderang. Apalagi pasar Indonesia masih sangat luar biasa. Banyak orang muda yang bersemangat dengan bisnis digital,” katanya.

Menurut Mike, meskipun Batam tengah dilanda kelesuan ekonomi, Batam tetap pintu masuk utama yang strategis bagi Indonesia, khususnya investor dari luar negeri. Makanya ia telah membangun IFS sejak 10 tahun lalu.

“IFS sudah lebih 10 tahun di Batam dan kita kembangkan anak muda dari seluruh Indonesia di sini,” terangnya belum lama ini.

Dalam perjalanannya, saat ini 30 persen dari karyawan IFS diisi oleh anak-anak muda Batam yang memiliki kompetensi tinggi di bidang informasi dan teknologi (IT).

Untuk semakin mengembangkan ekonomi digital di Batam, Mike yang juga anak dari taipan Citramas, Kris Wiluan, telah menjajaki hubungan kerja sama dengan industri kreatif di Bandung dan Jogjakarta.

Menurut Mike, industri kreatif di Jawa sudah berkembang sedemikian rupa dengan memanfaatkan IT.

Ia juga menuturkan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah setempat seperti Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Pemerintah Kota (Pemko) Batam untuk membangun sebuah IT Centre. BP Batam kini telah memiliki IT Centre.

“Pemerintah harus mendukung. Peran bisnis digital dalam industri itu tinggi sekali. Harus bergerak semua,” ungkapnya.

Apalagi saat ini istilah IT sudah sangat luas cakupannya. Menurutnya IT adalah istilah kuno 10 tahun lalu. “Sekarang IT itu banyak, ada coding, development, gaming, infrastruktur, lifestyle, teknik dan lainnya,” paparnya lagi.

Dengan dasar tersebut, maka Citramas mendirikan Nongsa Digital Park (NDS) yang dicanangkan akan dikembangkan hingga menyamai pusat data milik perusahaan raksasa di bidang komunikasi, Google.

“Nongsa Digital Park itu menaungi beberapa usaha luar negeri untuk masuk dalam area khusus bisnis digital agar bisa memulai digital start up,” terangnya lagi.

Morris Sianipar, praktisi usaha digital yang ditemui Batam Pos di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Selasa (12/9) lalu, mengatakan kebijakan pemerintah menetapkan Batam sebagai digital hub Indonesia merupakan kabar gembira, karena potensi industri digital Indonesia memang sangat besar.

“Tapi memang perlu dukungan serius pemerintah, baik dalam hal regulasi maupun infrastruktur,” ujarnya.

Ia kemudian mencontohkan langkah Malaysia yang dukungannya terhadap start up langsung datang dari Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak yang mengembangkan industri kreatif ekonomi digital lewat Malaysian Global Innovation & Creativity Centre (MaGIC).

Lebih dari 14 ribu start up baru di Malaysia terdata dan mendapat dukungan dari MaGIC. Beberapa di antaranya sudah siap menghadapi pasar di regional Asean maupun global.

“Satu matlamat, kesejahteraan umat,” kata Najib dalam iklan billboard di langit-langit bandara yang ditunjukkan oleh Morris.

Morris pun mengabadikan papan iklan elektrik buatan Strategi Lautan Biru Kebangsaan (NBOS) tersebut. Pria berkacamata ini mengungkapkan kehebatan pemerintah Malaysia menerima dan mendukung era digital saat ini.

“Beruntungnya para pelaku digital start up di sini, didukung habis-habisan oleh pemerintah,” ujarnya.

Morris menyebutkan, ada banyak industri yang bisa menjadi pilihan di Batam yang bisa memanfaatkan teknologi digital. Salah satunya bisnis kargo antarnegara dan nasional. “Potensinya sangat terbuka lebar,” katanya.

Usahawan Indonesia telah menjalankan ini dengan aplikasi On Truck yang berafiliasi dengan pengusaha truck lokal.

Aplikasi ini bisa diunggah dari iOS maupun layanan android. Cara kerjanya, para pengguna cukup membuka aplikasi, memilih mobil dengan rute dari dan kemana tujuan, lalu barang/kargo yang hendak dikirim akan dijemput langsung dari alamat dan diantar ke tujuan.

“Semua perizinan maupun regulasi telah diurus. Pengguna cukup duduk tenang, dan bayar sambi memantau direct gps pengiriman barang dari aplikasi. Barang pun siap diantar,” ujar pria yang pernah menjadi supervisor area di salah satu layanan transportasi berbasis online ini.

“Hanya saja, layanan ini baru melayani pengiriman barang memakai truck ke seluruh Indonesia. Luar negeri masih proses. Sangat jelas ini akan sangat maju di Batam,” tambahnya.

Bagaimana membangun digital start up agar cepat berkembang? Morris menyebutkan, pentingnya afiliasi ke mitra. Mitra dalam hal ini adalah pembuat, penyedia, dan pengguna aplikasi.

Bagaimana membangun jaringan ke pengguna aplikasi? Morris menyebutkan perlunya strategi promosi, upgrade aplikasi, dan sebisa mungkin meminimalisir kerusakan jaringan atau error.

Selain itu, industri kreatif berbasis digital ini harus didukung dengan pengadaan infrastuktur, tim ahli, dan juga kondisi kota dan penerimaan masyarakat.

“Pemda Batam harus siap. Sediakan kawasan, jaringan listrik dan internet yang memadai. Beri regulasi satu pintu, dan dukungan terbuka untuk para pelaku usaha ini,” kata Morris. (uma/cha/nur/leo)

Respon Anda?

komentar