ilustrasi
foto: cecep mulyana

batampos.co.id – Para pengembang di Batam yakin bisnis properti bakal lebih baik lagi. Kekurangan lahan yang selama ini jadi kendala bisa diatasi dengan memanfaatkan lahan tidur.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Batam, Achyar Arfan, mengatakan lahan tidur yang sekarang diambil alih lagi oleh Badan Pengusahaan Batam bisa dimanfaatkan pengembang.

“Batam tidak akan kekurangan lahan karena masih ada lahan tidur seluas 7.700 hektare,” jelas Achyar, Rabu (20/9), usai acara pelatihan literasi properti untuk 10 ribu pengusaha properti di Universitas Batam (Uniba).

Munculnya generasi baru dengan ide-ide baru di bisnis properti, kata Achyar, turut mendorong optimisme akan cerahnya usaha properti di Batam. “Saya pernah bertemu dengan pemilik lahan tidur yang bingung lahannya mau diapain karena tak punya ide. Lalu ketemu dengan developer muda yang menawarkan ide. Sehingga mereka bisa bekerja sama,” ujarnya.

Setelah lahan dan ide ada, maka tinggal mencari sumber uang. “Sumber uang bisa dicari lewat notaris maupun perbankan. Asal punya konsep brilian maka pasti diterima,” katanya.

Dan setelah itu, maka pengembangan properti yang ada saat ini bisa dikembangkan untuk hunian vertikal seperti apartemen. Dan setelah itu dengan kebijakan pro investasi yang dikeluarkan oleh pemerintah, maka properti di Batam tidak akan pernah sepi peminat.

Setelah semua bisa tercapai, maka pemerintah perlu menata ulang tata ruang kota di Batam. Saat ini tata ruang di Batam kacau balau karena tidak mengindahkan konsep tata ruang yang baik. Untuk menghindari kesalahan serupa di masa depan, edukasi mengenai tata ruang yang baik perlu diberikan kepada generasi muda.

“Pemerintah harus bikin master plan yang terencana dengan baik dan kemudian mengedukasikannya kepada generasi muda yang kelak jadi pengusaha properti di masa depan agar mereka tak salah langkah,” katanya.

Tata ruang di Batam memang saat ini tidak tertata dengan baik. Sebenarnya konsep telah ditetapkan sejak awal, namun di lapangan banyak ditemukan ketidaksesuaian dengan peruntukan awal. Contohnya ada kawasan industri di dalam pemukiman ataupun lahan yang koordinatnya saling tumpang tindih.

“Ini kami mencoba untuk memberikan edukasi. Jika suatu saat ingin bangun perumahan, maka harus dibuat dulu konsep hunian terpadu yang mengedepankan kenyamanan dan koordinasi yang baik antara tata peruntukan lahan,” ungkapnya.

Dengan begitu, hal-hal semacam tumpang tindih lahan dan peruntukan yang keliru bisa dihindari. Achyar juga menyarankan agar developer muda di Batam nanti menerapkan konsep kota mandiri seperti di Bumi Serpong Damai (BSD) yang ada di Tangerang.

“Konsepnya berupa kota mandiri dalam satu tempat. Segala keperluan ada di dalam satu lokasi. Dengan begitu arus kemacetan bisa dihindari karena penghuninya tidak bergerak lagi keluar,” katanya lagi.

Untuk mengedukasi generasi muda, Bank Tabungan Negara (BTN) siap membantu untuk membentuk pengusaha properti muda yang bisa memahami seluk beluk dunia properti di Batam.

“Ini juga merupakan aktivitas BTN dalam mempersiapkan pengusaha muda di bidang properti,” jelas Kepala Kantor Cabang BTN Batam, Ali Irfan di tempat yang sama.

BTN yang berfokus kepada kredit pembiayaan rumah memandang penting pembentukan karakter pengusaha properti ini. “Program ini menyasar untuk membentuk 10.000 pengusaha muda properti di seluruh Indonesia,” katanya.

Selain sebagai jaminan untuk melanjutkan bisnis utamanya, BTN ingin membantu pemerintah dalam membantu program penyediaan sejuta rumah bagi masyarakat Indonesia.

“Niat kami juga ingin membantu menjembatani misi pemerintah membuat sejuta rumah,” pungkasnya. (leo)

Respon Anda?

komentar