ilustrasi: fajar / radar surabaya

Donjuan, 51, asal Surabaya sangat yakin rezekinya bisa bertambah saat ia bisa menambah koleksi istri barunya.

Donjuan begitu percaya diri kalau dirinya lelaki perkasa. Pasalnya, ia tidak pernah takut berpoligami dengan izin istri-istri sebelumnya. Ia pun juga percaya diri saat akan meresmikan poligami keempat di kantor Pengadilan Agama (PA), klas 1A Surabaya, Selasa (26/9).

“Saya enggak sombong ya, ini kenyataan. Wajah saya mungkin lebih jelek dari Tukul, badan kecil kayak Doyot. Alhamdulillah  Gusti Allah maringi saya kelebihan rezeki sehingga bisa berbagi dengan wanita-wanita shalehah,” kata Donjuan tersenyum lembut.

Bersama pengacaranya, Donjuan yakin poligami keempatnya ini bakal berhasil karena ketiga istrinya hadir dalam sidang poligami tersebut. Meski tidak bertegur sapa, Donjuan mengaku kalau ketiga istrinya berkomunikasi baik.

“Ya pasti ada persaingan antar mereka, tapi sampai sekarang belum ada yang cakar- cakaran. Saya berusaha adil, kalau satu saya belikan rumah, satunya juga. Saya bagi rata, kalau enggak mau ngalah ya gampang semua saya ambil (harta,red). Mereka takut, jadi enggak macem-macem mereka,” tambah bapak enam anak itu.

Ia menyatakan keinginanya untuk menikah sebanyak-banyaknya karena dulu sang ibu meninggal dunia saat ia kecil. Ayahnya tidak mau menikah dan akhirnya meluapkan diri dengan selingkuh sampai akhirnya terkena HIV AIDS.

“Ayah meninggal waktu saya 10 tahun, untung banyak warisan yang ditinggalkan, Jadi sejak kecil saya dan nenek yang mengembangkan bisnis keluarga. Bisnis kayu, kalau ada hasil beli tanah lagi. Ya bisnis tembakau, atau apalah yang penting bisa buat nambah istri,” papar dia sambil tertawa.

Dari situ, Donjuan akhirnya menyatakan dirinya ingin memiliki istri banyak. Terutama, yang berasal dari pesantren dan memiliki budi pekerti yang baik.

“Saya bersyukur mereka mendukung, saya yakin ini semua demi kebaikan tidak ada masalah. Buktinya semua berjalan lancar,” terang Donjuan.

Sementara itu, Sephia, 25, istri keduanya yang hadir dalam sidang poligami menyatakan tidak banyak berkomentar apa apa.

“Gak papa, suka saja. Alhamdulillah suami adil,” kata wanita yang tinggal di Sidoarjo itu.

Perkenalannya dengan Donjuan bermula dari gurunya yang merupakan sahabat suaminya.

“Waktu itu masih mondok, awalnya nikah siri. Umur 18 dinikahi sah, anak sudah dua,” pungkasnya.

(sb/han/jek/JPR/Umi Hany Akasah-Radar Surabaya)

Respon Anda?

komentar