ilustrasi

Donjuan, 45, dan Karin, 40. Ah keduanya nama samaran, ialah sepasang suami-istri. Sudah dua tahun ini kondisi rumah tangga mereka kacau balau.

Penyebabnya, Donjuan jadi korban PHK dan belum juga mendapat pekerjaan yang baru.

Parahnya, uang tabungan mereka juga sudah habis. Mobil melayang, perhiasan pun terjual. Sedangkan dua anak mereka, terus butuh biaya sekolah. Dapur pun harus tetap ngebul setiap hari.

Donjuan sudah habis-habisan mencari perkerjaan baru. Kalau dulu dia manajer, kini rela jadi sopir serabutan atau perusahaan. Tapi, itu pun hanya sebentar. Paling lama tiga bulan. Rupanya Karin tak mau suaminya punya gaji di bawah UMK. Perempuan yang sudah dinikahi selama 15 tahun itu, ngotot minta gaji Donjuan yang seperti dulu.

Karena tak bisa memenuhi permintaan Karin, Donjuan sering cek cok dengan istrinya. Masa lalu pun diungkit-ungkit.

“Yang saya dituduh pernah selingkuh lah, nggak tegas, kurang lincah cari kerja, boros,” kata Donjuan usai menjalani persidangan di Pengadilan Agama (PA) Klas 1 Surabaya, belum lama ini.

Sampai akhirnya pertengkaran terjadi. Malah melibatkan pak RT untuk melerai.

“Mau bagaimana lagi, masak suami ditunjuk tunjuk, yo tak tunjek (pukul, red),” aku Donjuan.

Tak kuat menerima cobaan itu, akhirnya Karin melayangkan gugatan cerai kepada suaminya melalui PA Klas 1A Surabaya. Donjuan pun ditinggalkan sendirian di rumahnya di wilayah Rungkut. Wanita ini memilih purik, pulang ke orangtuanya di Sidoarjo bersama dua anaknya.

“Saya disamakan dengan tebu. Habis manis sepah dibuang. Kok tega banget. Katanya dulu mau sehidup semati. Lah sekarang kok kayak gini,” ungkap Donjuan usai menjalani persidangan.

Meski sudah minta maaf dan menghadap langsung ke mertuanya, Donjuan tak dihiraukan. Bahkan, dia tidak bisa melihat Karin karena selama dua kali persidangan, perempuan ini diwakili pengacara.

“Nasib, nasib. Kalau rezekinya sudah segitu, mau bagaimana lagi?” ujar Donjuan, pasrah bongkoan. (sb/ang/jek/JPR)

Respon Anda?

komentar