batampos.co.id – Musriati Lestari bersama empat anaknya yang ngontrak di perumahan Grya Sagulung Permai blok A/19, RT01/RW01, kelurahan Sagulung kota tengah dilanda perasaan was-was. Keluarga ini mengaku diintimidasi oleh sekelompok orang sejak beberapa pekan belakangan ini.

Sri sapaan akrab Musriati mengaku, sudah melaporkan situasi yang membuat keluarganya tak nyaman itu ke Mapolsek Sagulung, namun laporan itu ditolak polisi dengan alasan yang menurut Sri tak masuk akal.

Kepada wartawan Sri menuturkan, Sabtu (7/10) malam lalu, rumahnya didatangi oleh sekelompok orang. Puluhan orang itu datang langsung mengamuk dan memotong semua pohon pisang yang ada di halaman rumah kontrakannya. Kelompok massa itu mengaku dari warga sekitar atas sepengetahuan perangkat RT/RW yang tidak terima halaman rumah Sri ada tanaman pohon pisang. “Datangnya tengah malam pak, sudah mau jam 12 malam itu mereka ngamuk-ngamuk dan potong semua pisang di depan rumah ini,” ujar Sri, Kamis (12/10).

Sri sebenarnya tidak mempersoalkan pohon pisangnya dipotong dengan alasan untuk kenyamanan dan keindahan komplek perumahan itu, namun yang membuat Sri kecewa kenapa harus mengerahkan massa dan tengah malam mereka melakukan itu.

“Terus kenapa rumah-rumah lain yang ada pohon pisang tak dipotong, kenapa hanya depan rumah saya saja,” protes Sri.

Selain itu, hal lain yang membuat Sri harus melapor kepolisi, adalah sikap dari warga sekitar yang sepertinya tak terima jika dia dan keluarganya harus ngotrak di rumah tersebut. Dia mengaku seperti ditekan setiap hari dalam berbagai hal.

Musriati Lestari bersama empat anaknya yang ngontrak di perumahan Grya Sagulung Permai blok A/19, RT01/RW01, Kelurahan Sagulung kota, Sagulung duduk di depan rumahnya, Kamis (12/10). Rumahnya digeruduk massa malam-malam akibat dia menanam pohon pisang di depan rumahnya. F.Dalil Harahap/Batam Pos

“Misalkan sampah saja, yang lain bakar boleh, saya tak boleh. Kalau saya bakar sampah pasti langsung didatangi orang-orang itu,” katanya lagi.

Merasa terancam, Sri mengadu ke Mapolsek Sagulung. “Saya lapor malah katanya itu masalah sepeleh, tak perlu dibesar-besarkan. Tapi kan saya dan keluarga saya yang merasakan situasi tak nyaman seperti ini,” ujar Sri.

Situasi yang tak bersahabat dialami Sri ini dibenarkan oleh Dharmalis, tokoh masyarakat setempat. Menurut Dharmalis, apa yang dilakukan warga itu diluar batas kewajaran. Jika memang keluarga Sri melanggar aturan dalam lingkungan seharusnya disampaikan baik-baik dan tak perlu mengerahkan massa seperti itu.

“Apalagi malam-malam ngapain. Sri cuman seorang wanita ya datanglah baik-baik siang hari dikasih tahu kalau memang tak boleh ada pohon pisang di depan rumah,” tutur Dharmalis.

Dengan adanya kejadian itu, Dharmalis selaku sesepuh di perumahan itu berharap agar ada jaminan keamanan dari perangkat RT/RW setempat ataupun dari pihak kepolisian. “Biar segala persoalan diselesaikan secara bijak,” tuturnya.

Kanit Reskrim Polsek Sagulung Ipda Bonar Hutapea saat dikonfirmasi mengaku pihaknya masih berupaya agar diselesaikan secara kekeluargaan dulu.

“Bukan tak terima. Masalah ibu sudah kami terima laporannya cuman kami tak mau gegabah. Selama masih bisa dimediasikan kami beri waktu untuk mediasi dulu,” tutur Bonar. (eja)

Respon Anda?

komentar