Penumpang pelni dari Pulau Midai Natuna, harus menyeberang menggunakan pompong sebelum menaiki tangga kapal. F. Aulia Rahman/Batam Pos.

batampos.co.id – Meski pelabuhan Pelni di Midai, Natuna sudah selesai dibangun, namun belum bisa difungsikan untuk bersandarnya kapal Pelni. Penumpang masih harus menantang bahaya saat menaiki tangga kapal, melalui pompong.

Pelantar Kecamatan Midai, minggu lalu tampak ramai. Beberapa pompong nelayan terlihat berjejer di tepi pelantar yang dikhususkan mengangkut penumpang KM Bukit Raya yang lego jangkar jauh di tengah laut.

“Malam ini cuaca cukup bagus. Jadi bisa aman menyeberang ke tengah. Tapi kalau ada angin kencang, penumpang harus bersabar, memang berbahaya apalagi jadwal Bukit Raya tengah malam begini,” ungkap Soni, seorang pemilik pompong.

Menurut Soni, menyeberangkan penumpang dari Pompong ke tangga kapal KM Bukit Raya sangat berisiko. Jika mendadak angin kencang dan ada gelombang, maka pompong akan terhempas ke lambung kapal yang terbuat dari besi.

Insiden di Serasan beberapa tahun lalu, sebutnya, masih tidak bisa dilupakan masyarakat yang tinggal di pulau. Pompong penyeberangan yang ditumpangi warga pecah dihempas gelombang ke lambung kapal Pelni. Insiden tersebut menewaskan beberapa warga Serasan termasuk balita.

Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suprapti yang merasakan dramatisnya penyeberangan pompong ke kapal Pelni mengaku, akan berusaha agar pelabuhan Pelni di Midai cepat difungsikan pada 2018 mendatang. Kunjungan Ngesti di Pulau Midai untuk mengevaluasi kendala pembangunan maupun pelayan masyarakat.

“Pelabuhan Pelni di Midai tinggal dipasang rambu laut dan tangga. Tahun 2018 akan diupayakan dilengkapi. Sudah tidak selayaknya masyarakat masih menantang bahaya seperti ini,” ujar Ngesti. (arn)

Respon Anda?

komentar