batampos.co.id – Ketua Tim Pengkaji Peneliti Gelar Daerah (TP2GD) Provinsi Kepri, Abdul Malik mempersoalkan sinopsis Sultan Mahmud Riayat Syah III yang dibacakan Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri saat perayaan penyambuatan Sultan Mahmud sebagai Pahlawan Nasional di Gedung Daerah, Tanjungpinang, Sabtu (11/11). Menurut Malik, sang Sultan tidak pernah sedikitpun berkompromi dengan Belanda.

“Perayaan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah dan masyarakat Provinsi Kepulauan Riau terhadap Anugerah Gelar Pahlawan Nasional Gerilya Laut Republik Indonesia kepada Sultan Mahmud Riayat Syah sungguh luar biasa hebatnya,” ujar Malik, kemarin.

Menurut Malik, gelaran itu menunjukkan apresiasi, kebanggaan, sekaligus penghormatan kepada Allahyarham Sultan Mahmud Riayat Syah dan jasa-jasa serta perjuangan luar biasa SMRS dalam menghalau penjajah Belanda dari bumi nusantara ini. Malangnya kata Malik, acara megah dan sakral itu tercoreng oleh pembacaan Sinopsis Perjuangan Sultan Mahmud Riayat Syah.

“Entah siapakah yang menulis sinopsis itu dan tak diketahui juga motif dan motivasinya menuliskan begitu sehingga dibacakan oleh si pembaca sinopsis apa adanya,” papar Malik,

Akademisi Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menegaskan, yang paling fatal dan ceroboh, di dalam pembacaan sinopsis itu disebutkan Sultan Mahmud Riayat Syah pernah berupaya melakukan rekonsiliasi diplomatik dengan VOC-Belanda, tetapi ditolak oleh Belanda.

“Bertahun-tahun kami Tim Penulis Naskah Usulan Sultan Mahmud Riayat Syah sebagai Pahlawan Nasional Gerilya Laut Republik Indonesia melakukan penelitian. Tak ada satu fakta dan data pun yang kami temukan bahwa Sultan Mahmud Riayat Syah pernah berdiplomasi dengan Belanda. Malah sebaliknya, VOC-Belanda-lah yang berupaya untuk menjalin diplomasi dengan Sultan Mahmud, tetapi ditolak oleh Baginda Sultan,” tegas Malik.

Dekan Fakultan Ilmu Pendidikan dan Keguruan tersebut juga menjelaskan, upaya Belanda itu dijawab oleh Sultan Mahmud Riayat Syah dengan perang. Ungkapan bahwa Sultan Mahmud pernah berupaya melakukan rekonsiliasi diplomatik dengan VOC-Belanda secara tersirat “mengecilkan arti perjuangan dan ketauladanan” Sang Pahlawan Nasional Gerilya Laut itu. Apalagi, kesemuanya itu tak berbasis fakta dan data. Tak jelas apa motif yang melatari penyisipan ungkapan menyimpang itu di dalam sinopsis perjuangan Sultan Mahmud Riayat Syah yang dibacakan di depan banyak sekali hadirin yang membanjiri Gedung Daerah, Sabtu, 11 November 2017,”

“Melalui klarifikasi ini, kami Tim Penulis Naskah Usulan mengimbau masyarakat untuk tak terpengaruh oleh ungkapan yang tak berdasar dan jauh dari nilai akademik itu. Kalau Sultan Mahmud pernah menjalin diplomasi dengan musuh, tentulah Baginda tak diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Karena perkara itu sangat sensitif bagi seorang figur Pahlawan Nasional,” terang Malik.

Poster Sultan Mahmud Riayat Syah saat memimpin Kesultanan Lingga diperkenalkan pada event tingkat Provinsi Kepri. f-istimewa

Ditambahkannya, nyatanya Sultan Mahmud Riayat Syah disahkan oleh Pemerintah Republik Indonesia, melalui Presiden Joko Widodo, karena sejak 1784-1811. Karena Sang Sultan sangat gigih melawan Belanda. Dan, sejak berhijrah ke Lingga 1787 sampai 1811 Baginda menerapkan strategi perang gerilya laut sehingga Belanda harus mengakui Kemerdekaan Kesultanan Lingga-Riau-Johor-Pahang dan Kedaulatan Baginda Sultan Mahmud Riayat Syah sebagai Penguasa Terbesar Kesultanan tersebut.

“Kalaupah sinopsis ini yang disampaikan saat usulan kemarin. Kami yakin, sudah tidak masuk kategori pahlawan nasional lagi,” tutup Malik.

Seperti diketahui, Tim Penulis Naskah Usulan Sultan Mahmud Riayat Syah sebagai Pahlawan Nasional Gerilya Laut mereka yang terlibat adalah, Dr. Drs. H. Abdul Malik, M.Pd; Prof. Dr. Susanto Zuhdi; Dr. Mukhlis PaEni; Dr. Didik Pradjoko; Drs. H. Abdul Kadir Ibrahim; M.T, Drs. Suarman; Kamarul Zaman, S.Pd; Raja Malik Hafrizal, dan Lazuardy.

Pemprov Gelar Syukuran Adat, Sambut Pahlawan Nasional.

Sultan Mahmud Riayat Syah resmi menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/Tahun 2017 Anugerah diserahkan langsung oleh Presiden Jokowi kepada ahli waris keturuan kedelapannya yaitu Tengku Husein Saleh di Istana Negara, Kamis (9/11) lalu.

Atas Anugerah ini Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menggelar berbagai acara penyambutan sebagai rasa syukur dan menghargai jasa-jasa Almarhum Sultan Mahmud Riayat Syah yang telah berkorban harta dan bahkan nyawa untuk Indonesia.

Gubernur Kepri H. Nurdin Basirun mengatakan bahwa Sultan Mahmud Riayat Syah sebagai Pahlawan Bahari yang dimiliki Kepri saat ini diharapkan menjadi motivasi dan semangat yang dititipkan untuk masyarakat di Kepri guna terus bejuang dengan semangat membangun daerah.

“Para pejuang yang telah berujang dimasa lalu dan kita nikamti kemerdekaannya maka saat inilah kita melanjutkan perjuangan mereka dengan berjuang dalam pembangunan, ekonomi, pendidikan, budaya serta agama,”ujar Nurdin.

Nurdin melanjutkan bahwa disela-sela Penyambutan tadi Tanjungpinang diguyur hujan seakan pertanda yang menggambarkan bahwa Beliau berjuang menjaga keutuhan NKRI khususnya di wilayah Kepri tidak pernah menyerah dan tanpa lelah meskipun dalam keadaan panas, hujan maupun badai dan angin kencang.

“Kejadian yang kita rasakan tadi baiknya kita ambil hikmah dan pelajaran berarti apalagi kita tahu bahwa hujan merupakan pertanda berkah yang datang dari Allah SWT semoga Kepri selalu di berkahi olehNya,” papar Nurdin.

Tak lupa Nurdin berpesan bahwa perjalanan membangun daerah masih panjang, diibaratkan sebuah perahu bernama Kepri tentu kita semua adalah para pengisi perahu tersebut dengan menjalankan tugas dibidang dan tanggungjawab masing-masing.

“Untuk itu kebersamaan diantara kita sangat dibutuhkan dalam berlayar menuju kejayaan Kepulauan Riau,” tutup Nurdin.

Sementara itu Tengku Husein Saleh selaku ahli waris dari Sultan Mahmud Riayat Syah mengucapkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh elemen masyarakat yang terus berjuang dan berperan aktif sehingga anugerah ini diberikan.

Syukuran sendiri diawali dengan pembacaan riwayat hidup Sultan Mahmud Riayat Syah oleh Budayawan Melayu Rida K. Liamsi, Dilanjutkan dengan pemberian tepuk tepung tawar oleh Gubernur Nurdin kepada Ahli Waris Tengku Husein Saleh ditutup dengan Penyerahaan tanda penghargaan pahlawan nasional dan Plakat keputusan Presiden RI dari ahli waris Tengku Husein Saleh kepada Gubernur Nurdin.

Hadir pada kesempatan tersebut Sekdaprov Kepri H.TS. Arif Fadillah berserta Istri Hj. Risma Rini, Asisten I dan III Raja Ariza dan Muhammad Hasbi, Walikota Tanjungpinang Lis Darmansyah, Kepala-Kepala OPD, Ketua LAM Abdul Razak, Tokoh masyarakat berserta tamu undangan lainnya.(jpg)

Respon Anda?

komentar