ilustrasi

batampos.co.id – Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, pemerintah telah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen.

Padahal pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2017 hanya mencapai 5,06 persen. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 5,03 persen.

Target APBN 2018 itu pun dianggap tak moderat jika berkaca pada hasil yang dicapai pada tahun ini.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, dengan capaian realisasi pertumbuhan ekonomi yang kurang memuaskan, pihaknya pesimis pertumbuhan ekonomi Indonesia 2018 dapat terealisasi.

Dirinya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada 2018 hanya akan tercapai di kisaran 5,25 persen. Capaian itu didorong oleh adanya pesta demokrasi, karena 2018 merupakan tahun politik.

“Saya coba hitung dampak pemilu terhadap pertumbuhan ekonomi hanya 0,1-0,2 persen Kalau tahun ini tumbuh 5,05 persen. Artinya tahun 2018 cuma tumbuh 5,25 persen secara maksimum,” ujarnya kepada JawaPos.com, Kamis (9/11).

Untuk itu, dirinya menilai pemerintah perlu mempertimbangkan kembali target pertumbuhan ekonomi di 2018. Menurutnya, akan lebih realistis jika pemerintah mempertimbangkan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

“Asumsi makro 2018 memang perlu direvisi nanti di APBN P 2018 pertengahan tahun,” tandasnya. (cr4/JPC)

Respon Anda?

komentar