ilustrasi

batampos.co.id – Pemerintah Kota Batam bersama TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) mulai pengerjaan rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di tiga kecamatan hinterland (pesisir, red).

Danrem 033/WP Brigjen TNI Fachri mengatakan untuk penyelesaian rehabilitasi RTLH ini pihaknya menurunkan sedikitnya 110 anggota TNI. Pengerjaan RTLH ini ditargetkan selesai (26/11) mendatang.

“Kami target satu bulan selesai tugas membangun rumah warga ini,” kata Fachri usai meninjau pengerjaan RTLH di Kecamatan Belakangpadang, Rabu (11/10).

Ia menyebutkan anggota TNI akan bekerja maksimal untuk penyelesaian RTLH ini, selain rumah jika ada bahan yang masih bagus akan dimanfaatkan untuk memperbaiki jerambah atau jalan menuju ke rumah. ” Pengerjaan akan kami pantau terus, dan ada nilainya. Kita harapkan hasil kerja kami bisa mendapat nilai A plus,” ujarnya.

Program TMMD sebenarnya merupakan kegiatan rutin TNI, namun untuk RTLH baru pertama kali apalagi jumlahnya cukup banyak yakni 100 rumah dalam satu bulan,” terang Fachri.

Sementara itu, Wakil Walikota Batam, Amsakar Achmad menyebutkan proses lelang berjalan cukup panjang, beberapa waktu lalu bahkan ada keraguan yang muncul terkait pelaksanaan RTLH. “Alhamdulillah semua berjalan sesuai waktu yang kami janjikan, pengerjaan tengah berlangsung dan dibantu TMMD,” ujarnya.

Pengerjaan ini mendapatkan perhatian yang serius dari petinggi-petinggi TNI, bahkan tanggal 17 Oktober nanti pengerjaan akan ditinjau langsung pejabat dari TNI. “Kita sangat bersyukur mendapatkan bantuan dari mereka, sehingga rehabilitasi bisa berjalan sesuai target Pemko,” sebut Amsakar.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos-PM) Kota Batam, Leo Putra mengatakan tahun ini ada 100 RTLH dengan biaya mencapai Rp 2,2 miliar. Ke depan program ini akan dilanjutkan namun ada perubahan. “Kesulitan mendapatkan bahan membuat peserta lelang kesulitan, karena itu sesuai dengan arahan pimpinan ada perubahan bahan dari kayu menjadi besi,” jelasnya.

Untuk kualitas RTLh akan ditingkatkan, namun untuk kualitas mungkin ada pengurangan. “Jadi kualitas lebih diutamakan dengan menggunakan bahan yang mudah didapatkan. Keterbatasan anggaran, jadi kami mengurangi jumlah sesuai dana yang ada,” terang mantan camat Batuampar ini.(cr17)

Respon Anda?

komentar