Sunaryo, Dokumen Aswandi untuk Batam Pos

batampos.co.idKabar kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan Soekarno-Hatta di Jakarta tiba di Kepulauan Riau. Bukan cuma untuk dirayakan, tetapi juga dipertahankan. Tapi, sayangnya sedikit saja yang mengingat nama-nama martir itu.

Pertama, marilah mengenang Sunaryo. Nama orang Jawa ini sekarang abadi pada sebuah ruas jalan menanjak di Tanjungpinang. Sejarawan Kepri, Aswandi Syahri menceritakan, Sunaryo adalah nama yang paling benderang di tengah nyala api revolusi di Kepri.

“Aksi-aksi Sunaryo selalu menjengkelkan pemerintah Belanda di Tanjungpinang,” kisah Aswandi, kemarin.

Memasuki pertengahan tahun 1946, suasana politik di Tanjungpinang mamasuki suasana yang genting dan mencapai titik didihnya. Tokoh-tokoh dan organisasi pendukung Republik mulai menyusun sejumlah gerakan yang dipandang ekstrimis oleh Coenrad, Komandan Reserse (Hoofd Recherche) Polisi Belanda, dan Residen Belanda di Tanjungpinang. Akibatnya, penangkapan dan pengeledahan sejumlah tokoh revolusi di pada sejumlah tempat di Tanjungpinang.

Memanasnya suhu politik ini, kata Aswandi, dimulai oleh seorang Sunaryo. Agitasi-agitasi yang dilakukan oleh Sunaryo sebagai Komandan Pos Polisi Belanda di Tanjungpinang, yang juga anggota Gerakan Merah Putih dan tokoh Badan Kedaulatan Indonesia Riouw (BKIR). Walaupun berdinas sebagai anggota Veldpolitie Belanda, Sunaryo dikenal sangat membenci dan anti Belanda.

Laporan-laporan polisi dan jaksa Belanda di Tanjungpinang mencatat, bahwa Sunaryo pernah beberapa kali mengumpulkan uang untuk membantu aktivitas kurir perwakilan Republik Indonesia yang selalu berulang-alik ke Tanjungpinang mengumpulkan informasi tentang keuatan militer Belanda.

Sunaryo, sambung Aswandi, juga dilaporkan selalu mengumpulkan eks Giyutai (tentara pembera pulau-pulau pada zaman jepang) pada sebuah rumah makan Padang di Tanjungpinang yang dijadikannya markas Gerakan Merah Putih.

“Bahkan, dalam laporannya kepada Jaksa Agung di Batavia, Residen Riau menyebutkan bahwa Soenaryo antara lain kerap menyalahgunakan dan mempertaruhkan jabatannya sebagai guru sekolah polisi di Tanjungpinang dengan melakukan propaganda bagi Gerakan Merah Putih dan menyebarkan sentimen anti Belanda kepada murud-muridnya,” tutur Aswandi.

Kekhawatiran pemerintah Belanda tindak-tanduk Sunaryo, semakin memuncak, ketika diketahui bahwa ia akan melakukan sebuah peemberontakan yang didukung oleh 100 orang polisi bersenjata. Akibatnya ia dipecat dari kepolisian dan ditahan di penjara benteng KNIL di Bukit Tanjungpinang (sekarang Rumah Sakit AL Tanjungpinang) setelah melalui serangkain pemeriksaan pada 3 Juli 1946.

Penahanan Sunaryo berimbas panjang. Semakin membuat suhu politik dan aktivitas organisasi pendukung kemerdekaan di Tanjungpinang semakin riuh. Apalagi ketika penahanan itu berakhir dengan kematian Sunaryo secara tidak wajar.

“Ia gugur wira bangsa dan martir di pentas revolusi di Kepulauan Riau,” kata Aswandi.

Yusuf Kahar yang ditandai tanda merah. F. Dokumen Aswandi untuk Batam Pos

Selain Sunaryo, ada Yusuf Kahar. Sama seperti Sunaryo, namanya abadi pada seruas jalan di muka GOR Kaca Puri Tanjungpinang. Yusuf Kahar adalah salah satu tokoh yang erat kaitannya dengan sejarah mempertahankan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan upaya-upaya mengibarkan merah putih di Kepulauan Riau.

Sunaryo dan kawan-kawan bergerak di Tanjungpinang, sedangkan Yusuf Kahar berjuang di Dabo Singkep dan sekitarnya.

“Ia adalah bagian dari heroisme pemuda-pemuda republieken pendukung proklamsi kemerdekaan di Lingga, Senayang, Penuba, dan Dabo Singkep yang tersebar dalam berbagai organisi seperti; Komite Nasional Indonesia (KNI), Pemuda Republik Indonesia (PRI), dan Party Kaum Buruh Indonesia (PKBI) yang berpusat di Singapura,” terang Aswandi.

Sejak November dan Desember 1945, sejumlah anggota organisasi pemuda republieken tersebut berafiliasi dengan pemimpin-pemimpin republik di Sumatra, terutama yang berada di Indragiri, dan mulai melakukan gerakan “di bawah tanah” untuk mengusir Belanda dari Pulau Singkep, Lingga, Senayang, dan Pulau Selayar atau Penuba.

Setelah itu, terutama sejak Mei 1946, situasi di Dabo Singkep dan Penuba yang merupakan pusat konsentrasi Belanda semakin memanas. Puncaknya adalah ketika 50 anggota kesatuan Tentara Kemanan Rakyat (TKR) dari Tembilahan yang dimpim oleh Sersan Major Andris Kilak sampai di Dabo Singkep dan menyerang pos militer Belanda di Penuba bersama pemuda-pemuda anggota arganisasi pro-republik di Dabo Singkep, Senayang, dan Penuba pada 12 Juni 1946.

Sebuah agresi terjadi. Adu tembak tak terelakkan hingga menewaskan sang komandan. Oleh Belanda, serangan bersenjata di Penuba itu terbilang mengejutkan. Akibatnya, dilakukan penggeledahan, penangkapan, dan berujung pada penahanan. Sejumlah dokumen organisasi pro-republik dirampas.

Dari dokumen itu tersebut nama-nama yang terlibat. Yusuf Kahar bersama Said Abdullah, Sukarjo, Sukarwo, Encik Muhamad bin A. Kahar (abang Yusuf Kahar) dan Ja’afar Panggabean ditangkap di Dabo Singkep pada 21 Oktober 1946. Saat agresi Penuba, nama-nama yang termaktub dalam dokumen itu merupakan anggota Tentara Republik Indonesia (TRI).

Mereka kemudian digiring ke Tanjungpinang. Lalu dijebloskan di penjara Kampung Jawa. Setelah menjalani proses pengadilan militer, para tawanan perang dari Dabo Singkep itu harus menjalani 2,5 hingga 5 tahun kurungan di penjara yang sama.

“Namun tidak demikian halnya dengan Yusuf Kahar. Beliau telah lebih dahulu wafat sebelum seluruh proses pengadilannya selesai,” terang Aswandi.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap pejuang republik dengan status tahanan Belanda yang wafat dalam usia 28 tahun, prosesi pemakaman Yusuf Kahar dihadiri oleh ketua Riouw Raad dan anggotanya, juga seluruh pemuda anggota organisasi pendukung proklamasi di Tanjungpinang.

Hampir tiga puluh tahun kemudian, penghormatan itu kian purna. Pada 1976, makam Yusuf Kahar di Taman Bahagia dipindah oleh pemerintah Kabupaten Kepulauan Riau ke Taman Makam Pahlawan Pusara Bakti di Tanjungpinang. “Pada nisan pusaranya hanya ditulis M.Y. Kahar 1948,” terang Aswandi.

Sejalan sebagai laku penghormatan atas jasa-jasa Yusuf Kahar, pemerintah daerah pun mengabadikan namanya pada seruas jalan di Tanjungpinang. Sekaligus mendampingi nama Sunaryo, rekan semasa seperjuangan mempertahankan kemerdekaan, yang juga ditetapkan sebagai nama jalan.

“Ironinya, sekarang anak muda lebih kenal Yusuf Kahar sebagai nama jalan, dan bukan keberaniannya angkat senjata untuk mempertahankan kemerdekaan,” pungkas Aswandi. (aya)

Respon Anda?

komentar