batampos.co.id – Akademisi Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (STISIPOL) Raja Haji, Tanjungpinang, Endri Sanopaka mengatakan proses pemilihan Wakil Gubernur (Wagub) Kepri sampai sekarang sudah menguras banyak energi. Menurutnya, cepat atau lambatnya tergantung Gubernur Kepri, Nurdin Basirun sebagai usernya.

“Jika melihat progres sekarang ini, yang memegang peran penting adalah Gubernur. Jika ia menginginkan Wagub, sudah pasti ia berupaya mendudukan persoalan ini. Sebaliknya, jika Gubernur tidak memberikan respon, arahnya sudah jelas (tidak ingin punya wagub,red),” ujar Endri Sanopaka menjawab pertanyaan Batam Pos, Rabu (18/10) di Tanjungpinang.

Masih kata Endri, meskipun setiap partai pengusung punya kepentingan politik yang berbeda. Tetapi untuk masalah sekarang ini, ego tersebut bisa dikesampingkan. Apalagi menyangkut kepentingan publik. Kepri adalah Provinsi yang teritorial daerahnya dibatasi oleh laut.

“Untuk lebih maksimal dalam bekerja, perlu patner. Sehingga berbagi tugas dalam melayani masyarakat Kepri,” paparnya.

Menurut Endri, kapasitas gubernur yang juga merupakan Ketua partai tentu sudah memahami kondisi dan situasi politik yang terjadi di internal partai pengusung. Pada posisi inilah, Gubernur harus menjadi penengah.

“Masyarakat Kepri sangat menginginkan adanya seorang Wakil Gubernur. Tetapi prosesnya tidak kunjung tuntas. Bahkan ada pihaknya menggugat karena Kepri tak kunjung memiliki Wagub,” jelas Endri.

Secara Politik, Fauzi Menjanjikan Sementara itu, terkait tiga kandidat yang tersisa dan punya peluang yang sama untuk mengisi slot yang ditinggalkan Agus Wibowo mendapatkan penilaian tersendiri dari Akademisi STISIPOL Tanjungpinang, Endri Sanopka.

“Secara politik, Fauzi Bahar memang sudah teruji. Karena dua priode menjabat sebagai Walikota Padang. Tetapi tidak menjadi jaminan, karena terpulang kepada Gubernur sebagai user,” ujar Endri Sanopaka kemarin.

Menurutnya, baik Fauzi Bahar, Rini Fitrianti maupun Mustafa Widjaya punya kompetensi yang berbeda-beda. Rini misalnya, meskipun kedudukannya merupakan Staf Khusus Gubernur, tetapi selama ini sering mendampingi Mantan Gubernur Kepri, Alm. HM. Sani.

“Artinya sedikit banyak juga memahami tentang birokasi dan politik. Apalagi ia juga didukung dengan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa internasional,” paparnya.

Lebih lanjut, sosok Mustafa Widjaya adalah seorang birokrat yang cukup sukses dalam memimpin BP Batam selama beberapa tahun. Dari sisi birokrasi, tentunya ia juga sangat menguasai. Maka dari itu, ia melihat ketiga kandidat yang tersisa punya kompetensi yang berbeda-beda.

“Gubernur tentu akan mencari sosok yang nyaman dan bisa bekerjasama dengan dirinya. Intinya adalah mereka yang mengajukan diri, semuanya layak untuk menjadi Wagub Kepri,” tutup Endri.

Terpisah, Ketua Panitia Pemilihan (Panlih) Wagub Kepri, Hotman Hutapea mengatakan, Pansus Wagub sudah menyerahkan hasil verifikasi ke pimpinan DPRD Kepri. Setelah ini adalah menunggu Pimpinan DPRD menyerahkan surat ke Partai pengusung melalui Gubernur.

“Kita ingin proses ini cepat selesai, maka surat permintaan calon pengganti akan diserahkan langsung Pimpinan DPRD bersama Panlih Wagub kepada Gubernur,” ujar Hotman, kemarin.

Ditanya kapan akan diserahkan surat tersebut. Politisi Partai Demokrat itu mengatakan belum ada kepastian, karena menunggu pimpinan DPRD Kepri berkomunikasi dengan Gubernur. Dijelaskannya, deadline waktu berlaku, apabila surat tersebut sudah diterima Gubernur.

“Surat itu nanti akan ditembuskan ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Partai Pengusung, dan Fraksi-Fraksi di DPRD Kepri,” jelas Hotman.

Sembari menunggu penyerahan surat tersebut, Hotman berharap partai pengusung bisa bermusyawarah untuk menentukan kandidat terpilih yang akan menggantikan posisi Agus Wibowo. Karena akan lebih baik, jika tujuh hari pertama sudah ada kandidatnya.

“Kita juga sangat menginginkan proses ini cepat selesai. Tentu perlu dukungan dan kerjasama partai pengusung,” tutup Hotman.(jpg)

Respon Anda?

komentar