batampos.co.id – Pemerintah sepertinya harus kerja ekstra keras dalam menangani masalah banjir di Kota Batam. Sebab bukannya berkurang, titik banjir di kota industri ini justru semakin bertambah setiap tahunnya.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BM-SDA) Kota Batam, Yumasnur, menyebutkan titik banjir di Batam pada akhir tahun lalu tercatat ada di 33 lokasi. Namun ia memastikan, saat ini jumlahnya lebih banyak lagi.

“Karena semakin banyak yang membangun. Titik banjir malah bertambah,” kata Yumasnur saat meninjau titik banjir di Batamcenter, Selasa (14/11).

Bahkan kata Yumasnur, masalah banjir di Batam saat ini kian mengkhawatirkan. Sebab bukan hanya titiknya yang bertambah, banjir di Batam juga mulai mengancam keselamatan warga.

“Bahkan ada longsor juga. Hari ini cukup parah banjirnya,” terang Yumasnur.

Yumasnur mengklaim, selama ini Pemko Batam sudah banyak melakukan upaya pencegahan. Di antaranya dengan menormalisasi drainase di sejumlah titik. Seperti Nagoya, Jodoh, Batamcenter, Batuaji, Sagulung, dan Seibeduk.

Wakil Wali Kota Amsakar Achmad, mengakui penanganan banjir di Batam belum maksimal. Bahkan hingga tahun depan, pemerintah belum bisa fokus menuntaskan persoalan banjir.

“Memang tak ter-cover, kami masih fokus (bangun) jalan,” kata Amsakar, kemarin.

Walau demikian, kata dia, pembangunan jalan tetap dibarengan dengan upaya penanganan banjir. Misalnya dengan memperlebar drainase di kanan kiri jalan yang baru dibangun atau diperlebar.

“Sekarang kan udah begitu,” imbuhnya.

Amsakar mengatakan, Pemko Batam tak sendirian dalam mengatasi banjir. Pihaknya juga meminta bantuan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPU PR). Selain itu, bantuan juga didapat dari Balai Wilayah Sungai Sumatera IV untuk penanganan dua titik dranase.

“Banjir ini penyelesaiannya bertahap, tak bisa satu waktu,” ucapnya.

Amsakar mengungkap tiga kendala utama penanganan banjir di Batam. Pertama, masalah anggaran yang minim. Kemudian masalah lahan yang terbatas. Pemko Batam mengaku kesulitan mendapat alokasi lahan untuk drainase dari Badan Pengusahaan (BP) Batam.

Selain itu, kendala lainnya adalah curah hujan di Batam yang cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut dia, cuaca di Batam semakin ekstrem, terutama di setiap akhir tahun.

“Di muara juga terjadi penyempitan,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengklaim saat ini sudah ada beberapa titik banjir yang berhasil diatasi. “Orang kami di lapangan sudah sangat bekerja keras untuk ini,” tambahnya.

Pantauan Batam Pos, hujan deras yang mengguyur Batam sejak subuh kemarin menyebabkan banjir di sejumlah titik. Sebaran banjir merata di wilayah Batamcenter, Batuaji, Sagulung, Jodoh, dan Seibeduk.

Sejumlah guru dan siswa SMPN 28 Batam berusaha menyelamatkan peralatan diruang guru yang terendam air hujan, Selasa (14/11). F Cecep Mulyana/Batam Pos

Di Batam Centre sendiri ada beberapa lokasi banjir. Seperti di Jalan Sudirman, Cikitsu, depan Kapita Plaza, termasuk di SMPN 28 Batam yang selalu menjadi langganan banjir.

Akibat banjir ini, kegiatan belajar mengajar di SMPN 28 terpaksa dihentikan. Seluruh siswa dipulangkan. “Banyak kabel terendam air. Khawatir pada kena setrum,” kata Tri, Wakil Kepala SMPN 28, kemarin.

Banjir SMPN 28 ini disaksikan langsung Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Muslim Bidin. Muslim mengatakan, persoalan banjir di sekolah tersebut diperkirakan masih akan berlanjut hingga tahun depan. Sebab Pemko Batam baru akan merelokasi gedung SMPN 28 pada tahun 2019 mendatang.

“(Lokasinya) dekat sekolah ini, tapi lebih tinggi. Tanahnya hibah dari developer,” ucap Muslim di SMPN 28 Batam, keamrin.

Muslim menyebutkan, sebenarnya masalah banjir ini bisa diatasi dengan menimbun sebagian gedung sekolah. Namun alternatif ini akan memakan biaya yang sangat banyak. Sehingga Pemko Batam memilih solusi relokasi. “Arahan Pak Wali Kota, relokasi jalan satu-satunya,” ujarnya.

Muslim menuturkan, jika dihitung-hitung, untuk menimbun atau meninggikan sekolah itu biayanya hampir sama dengan biaya membangun gedung sekolah baru.

Kasi Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Hang Nadim, Suratman, mengatakan hujan yang mengguyur Kota Batam sepanjang hari kemrin mencapai 76 mm. “Termasuk deras itu,” ungkapnya.

Ia mengatakan dari data tahun sebelumnya, saat memasuki November hingga Desember, Batam selalu diguyur hujan deras. “Dalam setahun itu ada dua periode hujan turun lebih banyak dan deras dibandingkan bulan lainnya. Salah satunya di bulan November dan Desember ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Camat Sekupang Muhammad Arman mengatakan titik banjir di wilayahnya satu persatu mulai teratasi. Salah satunya diPerumahan Kartini Raya. “Kemarin kami sudah minta developer menggali drainase-nya, dan Alhamdulillah hari ini kawasan tersebut sudah tidak banjir lagi,” sebutnya, kemarin.

 

Peran BP Batam Minim

Badan Pengusahaan (BP) Batam ikut berupaya melakukan normalisasi sejumlah titik rawan banjir. Tahun ini ada tiga titik rawan banjir yang ditangani BP Batam. Yakni di Simpang Kepri Mall, di dekat Rusun Kabil, dan di wilayah Melcem. Meskipun upaya tersebut belum membuahkan hasil.

BP Batam tidak terlalu banyak berperan dalam penanganan banjir. Kami hanya melakukan normalisasi di sejumlah titik saja,” kata Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pembangunan Gedung dan Utilitas, Yudi Cahyono, di Gedung BP Batam, Selasa (14/11).

Yudi mengakui tahun ini titik banjir di Batam bertambah lagi. Namun tugas terbesar untuk mengatasinya ada di tangan Pemko Batam.

Untuk tahun 2017, anggaran BP Batam untuk normalisasi hanya Rp 2 miliar saja. BP Batam, kata Yudi, berfokus pada penanganan drainase di jalan-jalan utama seperti di Jalan Sudirman menuju Bandara Hang Nadim dan Pelabuhan Batuampar.

“Salah satu yang menjadi perhatian kami adalah luapan dari Dam Baloi Kolam yang meluap ke Jalan Sudirman, tapi koordinasi dengan pemerintah pusat,” jelasnya.

Sedangkan untuk pembangunan infrastruktur untuk mengatasi banjir merupakan tanggung jawab dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera). Dalam hal ini lebih tepatnya ke Balai Wilayah Sumatera yang berkantor di Sekupang.

Tahun depan, BP Batam akan menambah lima titik normalisasi permanen yakni di dekat bandara menuju ke Polda Kepri, lalu di Simpang Raya, kemudian di drainase yang menuju Dam Duriangkang, di Ocarina dan di wilayah Legenda Bali yang menuju Dam Duriangkang. Tentu saja nanti dalam proses pekerjaannya harus berkoordinasi dengan Pemko Batam.

Upaya lain yang dilakukan BP Batam adalah dengan membangun kolam olakan dan perangkap sedimen di dekat Kepri Mall. Kolam olakan berfungsi untuk memperlambat aliran air dan perangkap sedimen adalah bangunan air yang berfungsi untuk mengendapkan sedimen yang masuk dengan tujuan mengumpulkan dan memindahkan partikel-partikel pasir dan lumpur.

Perangkap sedimen akan dipasang di saluran drainase dekat Kepri Mall. Salah satu penyebab banjir adalah banyaknya sampah yang menumpuk di drainase sehingga pengendap sedimen ini dapat menangkap sampah yang kemudian akan dikumpulkan di trash rock.

Trash rock merupakan salah satu bangunan air yang terbuat dari plat baja dimana fungsinya untuk menyaring sampah atau puing-puing yang terbawa aliran air untuk menjaga saluran air tetap bersih dari sampah.”Semuanya akan dipasang tahun depan,” imbuh Yudi.

Selain itu, jika Pemko ingin membangun drainase baru diatas lahan yang sudah ada pemiliknya, maka BP Batam siap bekerjasama untuk segera berdiskusi dengan pemilik lahan.

“Nanti berapa luas tanah yang menjadi kebutuhan pembangunan drainase akan didiskusikan dengan pemilik lahan. Nanti PL nya akan direvisi dan UWTO-nya akan diganti sesuai luas tanah yang akan dijadikan drainase,” pungkasnya. (cr17/cr13/rng/leo/ska)

Respon Anda?

komentar