Zaman terus berubah. Regenerasi sudah pasti terjadi. Siapa yang tidak mendukung perubahan tergolong orang yang rugi.

Allah SWT dalam Surat Ar-Ra’du ayat 11 mendorong seluruh manusia untuk membuat perubahan. Bunyinya: “Innallaha la yughayyiru ma bi qoumin, hatta yughayyiru ma bi anfusihim (Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan yang ada pada suatu kaum, hingga mereka mengubah apa-apa/keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.

Bicara soal perubahan, sepertinya kita tidak bisa mengesampingkan yang namanya Teori Generasi. Banyak ahli yang mengemukakan teorinya. Dari sosiolog Hungaria bernama Karl Mannheim dalam sebuah esai berjudul “The Problem of Generations” pada tahun 1923, hingga sejarawan Amerika Serikat bernama William Strauss-Neil Howe lewat bukunya: “Generations: The History of America’s Future, 1584 to 2069” pada tahun 1991. Dan masih banyak lagi.

Menurut Teori Generasi, ada lima generasi yang lahir dan hidup usai Perang Dunia II. Mereka dikelompokkan menurut tahun lahirnya. Karakteristiknya pun juga berbeda. Berikut pendefinisiannya.

Baby Boomer (lahir tahun 1946-1964)

Dalam Teori Generasi, kelompok ini diidentikkan dengan orang lama berbekal pengalaman hidup segudang. Mereka dikenal sebagai generasi pekerja keras karena hidup di masa ekonomi paling sulit setelah Perang Dunia II. Namun mereka memiliki dedikasi dan loyalitas kerja. Sehingga etos kerjanya patut diteladani.

Generasi X (1965-1980)

Di era inilah komputer, video game, televisi, hingga internet mulai dikenal. Banyak yang menilai jika Gen-X (sebutan Generasi X) inilah yang banyak ditemui di tempat kerja saat ini. Mereka diibaratkan sebagai pekerja bertipe skeptis, independen, dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan-kehidupan pribadi. Pada umumnya mereka sosok yang fleksibel, mudah beradaptasi, dan memiliki problem solver baik.

Generasi Y (1981-1994)

Biasa dijuluki Generasi Millenial atau Milenium. Istilah Generasi Y mulai dipakai koran besar Amerika Serikat tahun 1993. Golongan ini dinilai memiliki rasa percaya diri tinggi, optimistis, ekspresif, bebas, dan suka tantangan. Selain itu juga doyan menciptakan sesuatu hal yang baru, suasana kerja yang santai, dan mampu mengerjakan beberapa hal secara bersamaan (multitasking). Namun, tidak sedikit yang bilang generasi ini gampang bosan, hobi melawan arus, egois, reaktif, dan arogan.

Kebetulan saya lahir pada tanggal 30 Mei 1987. Kalau dilihat “silsilahnya”, masuk dalam kelompok ini. Semoga sifat jeleknya tidak menular. Hehehehehe

Generasi Z (1995-2010)

Disebut juga iGeneration, generasi net atau generasi internet. Sejak kecil mereka mengenal teknologi dan karib dengan gadget canggih yang memengaruhi kepribadian mereka. Generasi ini punya pemikiran yang terbuka (open-minded) dan spontan dalam mengungkapkan. Saat ini mereka adalah anak-anak muda yang masih mencari jati diri, namun diprediksikan memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik karena lahir di masa perkembangan teknologi yang sangat pesat.

Namun mereka akan menghadapi persaingan kerja yang jauh lebih ketat daripada generasi-generasi sebelumnya. Pada umumnya, Generasi Z lebih tertarik untuk menjadi pionir lewat wirausaha, tidak ragu belajar dan bekerja keras, dan mampu melakukan multitasking dengan sangat baik saat bekerja.

Generasi Alpha (2011-2025)

Mereka lahir sesudah generasi Z, lahir dari generasi X akhir dan Y. Mereka sangat terdidik karena masuk sekolah lebih awal dan banyak belajar. Saat ini, mereka masih kecil. Generasi ini diprediksi akan lebih materialistik dan fokus mereka adalah gaya hidup berteknologi tinggi. Karena mereka lahir di era kemajuan teknologi.

“(Generasi Alpha) merupakan anak generasi Y dan Z, yang lebih berkemampuan, dengan bilangan anak yang sedikit dan dengan pelbagai pilihan hiburan dan juga teknologi. Generasi ini merupakan generasi yang sangat materialistik,” ujar Mark McCrindle di dalam bukunya tentang generasi global berjudul “The ABC of XYZ”.

Kesan pertama yang didapat dari Teori Generasi adalah mengotak-ngotakkan. Namun yang berpikir seperti itu, menurut saya berpikiran dangkal. Karena tidak membaca seutuhnya. Bahkan tidak membacanya sampai selesai. Kalaupun membaca sampai selesai, tidak memaknainya.

Mayoritas perusahaan saat ini, diisi oleh hampir semua generasi. Kecuali Generasi Alpha yang masih anak-anak. Babby Boomer, Gen-X, Generasi Milenium, hingga Generasi Z sudah mengisi pos-pos yang ada di perusahaan.

Meski berada dalam satu atap, mereka punya karakteristik beda. Gaya kerjanya pun berbeda. Lebih-lebih sikap dan etos kerjanya. Namun, selama memiliki visi yang sama, hasilnya akan baik. Itulah yang dinamakan kombinasi.

Ya, kombinasi lintas generasi dalam sebuah perusahaan sangat baik. Selama itu dikelola dengan benar, perusahaan akan maju. Bahkan menjadi semakin besar. Walaupun terkadang intrik, egosentris, dan perbedaan pola pikir sering terjadi.

Beda pendapat, pandangan, dan sikap dalam mengambil keputusan adalah hal yang wajar. Karena setiap generasi punya perbedaan. Punya cara pandang sendiri-sendiri. Karena Baby Boomer, generasi X, Y, dan Z lahir di masa berbeda. Seperti yang saya jelaskan di atas.

Nah, persoalannya sekarang adalah, apakah kita semua mau menerima perubahan. Mau tidak mau, suka tidak suka regenerasi pasti terjadi. Setiap generasi ada masanya.
Beberapa perusahaan memang menerapkan kebijakan ekstrem. Tidak sedikit anak muda yang ditunjuk untuk memimpin perusahaan. Namun ada juga yang masih dipimpin orang-orang lama yang kaya akan pengalaman. Itu biasa. Tergantung kebutuhan perusahaan itu sendiri. Selama tujuannya baik bagi perusahaan, sah-sah saja.

Regenerasi harus dilakukan untuk menjaga eksistensi dan keberlangsungan perusahaan. Tidak hanya perusahaan, namun juga semua instansi. Baik itu pemerintahan, politik, dan lainnya. Saat regenerasi terjadi, sistem dan pola kerja sudah pasti berubah. Tergantung generasi mana yang melanjutkan estafet kepemimpinan.

Untuk itulah, tugas pemimpin tidak hanya memanajemen atau memimpin anak buahnya. Namun juga harus menyiapkan generasi penerus. Generasi yang akan memimpin perusahaan di masa mendatang.

Karena kebetulan saya berasal dari Generasi Y, maka sudah menjadi kewajiban bagi saya untuk mengawal dan mendampingi Generasi Z. Karena, di saat Baby Boomer, Generasi X, dan Y sudah pensiun, tongkat kepemimpinan sudah pasti akan dipegang oleh Generasi Z.
Saat ini, Generasi Z sedang semangat-semangatnya untuk bekerja. Mereka adalah anak-anak muda dengan kreativitas, kemampuan, dan keahlian tinggi.

Generasi Z digembleng oleh tiga generasi di atasnya sekaligus, Baby Boomer, X, dan Z. Makanya, saya berharap banyak terhadap generasi ini. Bahkan, saya tidak malu mengakui bahwa saya kalah cepat dan gesit dari Generasi Z. Soal ide pun saya masih ketinggalan.
Nantinya, ketika masanya Generasi Z memimpin, saya hanya bisa berpesan agar mereka mendampingi Generasi Alpha. Calon penerus Generasi Z. Insya Allah. ***

 

Guntur Marchista Sunan
General Manager Batam Pos

Respon Anda?

komentar