ilustrasi: gilang / radar surabaya

Setelah orang tuanya meninggal tahun 1990-an, Karin, 47, melanjutkan bisnis sepatu dan alat elektronik orang tuanya. Sepupunya, si Donwori, 55, yang awal mulanya hanya sebagai pembantu, akhirnya kini jadi bos setelah menikah dengan Karin. Kini, setelah merasa menjadi bos, pria asal Mojokerto itu emoh melepaskan harta yang ia rasa adalah buah hasil usahanya.

Donjuan bersikukuh untuk mempertahankan seluruh harta baik hasil kerjanya maupun warisan almarhum mertuanya. Bahkan, ia tega mengusir istri dan kedua anaknya karena istrinya tidak mau menghibahkan hartanya.

”Saya kayak pelihara macan, dulu dia jadi babu mamaku. Ya karena sering tinggal di toko, saya juga enggak ada saudara di Surabaya ini akhirnya menikahlah. Terlebih, dia pekerja keras. Setelah itu, bisnis almarhum orang tuaku dikelola dia,” kata Karin di sela sela sidang gugatan cerainya di Pengadilan Agama (PA), Klas 1A Surabaya, Senin (28/9)

Karin tampaknya terlihat tak berdaya dengan kekuatan suaminya. Setelah diusir dari rumahnya di kawasan Kapas Krampung, Karin akhirnya harus menderita karena suaminya memaksanya untuk tanda tangan hibah. Karin yang kini tinggal di rumah satunya di kawasan Gunung Anyar akhirnya menggugat cerai. Ia tidak mau karena suaminya terkesan ingin menguasai harta warisan dengan alasan yang mengembangkan bisnis tersebut adalah dia.

”Dulu bisnis sudah besar, mama papa sudah punya aset toko dan beberapa rumah. Suami sih hanya membesarkan saja. Tokonya ya masih satu aja, tapi emang pelangganya jadi banyak. 10 tahun lalu,  habis lahiran aku bantuan suami lagi, alhamdulillah kini sudah punya dua cabang toko sepatu,” kata Karin.

Bahkan, dari kecerdikannya Karin bisa memiliki beberapa  pegawai pembuat sepatu yang justru kini dikuasai oleh suaminya.

”Suami saya kasar, main perempuan juga. Saya bertahan juga karena anak-anak, tapi ini sudah keterlaluan, minta seluruh harta. Aku disuruh minggat dari rumah, ya enggak maulah,” tambah Karin.

Sebenarnya, Karin bersabar meski sering mendapatkan pukulan dari suaminya.

”Ya tak hajar juga. Dia itu sebenarnya takut sama aku, tapi emoh kalau minta cerai. Lha mbok kira aku takut, ya pokoknya aku enggak mau ,” kata Karin.

Sebenarnya, Donjuan merasa punya hak atas harta warisan karena dia yang mengembangkannya. Terlebih, kini anak anaknya juga sudah besar.

”Harta lho malah tambah banyak, istri dan anak juga saya hidupi. Wajarlah kalau saya minta semuanya, toh nanti kalau saya meninggal pada ke anak semua warisannya,” pungkasnya. (sb/han/jek/JPR/Umi Hany Akasah, Radar Surabaya)

Respon Anda?

komentar