Imaji di layar USG itu, menunjukkan tiga janin ada di kandungan istri Muhammad Teddy Nuh. Ia pun tercekat…

——

Teddy Nuh sedang melihat bayinya yang kembar tiga yang masih dirawat di Rumah Sakit Awal Bros, Selasa (19/9). F Cecep Mulyana/Batam Pos

Jarum jam menunjukkan pukul 10.50 WIB. Tim dokter Rumah Sakit Awal Bros Batam sedang berupaya membantu kelahiran bayi kembar tiga dari pasangan
pasangan Muhammad Teddy Nuh dan Raja Bahami Lily Marlina.

Selama kurang lebih satu jam, sang suami Teddy ikut menyaksikan perjuangan istrinya di meja operasi. Operasi caesar ini harus dilakukan karena letak bayi kedua dan ketiga yang melintang.

Rasa gugup terus menghinggapi Teddy. Bagaimana tidak, ini adalah proses kelahiran pertama yang dialami istrinya.

Selang satu jam berlalu, dokter pun berhasil menyelesaikan operasinya. Ghania Ameena Naziha, Ghaza Al Fatih Hafizan dan Ghazi Al Fatih Uwais lahir dengan selamat dan sehat di Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Batam tepat pukul 11.50 WIB pada Senin (18/9).

Ketiga bayi ini menjadi berita bahagia bagi seluruh masyarakat Batam karena merupakan kelahiran pertama sejak 11 tahun lalu yang ditangani RSAB Batam. Dengan berat berurutan bayi pertama 1600 gram, 1050 gram dan 1100 gram dengan panjang tubuh berkisar 40 centimeter, ketiga bayi yang merupakan hasil program bayi tabung ini dalam kondisi normal tanpa alat bantu pernafasan.

Mengingat kembali, program bayi tabung ini adalah upaya yang bisa dibilang terakhir. Beragam upaya dari 2011 silam sudah dilakukan, mulai dari berobat, minum herbal dan proses inseminasi hingga dua kali. Namun apa mau dikata, takdir belum membuat keduanya menyandang gelar orang tua.

Mereka pun memutuskan cek ke rumah sakit di luar Batam yakni di Mahkota Medical Center, Malaka, Malaysia. Salah satu upaya paling memungkinkan adalah bayi tabung. Keduanya pun menjalani program ini pada Desember 2016 lalu dan pada Februari 2017 kabar gembira menghampiri keduanya.

“Program ini sendiri kami ketahui dari adik kandung kami. Adik dan pasangan menjalankan program bayi tabung juga dan alhamdulilah berhasil, karena itu kami memutuskan mencoba program ini,” kata Teddy.

Dana total Rp 60 juta pun digelontorkan oleh Kabid Pelayanan Pendaftaran di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batam ini. “Biaya ini dibayarkan bertahap sesuai tindakan yang diberikan oleh pihak Rumah Sakit Mahkota Medical Center, Malaka,” ungkapnya.

Proses bayi tabung sendiri, memang mengharuskan dua embrio. Setelah menunggu dan terus kontrol selama satu bulan, akhirnya kami dapat kepastian. “Alhamdulilah, dari penuturan dokter waktu itu mengatakan istri hamil. Namun, embrio yang kedua jantungnya sangat kecil. Sehingga dokter mengatakan jangan terlalu berharap untuk memiliki dua bayi,” ungkap pria kelahiran Pekanbaru ini.

 F Cecep Mulyana/Batam Pos

Satu bayi saja sudah merupakan kebahagiaan, begitu yang dirasakan keduanya. Namun di luar dugaan, kebahagiaan mereka ditambahkan, embrio laki-laki tersebut justru membelah lagi. Sehingga genap tiga janin di dalam kandungan Lily. “Luar biasa senang sekali, kaget dan sangat bersyukur begitu mendengar kabar tersebut,” katanya.

Belum sempat berbahagia, keduanya lagi-lagi dihadapkan dengan keputusan sulit. Dokter menjelaskan ada tiga pilihan yang harus ditentukan mereka. Pertama, Embrio Reduction saat itu juga. Karena janin kecil ditambah tubuh sang istri yang kecil, akan membahayakan nyawa istri dan anak-anaknya ketika harus melahirkan tiga bayi sekaligus.

Pilihan kedua, yakni menunggu seminggu untuk menentukan pilihan jumlah embrio reduction. Namun setelahnya harus langsung dirujuk ke Kuala Lumpur. Atau pilihan ketiga yakni tetap mempertahankan ketiga janin dengan segala resiko. Namun, sang istri harus bed rest dengan estimasi selama lima bulan.

Pilihan ini tentu saja tidak mudah bagi pasangan yang menikah 2011 silam ini, terlebih menunggu enam tahun mendapatkan keturunan bukanlah waktu yang sebentar. Orang tua keduanya pun ikut dilibatkan dalam keputusan ini. “Kami berpikir begini, ini adalah hadiah yang diberikan Tuhan. Selama enam tahun kami meminta, akhirnya bisa dipenuhi. Setelah dipenuhi, masa kami harus mengurangi. Akhirnya kami putuskan untuk mengambil pilihan ketiga, tentu saja dengan persetujuan seluruh pihak keluarga,” sambung sang Istri, Lily.

Memasuki usia kehamilan 7 bulan, Wanita kelahiran Batam ini mulai menjalani perawatan kehamilan dan kontrol teratur. Bahagia lagi karena kehamilannya berjalan lancar tanpa ada masalah berarti. “Alhamdulilah saya kuat dan enggak macam-macam ngidamnya,” ucap Lily.

Memasuki usia kandungan 8 bulan atau 34 minggu, Lily harus menjalani operasi caesar. Dikarenakan posisi bayi kembar yang laki-laki dalam keadaan melintang. Teddy pun diperbolehkan untuk menyaksikan proses melahirkan anak pertama, kedua dan ketiganya. “Rasanya deg-degan juga. Memberikan dukungan kepada istri, saya sangat kagum dengan perjuangan istri,” sambung Teddy.

Memaknai perjuangan sang istri dan ketiga anaknya, pasangan ini sepakat menuangkannya dalam nama. “Ghania yang berarti perempuan cantik, sedangkan Ghaza dan Ghazi artinya pejuang dan satria,” sebut Teddy.

Belum lagi melihat kondisi ketiga bayinya yang kuat dan sehat. Bahkan bayi mereka tidak memerlukan alat bantu pernafasan. “Sekarang dalam tahap observasi oleh tim dokter, namun ketiga bayi kami terlihat dalam kondisi sehat,” tutupnya.

Program bayi tabung sendiri saat ini di Kepri belum ada. Metode yang dalam dunia kedokteran disebut In Vitro Fertilization (IVF) ini memang mengharuskan pasangan siap memiliki dua orang anak. Sel telur matang diambil dari indung telur ibu, dibuahi dengan sperma di dalam medium ciaran. Setelah berhasil, embrio kecil dimasukkan ke rahim dengan harapan berkembang menjadi bayi.

“Program ini bisa saja membuat ibu memiliki dua anak sekaligus jika keduanya berhasil atau hanya satu anak atau bahkan tidak memiliki anak jika embrio gagal menjadi janin,” kata Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RSAB Batam, dr Ni Made Indri Dwi Susanti, SpOG.

Namun, kasus ini terbilang cukup unik. Karena sel telur yang diperkirakan berjumlah dua, justru berkembang lagi sehingga menjadi tiga janin. “Yang berkembang menjadi dua adalah janin laki-laki, makanya disebut kembar identik,” ucap dr Indri.

Menilik lebih dalam tentang riwayat keluarga pasangan ini, keduanya memiliki gen kembar. Berdasarkan keterangan dari orang tua Teddy, paman dari ibulah yang memiliki gen tersebut. Tidak heran salah satu dari kedua sel telur tadi berkembang menjadi dua, sehingga genap tiga janin.

Dokter lulusan Universitas Andalas, Padang ini mengatakan bayi kembar biasanya bakal terancam persalinan prematur. Sehingga perlu sekali terapi ekspektatif agar janin tidak terlahir prematur.

“Kami juga berusaha menghilangkan kontraksi dan berusaha untuk mematangkan paru-paru bayi,” ungkapnya. (*)

Respon Anda?

komentar