batampos.co.id – Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Gusti Raizal Eka Putra mengatakan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepri pada angka 6,5 persen, syaratnya adalah Kepri bisa mendatangkan investasi senilai Rp70 triliun.

“Karena memang pertumbuhan ekonomi Kepri dalam priode yang kurang baik. Tentu perlu melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan pertumbuhan tersebut,” ujar Gusti Raizal Eka Putra menjawab pertanyaan media usai rapat pembahasan ekonomi Kepri di Hotel CK, Tanjungpinang, Selasa (10/10).

Selain itu, Raizal juga menyoroti kinerja Pemerintah Daerah dalam memberdayakan potensi yang ada. Baik itu potensi perikanan maupun potensi pariwisata daerah. Ia berharap, jika itu dioptimalkan bisa mendorong pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Kepri.

Ditanya mengenai belum masuknya potensi labuh jangkar, apakah memberikan kerugian besar bagi daerah atau tidak. Menurutnya, labuh jangkar adalah sumber pendapatan yang sangat menjanjikan. Ia berharap Pemprpv Kepri bisa terus berupaya untuk mendapatkan itu.

“Memang upaya sekarang ini, masih terhambat dengan regulasi yang belum jelas. Kita berharap ini, Kepri bisa mengelolanya. Sehingga bisa mendorong bertambahnya APBD Kepri 2018 nanti,” paparnya.

Dijelaskannya, menyikapi kondisi ekonomi sekarang ini, salah satu stimulan untuk menumbuhkan perekonomian Kepri adalah dengan mempercepat pengguliran APBD, baikTanjungpinang APBD Kepri maupun Kabupaten dan Kota.

“Jika APBD Kepri ini cepat digulirkan, setidaknya sudah menyumbang sekitar 4 persen untuk pertumbuhan ekonomi Kepri. Selanjutnya ditambah dari yang lain,” papar Raizal.

Ditambahkan Raizal, bahwa prediksi Bank Dunia di Indonesia akan mengalami pertumbuhan ekonomi di tahun 2017 sebesar 5 persen sampai dengan 5,4 persen, sedangkan di tahun 2018 akan mengalami pertumbuhan sebesar 5,1 sampai dengan 5,6 persen.

Kepala BPS Kepri Panusunan Siregar mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Kepri tidak bisa lepas dari pengaruh kabupaten dan kota, karena Kabupaten dan Kotala alaha eksekuyornya,Psedangkan kedudukan Pemprov Kepri Provinsi hanya sebagai penghubung.

“Saran saya APBD agar cepat digulitkan sertiap tahunnya, baik yang murni maupun perubahan. Karena ini merupakan salah satu stimulan yang tidk bisa dipungkiri dampaknya terhadaap pertumbuhan ekonomu Kepri. Dan tentu tidak hanya APBD Provinsi aja, tapi Kabupaten dan Kota juga.Maka dari itu saya sarankan agar duduk bersama antara Pemprob dan Kabupaten/kota gunyamakan persepsi, sehingga tidak jalan sendiri-sendiri,” ujar Panusunan Siregar.

Dilanjutkannya, bahwa dalam hal ini BPS hanya bersifat mendiagnosa penyakit saja yang diderita dunia perekononian Kepri saja, selanjutnya yang mencari solusi adalah Pemerintah bersama para OPD nya.

“Seharusnya rapat spt ini sudah kita lakukan sejak dulu, sejak ketika kita baru merasa adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi Kepri ini,” katanya.

Dijelaskan lagi oleh Panusunan bahwa industri pengolahan, konstruksi dan pertambangan serta penggalian adalah 3 sektor yang pengaruhnya mencapai 67 persen dalam pertumbuhan ekonomi Kepri, dibanding sektor-sektor lainnya. Maka jika ketiga sektor ini terganggu jelas saja berdampak terhaadap yang lainnya.

Rapat terfokus masalah ekonomi ini dihadiri oleh para stakeholder yang ada, seperti Kepala BI Batam Gusti Raizal Eka Putra, Kepala BPS Kepri Panusunan Siregar, Kepala Biro Perekonomian Kepri Heri Andrianto, Kepala Biro Pembangunan Kepri Aris Fariandi, perwakilan dari lantor Perbendaharaan Negara, para akademisi dari UMRAH serta undangan lainnya.

“Rapat terfokus ini kita selenggarakan guna mendapatkan masukan-masukan dari bapak dan ibu sekalian, khususnya dalam rangka menyikapu kondisi perwkononuan Kepri yang cenderung turun. Saya yakin selaku leading sektor, bapak dan ibu tahu apa yang harus dilakukan. Hasil rapat kita ini nantiakan disampaikan kepada Gubernur sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil langkah-langkah kebijakan,” ujar Arif Fadillah.

Sekda juga mengharapkan semua srakeholder dan masyarakat berperan aktit dalam upaya meningkatkan perekonomian Kepri. Dijelaskan oleh Sekda juga bahwa ekonomi Kepri ini sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan ekononi Batam, yakni senesar 70 persen, selanjutnya disusul oleh Kabupaten dan Kota lainnya.

“Rapat ini harus berlanjut, setidaknya dilakukan 3 bulan sekali. Dan yang hadir harus pro aktif berbicara memberikan masukan,” ujar Arif lagi.(jpg)

Respon Anda?

komentar