batampos.co.id – Dalam perkembangan infrastruktur di Batam saat ini, pasar otomotif kian optimis terhadap peningkatan penjualan. Diyakini, pembangunan jalan yang memadai, menunjang animo masyarakat untuk memiliki kendaraan.

Branch manager Suzuki Indomobil Batam, Rudy Wijaya mengaku, penjualan produknya berbanding lurus dengan market yang ada.

“Dibandingkan tahun lalu, 2017 ini memang pencapaian penjualan menurun sekitar 10-15 persen,” ujar Rudy, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, hal itu dipicu dengan kondisi perekonomian yang terbilang lesu. “Pasarnya memang sedang di bawah target saat ini, tetapi tidak menghalangi ke optimisan kami untuk menjual produk,” jelasnya.

Di samping itu, seiring perbaikan pembangunan jalan di Batam yang masih dalam proses tersebut, juga dianggap menghambat keinginan masyarakat untuk memiliki kendaraan sendiri. “Rata-rata jalan di pusat Kota Batam kan dalam proses pembangunan, banyak debu atau jalan tak merata. Orang Indonesia cenderung berpikir hemat dan ‘sayang barang’. Tidak tertutup kemungkinan mereka berpikir menunda punya kendaraan dalam situasi seperti ini,” papar Rudy.

Dalam keoptimisan, pihaknya masih menonjolkan pelayanan dan menghadirkan produk dengan model terbaru yang mumpuni. “Kami tetap yakin ke depan pasar otomotif tetap membaik di Batam, apalagi pembangunan di batam kian pesat,” ungkapnya.

Selain karena infrastruktur, pasar otomotif Batam mulai bertransisi menuju tren baru penjualan saat ekonomi tengah lesu-lesunya. Saat ini, penjualan mobil pick up tengah menanjak karena era digital telah merambah seluruh sektor ekonomi di Batam.

“Sebenarnya ekonomi lesu tidak membuat pasar otomotif Batam turun drastis. Untuk kategori mobil mewah seperti Completely Build Up (CBU) mungkin iya, tapi untuk mobil niaga atau mobil keluarga tetap stabil,” kata Wakil Ketua Bidang Otomotif dan Perbengkelan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam, Rusli Kurniawan akhir bulan lalu.

Menurut pria yang sudah berkecimpung di dunia otomotif selama 14 tahun ini, penjualan mobil niaga seperti pikap tetap bertahan dengan baik.

“Mobil niaga banyak laku karena banyak jasa ekspedisi membutuhkannya. Ekspedisi ini berkembang karena meningkatnya transaksi dari jual beli online. Kan kita lihat banyak mobil pick up yang bolak balik bandara karena jemput atau antar kiriman,” ungkapnya.

Sedangkan untuk kategori mobil penumpang, penurunan memang terjadi. Namun untuk mobil-mobil penumpang dari pabrikan ternama seperti Toyota Avanza atau Vios atau mobil-mobil Low Cost Green Car (LCGC) seperti Toyota Agya dan Daihatsu Ayla masih diminati masyarakat. Alasannya sederhana karena bisa digunakan untuk berdagang atau menjual jasa.

“Contohnya jasa taksi go-car atau taksi grab. Lagipula banyak juga yang berjualan saat ini dengan Avanza. Lalu banyak juga kan yang pesan katering untuk pesta-pesta,” jelasnya.

Tren penjualan otomotif untuk menunjang kebutuhan berniaga seperti ini diperkirakan akan terus bertahan lama karena situasi ekonomi yang belum pulih.

“Untuk mobil-mobil mewah yang untuk gengsi, prestise, koleksi dan gaya-gayaan, masyarakat tak akan beli karena dianggap bukan kebutuhan lagi,” paparnya.

Karena masyarakat tidak berminat lagi terhadap mobil mewah maka tidak heran banyak penjualnya yang membanting harga bahkan ada yang tutup sama sekali, seperti salah satu showroom di wilayah Baloi.

Meskipun begitu, Rusli tidak memungkiri bahwa pangsa otomotif memang menurun. Dari data Samsat saja katanya hanya ada 600 penjualan mobil tahun ini. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencatat angka penjualan di atas 1.000 unit.

Penurunan ini memang tidak bisa dipungkiri terjadi karena daya beli masyarakat yang menurun tajam. Ambruknya sektor galangan kapal dianggap sebagai aktor utama.

“Pemerintah harus bisa melihat jeli peluang lainnya. Batam ini banyak yang bisa dikembangkan sehingga sebenarnya kita tak perlu bergantung pada satu sektor ekonomi saja,” jelasnya.

Selain itu, insentif supaya investor mau masuk ke Batam dianggap penting untuk kembali menggairahkan kembali penjualan otomotif.

“Karena hulunya semua ada di kebijakan pemerintah sekarang. Kalau pintu yang satu tertutup, maka carilah pintu alternatif lain. Jangan hanya berpangku pada satu sektor saja,” harapnya.

Impor mobil CBU pun dikabarkan terus menurun. Kondisi ekonomi global yang tengah lesu dan pembatasan impor oleh pemerintah pusat menjadi penyebabnya.

“Selain itu, peminat mobil CBU itu dari kalangan High End. Jika sudah punya mobilnya, maka jarang yang akan beli lagi, ” kata Direktur Lalu Lintas Barang BP Batam, Tri Novianto.

Ilustrasi

Berdasarkan data yang dihimpun BP Batam hingga Mei 2017, penurunan dimulai sejak tahun 2012. Pada tahun 2012, ada 1.429 unit mobil CBU masuk ke Batam. Tahun 2013, turun menjadi 1.265 unit. Tahun 2014 turun menjadi 1077 unit. Tahun 2015 turun lagi hingga 964 unit. Tahun 2016 menjadi hanya 596 unit dan hingga Mei 2017, hanya 206 unit mobil CBU yang masuk ke Batam.

Terpisah, Sales Manager PT Honda Capella Kepri, Harry Sutiono mengatakan pada semester pertama 2017, penjualan sepeda motor Honda turun sebanyak 27 persen dibanding periode yang sama pada tahun lalu.

“Terutama yang paling berimbas adalah penjualan Honda Matic,” ungkapnya.

Untuk mendongkrak kembali angka penjualan, banyak perusahaan pembiayaan (leasing,red) yang menerapkan kebijakan bunga rendah untuk uang muka (down payment) dari 5 hingga 10 persen.

“DP rendah itu sudah berjalan karena leasing disini sudah terapkan DP 5 hingga 10 persen. Cuma ya sekarang ekonomi lagi lesu, jadi mau sekecil apapun DP-nya, daya beli masyarakat kan memang turun, ya sama saja,” jelasnya.

Menurut Harry, cara yang paling baik untuk meningkatkan kembali pasar penjualan otomotif adalah dengan meningkatkan kepercayaan investor untuk berinvestasi di Batam.

Seperti yang diketahui, pangsa pasar motor Honda adalah masyarakat kelas menengah kebawah yang bekerja di kawasan industri manufaktur dan shipyard serta kategori informal.

Dengan banyaknya perusahaan industri yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) maka berimbas pada penjualan sepeda motor Honda.

“Cara membangun kepercayaan investor adalah dengan mempermudah perizinan, memperbaiki pelayanan supaya ada kepastian hukum,” tegasnya.

Agung Toyota selaku diler resmi mobil Toyota Batam mencatat penjualan market share year to year (yoy) dibandingkan dari tahun 2016 Januari -Agustus dengan tahun 2017 Januari-Agustus terjadi menurun sekitar 20 persen.

Sales Supervisor Agung Toyota Muhajir mengatakan market share dibanding year to year tahun 2016 Januari -Agustus sekitar 6.105 unit, dengan estimasi perbulan 774 unit. Sedangkan Januari-Agustus 2017 tercatat angkanya 4.956 unit atau dengan estimasi perbulan 620 unit.

“Artinya dibandingkan tahun lalu, penjualan kami turun sebesar 20 persen,” kata Muhajir.

Sedangkan market share tahun 2015 Januari- Agustsus sekitar 7.581 unit, atau perbulan hanya 948 unit. Sehingga terjadi penurunan dari 2015 ke 2016 sekitar 18,3 persen. Sementara itu bila dibandingkan dengan tahun 2014 dengan bulan yang sama tercatat 8.635 unit atau 1.709 unit perbulan.

“Tahun 2014 ke 2015 turun sebanyak 12,2 persen. Artinya sejak 2014 setiap tahun terjadi penurunan, bukan membaik,” tergasnya.

Muhajir melihat, dibandingkan dengan empat atau tiga tahun lalu, daya beli masyarakat tetap tinggi. Dimana uang muka yang dibayarkan sebesar 30 persen bisa dicicil dengan tenor waktu tiga tahun saja. Sedangkan dua tahun belakang ini konsumen hanya mampu membeli dengan uang muka minim yakni 20 persen untuk perusahaan, dan 15 persen untuk perorangan dengan waktu cicil lebih panjang lima hingga tujuh tahun.

“Daya beli masyarakat berkurang, melihat dari kemampuan cara bayar dan waktu cicilan yang lebih panjang yang mereka inginkan,” terangnya.

Muhajir berharap dengan melihat kondisi ekonomi Batam yang terus menurun ini, agar pemerintahan kota Batam bisa mengatur kebijakan dan mengakamodir semua kebutuhan dari pengusaha.

“Arah kebijakan yang ditetapkan harus jelas, kalau arah sudah jelas kemungkinan perekonomian akan meningkat. Tentunya dengan sinergi antara BP Batam dan Pemko agar bisa menarik investor ke Batam,” sebutnya. (cr12/leo/nji/opi)

Respon Anda?

komentar