batampos.co.id – “Ada dua perusahaan yang sudah mengkonfirmasi akan berhenti beroperasi dalam bulan ini dan tengah memasuki tahap penyelesaian hak karyawan,” kata Kepala Disnaker Kota Batam, Rudi Sakyakirti, Jumat (6/10).

Ia menyebutkan, dua perusahaan yang tutup pada Oktober ini masing-masing meruapakan perusahaan asing, yakni PT Sanmina-SCI Batam dan PT Hymold. Saat ini PT Sanmina dalam proses penyelesaian hak-hak karyawan. Dari 190 karyawan yang ada, masih ada 21 karyawan lagi yang dalam proses penyelesaian.

Sementara PT Hymold baru mengkonfirmasi jika mereka akan menutup perusahaan tahun ini. Dari komunikasi terakhir dengan Disnaker Kota Batam, kata Rudi, mereka masih produksi bulan ini. Namun PT Hymold sudah mulai memproses penyelesaian hak-hak karyawan.

“Mayoritas pekerja mereka kontrak semua,” ujarnya.

Rudi menjelaskan, dari 36 perusahaan yang tutup tahun ini rata-rata memiliki persoalan yang sama. Yakni masalah sepi order.

“Tak ada order yang masuk, jadi tak ada pengerjaan,” sebutnya.

Meski banyak perusahaan yang tutuo, Rudi memastikan ada beberapa perusahaan baru yang akan memulai operasionalnya tahun ini juga. Hanya, perusahaan-perusahaan tersebut berskala kecil dan tidak banyak menyerap tenaga kerja.

“Tapi kita bersyukur, pembukaan yang dilakukan beberapa perusahaan beberapa waktu lalu memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap pencari kerja di Batam,” ujarnya.

Rudi menambahkan tahun ini jumlah pendatang yang masuk ke Batam terutama untuk mencari pekerjaan relatif stabil dan jumlahnya tidak terjadi peningkatan yang luar biasa. “Mereka sudah tahu kondisi Batam,” tutup Rudi.

Sementara itu, Manager General Affair PT Batamindo, Tjaw Hoeing, Jumat (6/10) membenarkan dua perusahaan asing yang berlokasi di Kawasan Industri Batamindo, Sanmina dan Hymold, resmi tutup. Selain karena sepi order, dua perusahaan tersebut tutup karena masalah perburuhan.

Dia merinci, Sanmina merupakan perusahaan yang bergerak di bidang elektronik. Sedangkan Hymold adalah perusahaan asal Jepang yang bergerak di bidang industri pendukung.

“Mereka mengerjakan produk tergantung permintaan perusahaan pemberi order,” katanya.

Sanmina sudah mengalami sepi order selama dua tahun terakhir. Sehingga mereka memutuskan untuk tutup dan menyelesaikan kewajibannya dalam kurun waktu dua tahun hingga saat ini.

Sedangkan Ketua Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, OK Simatupang, membenarkan tutupnya Sanmina juga karena masalah perburuhan. Dua tahun lalu serikat buruh menggelar demo di perusahaan tersebut. Imbasnya, kata Ok, banyak klien Sanmina yang menarik diri dan memutuskan hubungan kerja.

“Pelan-pelan kehilangan order, lama-lama kan habis,” tegasnya.

Karena ketiadaan order, terpaksa Sanmina harus angkat kaki dari Batam. “Namun mereka masih punya itikad baik untuk bertemu karyawannya untuk selesaikan hak mereka. Meskipun ada juga sejumlah orang yang tidak mau terima kompensasinya,” tambahnya.

Masalah perburuhan yang menyebabkan tutupnya PT Sanmina yang bergerak di bidang manufaktur dengan orientasi ekspor ke Amerika dan negara lainnya, ternyata ada benarnya. Sumber Batam Pos menyebutkan, salah satu penyebab tutupnya perusahaan ini dimulai dari mogok massal dua tahun lalu yang dilakukan karyawannya. Aksi tersebut sebagai bentuk solidaritas untuk dua rekan mereka yang di-PHK.

“Ekonomi lesu iya, tapi juga mogok dua tahun lalu itu jadi pemicunya,” kata sumber Batam Pos, Jumat (6/10).

Karyawan Sanmina-SCI berdemo di perusaahaan tempat mereka bekerja di Batamindo, Mukakuning, selasa (13/1/2015). F Dalil Harahap/Batam Pos

Dengan runut sumber ini menjelaskan kronologis mundurnya PT Sanmina di Batam. Ia mengatakan akhir tahun 2014, PT Sanmina masih memiliki karyawan sebanyak 800 orang. Namun belakangan perusahaan terus mengurangi jumlah karyawan seiring dengan semakin turunnya order.

Terkait dengan PHK terhadap dua karyawan tersebut, kata sumber koran ini, lantaran keduanya sering bolos kerja. Selain itu, kinerja keduanya juga dinilai kurang baik. Meski begitu, pihak perusahaan tak langsung memecat keduanya. Melainkan melalui prosedur dengan memberikan surat peringatan (SP) 1, 2, dan 3.

“Tapi tak juga digubris, hingga akhirnya di-PHK,” ungkapnya.

Akibat PHK itu, kedua karyawan tersebut menggalang massa untuk melancarkan aksi mogok. Aksi mogok ini terlaksana hingga selama 1,5 bulan PT Sanmina tak beroperasi. Perusahaan mengaku rugi hingga jutaan dolar AS. Setelah ada kesepakatan, dua orang ini kembali bekerja. Tapi hasilnya, keduanya tetap bekerja suka-suka.

“Sama saja, tak masuk kerja. Masuk tak tepat waktu,” ungkap sumber.

Sumber ini menuturkan, efek dari mogok ini tak hanya kerugian uang. Tapi juga rugi kepercayaan. Klien-klien PT Sanmina satu per satu mulai mundur secara teratur. Order yang dulu banyak, mulai berkurang. Akibat klien-klien perusahaan ini tak lagi mempercayakan pengerjaan barang mereka ke PT Sanmina.

“Kliennya mencari perusahaan lain, yang bisa mengerjakan tepat waktu dan tanpa masalah,” ujarnya.

Hingga akhirnya, PT Sanmina hidup dari limpahan proyek dari PT Sanmina Singapura.

“Cukup lama mereka bertahan, dua tahun. Hingga akhirnya menyatakan tutup, dan tak beroperasi lagi,” tuturnya.

Terpisah, Direktur Promosi dan Humas Badan Pengusahaan (BP) Batam, Purnomo Andiantono, mengatakan pihaknya belum menerima laporan tutupnya Sanmina dan Hymold.

“Iya. Sanmina sudah dua tahun tidak ada order. Jadi tutup, tapi belum ada surat resmi tentang penutupan ini ke PTSP. Sedangkan Hymold belum ada konfirmasi,” terangnya.

Ia kemudian menceritakan, sejak 2014, Sanmina sudah tidak dapat order. Penyebabnya adalah permasalahan gesekan antara tenaga kerja dan manajemen.

“Akibatnya pembeli menghentikan order karena perusahaan tidak bisa mengantarkan pesanan tepat pada waktunya,” ujarnya.

Setelah itu, secara bertahap perusahaan mengurangi tenaga kerja hingga 140 orang. Dan tahun ini semua kewajiban ketenagakerjaan diselesaikan sehingga perusahaan harus tutup.

“Jadi ini masalah perburuhan bukan terkait kondisi yang sekarang ini. Dan jika ini berlanjut di tempat lain, maka kejadian serupa akan berulang,” ungkapnya.

Dengan tutupnya dua perusahaan ini, maka sudah ada tujuh perusahaan asing yang hengkang dari Batam pada tahun ini. Tiga perusahaan pertama yakni PT Nidec Component Technology Indonesia yang bergerak di bidang industri komponen elektronika, PT Pacific Coating Batam yang bergerak di bidang usaha jasa industri untuk berbagai pekerjaan khusus terhadap logam dan barang-barang dari logam. Dan terakhir PT Sivantos Hearing Solutions yang bergerak di bidang industri alat bantu pendengaran dan perlengkapannya.

“PT Nidec menginvestasikan modal 2,5 juta dola AS dengan tenaga kerja yang dirumahkan sebanyak 661 tenaga kerja lokal dan 7 tenaga kerja asing,” jelas Andi.

Kemudian PT Pacific dengan investasi sebesar 900 ribu dolar AS memberhentikan 185 pekeja lokal dan 11 pekerja asing. Sedangkan PT Sivantos nilai investasi mereka 610 ribu dolar AS dengan 500 karyawan lokal dan 20 karyawan asing.

Menurut Andi, total nilai investasi tiga perusahaan asing tersebut sekitar 4 juta dolar AS dengan total 1.364 karyawan lokal dan 38 karyawan asing yang kehilangan pekerjaanya.

“Sepinya order jadi alasan mereka tutup,” imbuhnya.

Dua perusahaan lagi bergerak di bidang perdagangan alat-alat berat seperti eksavator dan industri yang bergerak di bidang elektronik. Nilai investasi masing-masing adalah 1 juta dolar AS dan 1,2 juta dolar AS. Dan jumlah tenaga kerjanya mencapai 26 orang untuk dua perusahaan tersebut.

Kedua perusahaan cabut karena tidak bisa bersaing.

“Mereka datang pada tahun lalu dan sempat beroperasi, namun karena situasinya tidak kompetitif, karena tak ada yang beli produknya,” imbuhnya.

*Berharap Bantuan Pusat
Banyaknya perusahaan yang tutup akibat sepinya order membuat Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, cemas. Dia berharap ada bantuan dari pemerintah pusat untuk mengembalikan gairah industri di Batam.

“Dari kemarin tutup terus, berurut tiap bulan, tiap minggu. Kalau tak ada proyek, ya memang harus istirahat, karena tak mungkin menggaji orang,” papar Rudi, Jumat (6/10).

Ia mengaku pihaknya juga tak tinggal diam. Langkah yang ia ambil yakni dengan cara mengembangkan potensi alternatif di tengah ketidakpastian sektor industri.

“Makanya kita ciptakan proyek baru. Industri yang kini tutup berkesinabungan, mesti ada penggantinya, ya pariwisata itu yang kami siapkan,” ujarnya.

Sembari daerah berbenah, ia berharap pemerintah pusat bertindak segera agar mendudukkan masa depan Batam. “Agar kegiatan (rencana kepariwisataan) yang saya bikin cepat didesain dan lahan pekerjaan hidup lagi,” harapnya.

Selain itu, ia berharap kondisi ekonomi yang kini terpuruk tak menyurutkan layanan kepada masyarakat. Instansi di Batam hendaknya bahu membahu tetap memberikan layanan yang baik dan tidak tersendat.

“Layanan, baik Pemko maupun otorita (BP Batam) harus berjalan tak boleh berhenti, sehingga ekonomi bisa hidup lagi,” pungkasnya.

 

Masih Produksi

Suasana di PT Sanmina-SCI Batam di kawasan Batamindo terlihat lengang, Jumat (6/10/2017). Namun sejumlah karyawan masih tetap bekerja. Salah satu karyawan PT Sanmina yang tak ingin dikorankan namanya membenarkan tentang penutupan perusahaan yang memproduksi PCBA tersebut. Ia menyebutkan, saat ini jumlah karyawan yang masih aktif sebanyak 20 orang dari sebelumnya berjumlah 191 orang.

“Masih produksi. Cuman karyawan memang berkurang,” ujarnya.

Dia mengatakan selama enam bulan belakangan ini, jumlah karyawan memang banyak yang di lakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Alasannya perusahaan sedang down.

“Dari 800 karyawan sekarang hanya puluhan saja,” katanya.

Penutupan perusahaan tersebut juga diprotes oleh sejumlah karyawan. Sebab, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, pihak perusahaan langsung mem-PHK karyawan tanpa melalui prosedur yang jelas.

“Kami sebenarnya tidak terima di PHK sepihak. Seharusnya tiga bulan sebelumnya harus diberitahu,” ucapnya. (ska/cr19/atm/leo/cr13/cr17)

 

Respon Anda?

komentar