batampos.co.id – Pedagang barang bekas atau seken di Batuaji dan Sagulung kesulitan mendapatkan stok barang seken. Ini karena belakangan marak terjadi penangkapan kapal-kapal pengangkut barang seken dari Singapura atau Malaysia oleh petugas yang berwenang. Imbasnya banyak lapak atau kios pasar seken yang tutup karena tak ada stok barang yang akan dijual.

Lokasi pasar seken di deretan ruko Winner Junction, Sagulung Kota misalkan terpantau cukup sepi, sepanjang hari kemarin (Rabu, 12/10). Hanya ada sekitar delapan kios yang terlihat buka. Padahal di lokasi itu ada puluhan lapak kios barang seken mulai dari perlengkapan sepatu, pakaian ataupun perabotan rumah tangga.

Rosina, seorang pedagang perlengkapan sepatu menuturkan, kondisi seperti itu sudah terjadi sejak dua bulan belakangan ini. Sebagian pedagang terpaksa menutup lapak dagangan mereka karena memang stok barang yang akan dijual tak ada. “Sekarang susah mau dapat barang lagi. Banyak kapal (muatan barang seken) yang ditangkap. Biasanya barang diantar, tapi sekarang sudah tak bisa lagi,” ujar wanita 35 tahun itu.

Mereka yang bertahan kata Rosina, karena memang barang dagangan itu dijemput sendiri ke Singapura atau Malaysia.

“Saya misalkan, harus ke Singapura dua minggu sekali jika ingin bertahan. Barang terpaksa jemput sendiri,” ujarnya.

Dengan sistem jemput sendiri, tentu jumlah barang yang didapat tidak begitu banyak. Karena berbenturan dengan aturan kepabeanan, seorang pengunjung hanya bisa membawa dua koper saja.

“Jadi yang bisa hanya dagangan pakian atau sepatu. Kalau perabotan tak bisa,” tuturnya.

Sistem tersebut tentu memakan biaya yang lebih banyak, sehingga para pedagang yang bertahan mau tak mau harus menaikan harga barang datang mereka.

Rosmin Sihotang, 47, menyusun dagangan sepatu sekennya di komplek Winner Bugis Jungtion, Sagulung, Kamis (12/10). Pedagang sepatu seken saat ini mengeluh akibat stok sepatu langka akibat dilarang masuk dari Singapura. F. Dalil Harahap/Batam Pos

“Makanya sekarang harga agak naik karena memang susah mau dapat barang,” tutur Rosina.

Keluhan serupa juga datang dari pedagang seken di pasar Mandalay, Sagulung. Maraknya penangkapan kapal pengakut barang seken belakangan ini berimbas buruk bagi pedagang seken di sana. Selain krisis stok barang seken, para pedagang juga harus merogok kocek lebih dalam lagi agar tetap menjalankan usaha mereka itu.

“Serba susah sekarang. Sudahlah sistem jemput, jualanpun tak laris. Orang pada tak mau beli karena memang harganya agak mahal. Gimana tak mahal kami juga tentu tak mau rugi. Ongkos jemput barang ke sana juga harus diperhitungkan,” tutur Ando, seorang pedagang pakain bekas.

Para pedagang berharap agar situasi seperti ini secepatnya berakhir agar usaha mereka kembali lancar. Bagaimanapun di wilayah Batuaji dan Sagulung peminat barang seken cukup tinggi.

“Sudah banyak langganan saya, tapi karena persoalan ini jadi berkurang. Sehari paling lima potong baju saja yang terjual,” ujar Ando lagi. (eja)

Respon Anda?

komentar