Direktur Rehabilitasi Sosial, Sonny W Manalu menyerahkan dana bantuan usaha bagi Orang dengan HIV/AIDS kepada Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kepri, Doli Boniara, Sabtu (7/10) lalu di Puskesmas Batu 10, Tanjungpinang. F. Jailani/Batam Pos.

batampos.co.id -Direktur Rehabilitasi, Kementerian Sosial (Kemensos), Sonny W Manalu mengatakan Kepri adalah daerah transit bagi penyebaran HIV/AIDS dan narkoba dan obat-obat terlarang. Karen berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia. Letak geografis ini, yang menyebabkan pertumbuhan penderita HIV/AIDS terus meningkat.

“Tidak kita pungkiri, Kepri, Batam khusus adalah merupakan daerah tujuan yang eksostis untuk mencari hiburan. Apalagi rentang kendali dengan Singapura dan Malaysia hanya hitungan menit,” ujar Sonny W Manalu usai menyerahkan bantuan usaha bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) Kepri di Puskesmas Batu 10, Tanjungpinang, Sabtu (7/10) lalu.

Atas dasar itu, ia menyimpulkan penangan ODHA di Kepri harus extra ordinary. Menurutnya, penyebaran HIV/AIDS seperti Multi Level Marketing (MLM). Karena skala perbandingan yang ketahun dan tidak, sulit untuk diungkap. Artinya, ada kemungkinan seorang tuna susila yang sudah mengidap HIV/AIDS melakukan hubungan dengan banyak orang.

“Artinya, kita tidak harus terpaku pada mereka yang melapor. Untuk meminimalisir, kita harus menggalakan sosialisasi ditengah-tengah masyarakat,” paparnya.

Diakuinya, pihaknya mendapatkan tugas berat dalam hal melakukan rehabilitasi sosial. Meskipun penangan menjadi tanggungjawab negara, tetapi Pemerintah Daerah (Pemda) juga punya tanggungjawab sosial untuk turut membantu. Menurutnya, Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) cenderung meningkat tiap tahunnya.

“Apa yang bisa kami lakukan sekarang ini juga sangat terbatas. Tahun ini ada sekitar 40 ODHA di Kepri yang mendapatkan bantuan usaha sebesar Rp5 juta,” paparnya lagi.

Lebih lanjut katanya, pihak memberikan apresiasi kepada komunitas-komunitas yang peduli terhadap ODHA. Karena atas respek yang mereka berikan bisa memudahkan langkah Kemensos dalam melakukan rehabilitasi sosial.

Dijelaskannya, ada beberapa klasifikasi ODHA yang mendapatkan bantuan usaha ekonomi Produktif ODHA. Yakni mereka yang terstigma, diskriminasi, dan dari keluarga tidak mampu. Makanya tidak semua ODHA mendapatkan dukungan tersebut. Pihaknya berharap, dukungan yang diberikan bisa dioptimalkan untuk berusaha dalam meningkatkan perekonomian secara mandiri.

“Kita tidak ingin, mereka ODHA hilang harapan. Maka baik pemerintah pusat maupun daerah harus sama-sama bersinergi untuk memberikan yang terbaik,” tutup Sony.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kepri, Doli Boniara mengatakan, untuk pencegahan pihaknya sudah berupaya melakukan sosialisi. Akan tetapi belum bisa maksimal dilakukan. Karena terbatasnya kemampuan daerah.

“Sebagai daerah lintas negara, Kepri memang sangat rentan dengan penyebaran HIV/AIDS. Bukan hanya narkoba juga demikian. Maka kita terus mendapatkan sorotan dari pusat,” ujar Doli.

Ditambahkannya, dalam bekerja pihaknya juga sudah membentuk jejaring-jejaring dengan Komunitas Peduli AIDS Kepri (Kompak) yang merupakan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS). Karena mereka yang bersentuhan langsung dengan ODHA.

Dari laporan-laporan yang mereka sampaikan, juga menjadi acuan kami dalam bekerja. Kami sangat membutuhkan dukungan dan kerjasama dari semua pihak. Mari sama-sama kita cegah penyebaran HIV/AIDS.

“Untuk memperkuat peran Pemerintah, Kemensos juga berencana untuk membentuk komunitas Sahabat Pencegah HIV/AIDS. Karena berbicara soal HIV/AIDS harus vulgar, sehingga masyarakat bisa memahami,” papar Mantan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kepri tersebut.(jpg)

Respon Anda?

komentar