Sutarto, pendiri Sanggar Sang Nila Utama Bintan, mengajar anak-anak tarian melayu di sanggarnya di Tanjunguban. F. Slamet/Batam Pos.

batampos.co.idBudaya dan kesenian Melayu telah mendarah daging dalam dirinya meski Sutarto merupakan anak yang lahir dari buah cinta pasangan ibu asli Blitar dan bapak asli Banyumas. Tak heran apabila dirinya sering menekankan kepada
generasi muda supaya jangan sampai budaya serta kesenian Melayu menjadi tamu di rumah sendiri.

Lelaki kelahiran 16 Agustus 1966 di Tanjunguban, Bintan ini dikenal sangat sederhana
meski memegang jabatan penting di SMA ykpp Tanjunguban Kecamatan Bintan utara, Bintan. Terlihat bagaimana pendiri dari sanggar tari Sang nila utama menyambut para tamunya.

Meski lahir dari kedua orangtua asli jawa, namun Tarto, demikian sapaannya lahir dan besar di Tanah Melayu. Ia bersekolah di SD negeri 3 Tanjunguban dan SMP negeri 2 Tanjunguban, yang sekarang bernama SMP negeri 12 Tanjunguban lalu melanjukan sekolah pendidikan guru negeri di Tanjungpinang. Setelah lulus, dia merantau ke pekanbaru, Riau untuk melanjutkan kuliah di jurusan pendidikan pada univesritas Islam Riau (uir), Pekanbaru. “S2 di Malang, di univesritas kanjuruhan,” katanya, menambahkan masih di program jurusan pendidikan.

Setelah bergelar sarjana pendidikan, Tarto muda melamar pekerjaan di ykpp Tanjunguban. Ia diterima sebagai guru. Oleh kepala sekolah waktu itu, Drs H Badaruddin, Tarto merupakan guru satu satunya yang lahir di Tanah Melayu, sedangkan guru lainnya didatang kan dari jawa. “Saya diminta pak Badaruddin untuk mengembangkan budaya Melayu di sekolah. Alasannya karena saya lahir di sini,” katanya.

Tak terpikir bagaimana mulanya ia harus membina anak-anak di sekolah dan mengajar ekstrakurikuler kesenian Melayu. Meski diakuinya, budaya dan kesenian Melayu mengalir dengan sendiri dalam dirinya. Yang diyakini kala itu adalah kemauan. “Semua orang
yang mau, pasti bisa. Hanya soal waktu saja,” kata dia ringan. Bermula dari acara-acara kecamatan, acara perayaan 17 Agustusan sampai acara-acara di tingkat desa, dirinya bersama anak-anak didiknya diminta tampil.

Lalu, di saat pemekaran terjadi membawa angin segar bagi dirinya dan anak-anak dirinya. kala itu, Bintan berdiri sendiri setelah dimekarkan. Mau tidak mau, Bintan harus memiliki
wakil sendiri, yang selama ini diwakilkan Tanjungpinang. Di sini, sekolahnya mulai aktif mengikuti berbagai ajang maupun lomba seni dan budaya baik di tingkat kabupaten, tingkat provinsi maupun nasional. Tarto pun semakin tertantang. Biasanya jika di event tingkat kecamatan, dirinya masih melatih sendiri anak anak didiknya, tapi bila
ada event skala besar dirinya dibantu oleh teman-temannya yang asli
keturunan Melayu.

“Saya panggil teman-teman dari penyengat untuk melatih. Mereka adalah Azmi Mahmud yang biasa menkreasikan musik dan tari, lalu ide biasanya ada Ikhsan dan Yudi,” katanya. “Saya belajar juga, dulu kalau ada pelatihan selain mengirimkan anak-anak untuk
dilatih, saya juga ikut latihan,” tambahnya tersenyum.

Festival Tari tingkat kabupaten Bintan pada tahun 2007 melambungkan namanya. Dirinya mewakili kecamatan Bintan utara menang di lomba tersebut. Dari itu, anak-anak didiknya semakin tekun berlatih. Bahkan, dari itu, mereka sering mewakili Bintan hampir di setiap tahun. “Tahun 2015 dan 2016, dua tahun berturut-turut kami juara, tahun 2014
mewakili provinsi di tingkat nasional, lalu november tahun lalu mewakili Indonesia di acara Asian di Singapura,” tuturnya.

Meski sering tampil, namun anak-anak didiknya belum memiliki nama pada tahun tahun pertama tampil. Hingga akhirnya terbentuklah sanggar tari, Sang nila utama, yang diambil dari nama Raja Bintan pertama. nama itu diberikan oleh seniman dan budayawan Husnizar Hood. “Zaman itu belum terpikir buat sanggar, apalagi di kasih nama sanggar, tidak terpikir, kasih nama. Lalu pak Husnizar Hood dari dewan kesenian provinsi
memberikan nama yang bagus, yakni Sang nila utama dan saya tidak ada
masalah, saya tidak melupakan asal usul nama itu, Saya pun ikut saja,” katanya.

Sekarang setelah nama sanggarnya sering tampil, ia mengatakan, masih sering berkomunikasi dengan rekan-rekannya itu. Terebih rekannya di penyengat, yang selalu memberi ide untuk tari tari kreasi Melayu. “Cerita rakyat Melayu atau dari kisah kerajaan Melayu banyak yang diangkat dalam tarian, makanya kita perlu kawan kawan yang tahu soal sejarah Melayu,” kata dia.

Saat ini, ia terus mengembangkan tradisi budaya dan kesenian Melayu. Alasannya, sangat sederhana, karena dirinya tinggal di daerah Melayu. “Alhamdulillah banyak generasi muda yang dibina, dan banyak yang mencintai budaya dan kesenian Melayu. Saya juga kerap tekankan agar budaya dan kesenian Melayu jangan sampai jadi tamu di rumah sendiri,”
tukasnya. Oleh karena itu, ia meminta generasi muda menjadikan budaya dan kesenian Melayu sebagai tuan rumah di daeranya sendiri dengan cara menekuni tari Melayu, setidaknya untuk dinikmati masyarakat sendiri. Harapannya ke depan, agar budaya Melayu bukan sebatas menjadi ikon di wilayah sendiri, tapi diminati orang luar.

“Mengajak generasi muda mencintai budaya sendiri, karena budaya kita menarik,” katanya. Selain itu, ia melihat usaha pemerintah dalam mengembangkan pariwisata
di daerah sangat besar. “Ini modal utama kita, wisatawan dari luar ke mari. Sekarang kita sering diminta tampil dari pihak hotel di Lagoi, juga di Batam, dalam beberapa acara acara nikahan dan lainnya,” tukasnya. (cr21)

Respon Anda?

komentar