Kompetisi sepak bola tertinggi di Tanah Air, Liga 1 berakhir sudah. Bhayangkara FC dinobatkan sebagai juara.

Mengemas poin 68 atau sama dengan Bali United, klub binaan Polri itu unggul head to head. Penyebabnya, musim ini The Guardian–julukan Bhayangkara FC–sukses membungkam Serdadu Tridatu–julukan Bali United–dua kali berturut-turut. Baik dalam laga home di Stadion Patriot Bekasi, maupun saat melawat ke Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar Bali.

Meski kalah di laga terakhir melawan Persija Jakarta dengan skor 1-2 Minggu (12/11) kemarin, namun anak asuh Simon McManamy tetap menjadi juara. Meskipun di saat bersamaan, Bali United menumbangkan Persegres Gresik United tiga gol tanpa balas.

Selepas itu, Evan Dimas dan kawan-kawan pun berpesta. Pendatang baru yang dulunya bernama Persikubar hingga Persebaya menjadi juara baru.

Euforia dirasakan seluruh pemain, ofisial, manajemen, dan tentu saja keluarga besar Polri.

Kendati demikian, di tengah euforia itu muncul sorotan. Status juara yang disandang Bhayangkara FC terasa janggal. Pasalnya, kontroversi menyelimuti hajatan Liga 1.

Banyak yang kecewa dengan PSSI maupun PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku penyelenggara.

Ada yang bilang jika status juara yang diberikan kepada Bhayangkara FC dipaksakan. Ada juga yang bilang sebuah konspirasi.

Penyebabnya adalah, vonis terhadap Mitra Kukar yang menguntungkan Bhayangkara FC. Komdis PSSI “memenangkan” Bhayangkara FC. Skor yang semula 1-1 menjadi 3-0 untuk Bhayangkara FC.

Bak ketiban durian runtuh, Bhayangkara FC mendapat tambahan dua poin. Artinya, juara di depan mata. Sementara Bali United yang habis-habisan untuk bisa menang atas tuan rumah PSM Makassar meradang.

Pengorbanan mereka di Stadion Andi Mattalata seolah sia-sia. Diteror, diintimidasi, hingga ditimpuki penonton harus dirasakan Irfan Bachdim dan kawan-kawan demi bisa mencuri poin penuh.

CEO Bali United Yabes Tanuri menyebut jika Liga 1 adalah Liga Sinetron Indonesia. Selepas itu, ramai-ramai para superstar lapangan hijau menghujat PSSI dan LIB.

Mereka menyebut ada konspirasi di balik titel juara yang diraih Bhayangkara FC.

Mitra Kukar yang merasa jadi korban juga ikut-ikutan protes. Sayang, tim beralias Naga Mekes itu hanya emosi sesaat. Harapan pecinta sepak bola Tanah Air agar Mitra Kukar protes ternyata hanya angan. Cuma isapan jempol.

Jadilah Bhayangkara FC mulus melaju menjadi juara Liga 1. Bali United yang kadung kecewa tetap tak terima. Mereka menasbihkan diri sebagai The People Champion. Bukan juara PSSI.

Herannya, justru banyak yang memberikan ucapan selamat kepada Bali United ketimbang Bhayangkara FC. Mungkin, salah satu tolok ukurnya adalah duel sengit antara PSM melawan Bali United yang berkesudahan 0-1 untuk tim asal Pulau Dewata.

Ya, itulah Liga Indonesia. Penuh kontroversi. Gonta-ganti pimpinan. Dari politisi hingga militer. Dari terpidana hingga pengusaha. Tetap saja menimbulkan kontroversi.

Banyak yang lucu dan aneh.

Entah karena apa, terlalu banyak persoalan yang menimpa sepak bola negeri ini. Induk organisasi sepak bola itu kerap dipolitisir. Hasilnya ya begitu. Selalu bikin heboh. Bukan kualitas kompetisi yang heboh, tapi kontroversinya yang luar biasa hebohnya.

Bagi saya, salah besar jika Bhayangkara FC disalahkan sepenuhnya. Mereka hanyalah kontestan. Sama seperti Bali United, PSM, Persib Bandung, dan tim lainnya.

Boleh dibilang, mereka juga menjadi korban amburadulnya kompetisi. Bhayangkara FC hanya berusaha menjadi yang terbaik. Sama seperti klub lain. Mengejar prestise sebagai yang terbaik di Tanah Air.

Berada di posisi Bhayangkara FC memang tidak mengenakkan. Mereka menjadi juara atas kerja keras dan keringat.

Naas. Mereka malah dihujat. Kesalahan PSSI dan LIB harus mereka tanggung.

Bhayangkara FC menjadi juara yang dihujat.

Terlepas dari itu semua, marilah berpikir positif terhadap Bhayangkara FC. Jika ingin disalahkan, tujukan kepada PSSI dan LIB. Merekalah yang memutar kompetisi. Kontroversi yang mereka ciptakan telah mencederai semangat fair play.

Semoga, ke depan sepak bola Indonesia makin baik. Manajemen yang baik akan menghasilkan kompetisi yang berkualitas. Tentunya harus menjunjung tinggi rule of the game yang sudah ditetapkan FIFA maupun AFC.

Sehingga, tidak ada lagi Bhayangkara FC yang lain. Juara yang dihujat.

Salam olahraga. ***

 

Guntur Marchista Sunan
General Manager Batam Pos

Respon Anda?

komentar