ilustrasi

Sephia, 46, akhirnya mengakui pernah berselingkuh dengan pembantunya, sebut Donjuan, 50.

Sephia tak menyadari bahwa niat baiknya mengungkap kebenaran justru berakhir petaka. Rumah tangganya tidak hanya hancur. Anak-anaknya tak mau mengakui dia sebagai ibu. Sephia pun diusir dan seperti tak dianggap oleh keluarga besar. Yang membuat ia menyesal suaminya, Donwori, 53, harus opname karena stroke memikirkan pengkhinatan Sephia, 15 tahun lalu.

“Saya niatnya itu hanya ingin mengungkap uneg-uneg. Suami juga bisa memaafkan tapi kok akhirnya begini jadinya. Saya serba repot, dan merasa sangat bersalah,” kata Sephia di sela-sela sidang talak cerainya di Pengadilan Agama (PA), Klas 1A Surabaya, Rabu (1/10).

Bersama pengacaranya, Sephia mengaku berupaya untuk bisa mempertahankan mahligai rumah tangganya. Apalagi, sang suami kini sudah tidak berdaya di kamar rumah sakit.

“Saya tetap merawat dia, tapi emang rasanya beda. Ia terlihat banget marah. Tidak begitu banyak ngomong. Jadi pada enggak enak semua,” kata Sephia.

Menurut Sephia, kehidupannya mulai renggang saat pembantunya ke rumahnya untuk silaturahim. Ia kaget karena pembantunya membawa anak yang sebenarnya adalah anaknya dengan pembantu. Istri mantan pembantunyanya lah yang merawatnya hingga besar sekarang.

Seperti mengingat masa kelamnya, Sephia waktu itu terjebak cinta segitiga dengan pembantunya. Suaminya sering tugas keluar kota sampai akhirnya ia kurang kasih sayang dan tergoda dengan Donjuan.

Ia hamil dan akhirnya istri Donjuan rela merawat anaknya karena ada permasalahan dalam kandungannya. Ketiganya berjanji menutup mulut dengan syarat, Sephia tetap mengirim nafkah. Selama 14 tahun, Donjuan dan istrinya pindah ke Kalimantan. Sephia tetap rutin mengirim uang kepada istri Donjuan untuk menambah pemenuhan kebutuhan anaknya.

“Saya itu enggak enak, kok anak ini mirip banget dengan saya. Saya juga kasihan sama istri Donjuan yang waktu ke rumah sakit kanker. Akhirnya saya jujur bahwa anak yang dibawa ke rumah adalah anak saya dan pembantu,” papar warga yang tinggal di Rungkut itu.

Perasaan bersalah dan ingin mengakui anaknya akhirnya memaksa mengungkapkan kebenaran. Bukannnya kesadaran atas kesalahannya, namun kehidupannya makin ruwet. Apalagi, setelah itu, Donjuan dan istrinya kembali ke Kalimantan dengan membawa anaknya.

“Saya merasa sendirian, ini sedang cari alamat mereka dan mengambil anak saya tapi belum menemukan,” kata wanita yang memiliki dua anak dari Donwori tersebut.

Saat ini, ia berharap suaminya bisa memaafkannya. Pasalnya, ia kini harus ngekos sendirian di kawasan Kertajaya untuk mendekati kantor kerjanya di kawasan tersebut. Anaknya mengusir dari rumahnya sendiri.

“Saya serba repot,” pungkas dengan suara tangis. (sb/han/jek/JPR)

Respon Anda?

komentar