Lucky Agung Binarto pernah mengecewakan hati orang tuanya. Ia tak bisa mewujudkan harapan orang tua untuk jadi seorang insinyur. Namun kemudian, pria yang akrab disapa Lucky ini mampu menebus rasa kecewa itu dengan caranya sendiri.

Suara derik sendal jepit di ruang tunggu Kepala Imigrasi Batam, Jumat (27/10) sore terdengar jelas. Bersamaan dengan itu, vokal tegas menyapa Batam Pos. Sosok bersendal jepit dan bersuara lantang itu ternyata Lucky, Kepala Imigrasi Kelas 1 Khusus Batam.

Sore itu, Lucky terlihat santai. Mengenakan batik merah, celana goyang hitam dan sendal jepit biru. Tanpa ragu, tangan tegasnya menyalami Batam Pos.

“Mau minum apa, teh atau kopi?, tak boleh air putih, teh saja ya?,” ujar pria kelahiran 1965 ini menawarkan tanpa menunggu jawaban dari Batam Pos. “Santai saja,” sambungnya lagi.

Tak perlu panjang kali lebar menjelaskan tujuan Batam Pos ke tempatnya. Mantan mahasiswa Univestasi Diponegoro Semarang ini sudah langsung mengerti “Saya cukup akrab dengan media. Dua adik saya juga di media,” terang Lucky.

Ditengah obrolan, Lucky pun bercerita perjalanan hidupnya. Berawal dari keinginan untuk bekerja di luar negeri. Lucky mengaku sempat memupuskan harapan orang tuanya. Kenapa tidak, kedua orang tuanya ingin ia menjadi seorang insiyur. Namun harapan itu ditepis, dengan tidak melajutkan kuliah di jurusan teknik.

“Dulu saya sekolah di jurusan teknik. Orang tua ingin saya jadi insiyur. Tapi keinginan itu tak sesuai dengan minat dan bakat saya,” ungkap bapak dari tiga anak ini.

Lucky sempat menyesal atas kenekatannya. Namun hal itu tak ditunjukan langsung kepada orang tuanya. Dengan tekad dan kegigihannya, Lucky melamar banyak pekerjaan. Hingga suatu hari, ada lowongan pegawai di Departemen Kehakiman. Ia pun melamar dengan ijazah SMA. Ternyata Lucky lulus. Namanya masuk dari sekian banyak nama-nama pegawai yang diterima di Departemen Kehakiman.

“Saya diterima. Sambil bekerja saya kuliah di Undip jurusan ke Notarisan. Rasa kecewa orang tua saya berangsur berkurang,” terangnya.

Berjalannya waktu, Lucky merasa bakatnya tak ada disana. Ia pun mulai mencari lowongan lain. Bak gayung bersambung, Imigrasi membuka peluang untuk pegawai baru. Dengan pede, Lucky melamar dan mengikuti tes.

“Saya ikut pendidikan semi militer. Saya lulus sebagai pegawai Adhyaksa Imigrasi. Kalau tak salah itu tahun 94,” ingat Lucky.

Tahun pertama, Lucky mendapat tugas di Kantor Imigrasi Soekarno Hatta Jakarta. Seiring waktu, ia pun mulai memikirkan perjalanan karir dan cita-citanya. Ia pun mengambil pendidikan magister dengan jurusan hukum pidana di Undip. Namun, gelas S2 itu cukup lama harus diraih, karena fokusnya terbagi antara kerja dan kuliah. Apalagi lokasi kerja antara Jakarta dan Semarang. Dua setelah kuliah, barulah Lucky dipindah ke Semarang dan menambatkan bangku S2nya.

“Untuk sekolah, saya sempat gadaikan SK,” ujarnya tertawa mengingat.

Lulus dari S2, Lucky dapat tugas di Surakarta. Ia menjabat sebagai Asisten Kepala Unit Khusus TKI. Setiap hari, ia harus berurusan dengan ribuan TKI. Jabatan itu ia lakoni sejak tahun 2002 hingga 2006. Empat tahun menjabat, Lucky dimutasi ke Bandung. Disana, ia menjabat sebagai Kepala Seksi Perizinan Kantor Imigrasi Kelas 1 Batam.

Setahun menjabat di Bandung, Lucky dapat kepercayaan bertugas di Singapura. Ia diberi tugas sebagai Asisten Atase Imigrasi di Singapura. “Nah, saat bertugas di Singapura, banyak pengalaman menarik, mulai suka dan dukanya,” terang Lucky.

Ia sempat menangani kasus Manohara. Artis Indonesia yang menikah dengan Pangeran di Malaysia. Tak hanya Manohara, ia juga menangani kasus Gayus Tambunan. Koruptor yang sempat melarikan diri dari Indonesia. Menurutnya, permasalahaan Manohara dan Gayus cukup dramatis. Ia pun harus rela bolak balik, hingga telpon ke Indonesia, untuk memastikan status orang-orang tersebut. Status Manohara dan Gayus dipastikan untuk mengeluarkan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) atau paspor sementara.

“Kasus mereka cukup dramatis. Sebab, untuk mengeluarkan SPLP ke Indonesia harus tahu status mereka seperti apa. Pokoknya di Singapura banyak kasus menarik,” jelas Lucky.

Empat tahun menjabat di Singapura, lucky ditarik kembali ke Indonesia. Ia mendapat tugas di Bali. Namun, di Bali ia hanya tiga bulan. Lagi-lagi Lucky dipercaya bertugas di luar negeri. Kali ini, ia dipercaya sebagai Atase Imigrasi Jerman.

Seminggu bertugas disana, Lucky langsung dapat tugas berat. Sebuah kapal pesiar dengan 300 ABK orang Indonesia tengelam di laut Berlin. Bahkan, Kapten 2 Kapal Pesiar tersebut juga orang Indonesia.

“Tantangan saya cukup berat disana. Saya yang belum tahu dengan kawasan Berlin, harus menyelesaikan permasalahaan itu dengan cuaca 10 derajat. Semua data ABK berjumlah 300 orang hilang karena kapal tenggelam. Dan saya harus memastikan para ABK bisa selamat sampai Indonesia,” cerita Lucky.

Pertengahan tahun 2015, Lucky kembali ditarik ke Indonesia. Kali ini, ia mendapat tugas ke Papua, Jayapura. Lain negara dan tempat, lain lagi permasalahaan yang ia hadapi. Ia mengaku di demo masyarakat hanya karena batalnya pertandingan antara Persipura dengan Malaysia.

Tim Malaysia tak jadi Ke Papua karena permasalahaan visa dua pemain asing tim Malaysia. Pemain asing yang diduga dari Eropa tak memiliki visa sehingga tak bisa masuk ke Indonesia.

Tim Malaysia melakukan aksi solidaritas, mereka tak mau masuk Indonesia jika dua pemain asing itu tak bisa masuk.

“Nah, kesalahaan bukan dengan kami. Itu kesalahaan penyelenggara. Syukur hal ini dapat diselesaikan dengan baik, meski ada demo dari warga,” ingatnya.

Tak lama bertugas di Papua, ia kembali dimutasi ke Jawa Timur dan menjabat Kepala Devisi Imigrasi. Satu tahun lebih menjabat disana, ia tiba-tiba mendapat mandat jadi Kepala Imigrasi Kelas 1 Khusus Batam. Menerima mandat itu cukup membuat Lucky was-was. Apalagi dengan banyak informasi negatif terkait Imigrasi Batam.

“Yang saya tangkap, banyak permasalahaan di Batam. Mulai helm ngantri, TKI ilegal, Imigran dan lainnya,” tukas Lucky.

Namun berbekal ilmu yang ia miliki, Lucky yakin bisa memperbaiki seluruh pelayanan Imigrasi di Batam. Bahka, ia membuat terobosan baru agar pelayanan Imigrasi semakin baik.

“Batam multi calture dan etnis. Kebanyakan yang tinggal disini bukan suku asli ini. Tentunya ada cara menghadapi masyarakatnya. Menurut saya, pandai bergaul salah satu cara untuk mengatasi hal ini, jangan menutup diri,” pungkasnya mengakhiri pembicaraan. (Yashinta, Batam)

Respon Anda?

komentar