Awan gelap seperti bergulung-gulung di atas Perairan Kepri hingga Selat Malaka dan sekitarnya yang terjadi tahun lalu. Cuaca buruk telah mengakibatkan kecelakaan di perairan Tanjungpinang, dimana 15 penumpang pompong dari Tanjungpinang tujuan Pulau Penyengat tewas tenggelam. Foto: Bambang Irawan untuk Batam Pos

batampos.co.id – Musim angin utara yang biasa terjadi di perairan Kepulauan Riau (Kepri) diprediksi mulai terjadi paling cepat akhir bulan ini atau awal Oktober mendatang.

Ketika musim angin utara tiba, masyarakat diimbau agar selalu lebih waspada, utamanya terhadap aktivitas awan Cumolonimbus (CB) yang bercirikan awan bergumpal berwarna hitam pekat.

“Kalau sudah awan gelap, jangan nekat. Karena awan CB bisa menyebabkan cuaca buruk datang tiba-tiba, seperti angin kencang, hujan lebat, dan aktivitas petir yang meningkat,” imbau Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Tanjungpinang, Arditho, Rabu (20/9).

Apalagi, sambung dia, bagi masyarakat yang banyak beraktivitas di wilayah perairan. Ketika awan CB sedang pekat-pekatnya sebisa mungkin untuk tidak melaut. Sebab angin CB dapat mengundang angin kencang yang berpengaruh terhadap ketinggian gelombang. “Untuk antisipasi saja karena angin kencang atau badai itu biasanya datangnya tiba-tiba,” terang Arditho.

Musim angin utara di wilayah perairan Kepri bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Pasalnya angin kencang ini menyebabkan beberapa suplai kebutuhan pokok via jalur laut bisa saja tersendat lantaran pengiriman menghindari cuaca buruk.

Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPAD) Tanjungpinang, Riono mengaku sudah mengantisipasi hal tersebut. Dalam waktu dekat ini, kata dia, akan digelar pemeriksaan stokĀ  ketersediaan bahan pangan di sejumlah gudang milik distributor.

“Jangan sampai ketika nanti lagi musim (angin) utara barang tiba-tiba langka, mau datangkan tapi tidak bisa,” ujar Riono. (aya)

Respon Anda?

komentar