Kepala Bank Indonesia Cabang Kepri Gusti Raizal Eka Putra memberikan pemaparan pertumbuhan ekonomi Kepri 2017 di Grand i Hotel Nagoya, rabu (15/11/2017). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Pertumbuhan ekonomi Kepri belum menunjukkan tren positif. Bank Indonesia (BI) kantor Perwakilan Kepri memprediksi, ekonomi Kepri pada triwulan IV tahun ini akan tumbuh di kisaran 2,26 hingga 2,4 persen.

Kepala BI Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka Putra mengatakan, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Kepri triwulan IV 2017 tergolong rendah dan melambat. Sebab tahun lalu, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,03 persen.

“Tapi secara year on year, ekonomi Kepri pada triwulan IV 2017 menguat di kisaran 4,0-4,4 persen,” kata Gusti di Grand i-Hotel Batam, Rabu (15/11).

Gusti mengatakan, dengan hanya tumbuh sekitar 2,2 sampai 2,4 persen, pertumbuhan ekonomi Kepri masih yang terendah jika dibandingkan dengan provinsi lain di wilayah Sumatera.

Meski begitu, Gusti menyebut pencapaian tersebut merupakan hal yang positif. Sebab, meski rendah, ekonomi Kepri mulai bangkit. Terutama jika dibandingkan dengan triwulan II tahun ini yang hanya menyentuh angak 1,6 persen.

Menurut Gusti, pertumbuhan ekonomi Kepri banyak ditopang industri pengolahan, perbaikan tingkat konsumsi pemerintah dan rumah tangga, serta tingkat permintaan ekspor luar negeri yang tetap menguat.

“Survei kegiatan dunia usaha, pelaku usaha optimistis. Survei konsumen sampai Oktober 2017 ada tanda-tanda perbaikan,” katanya.

Seperti diketahui, perekonomian Provinsi Kepri tumbuh lebih baik pada triwulan III sebesar 2,41 persen (yoy) dibanding triwulan kedua sebesar 1,04 persen (yoy). Pada triwulan keempat, indikasi perbaikan meningkat seiring membaiknya harga komoditas seperti migas, batubara, dan crude palm oil (CPO), akan menodorong peningkatan kebutuhan kapal.

“Investasi kontruksi di Kepri diperkirakan tetap kuat terutama didorong oleh konsumsi pemeritah seperti waduk Seigong dan beberapa proyek swasta seperti pembangunan hotel dan apartemen,” imbuhnya.

Sedangkan dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi triwulan IV dipengaruhi oleh perbaikan kinerja investasi dan konsumsi rumah tangga. Investasi meningkat 9.03 persen, khususnya untuk investasi bangunan baru, baik oleh pemerintah dan swasta. Selain itu ada investasi non bangunan, seperti pembelian mesin dan peralatan industri yang mengalami kontraksi. Demikian net ekspor yang masih mencatatkan kontraksi, terutama bersumber pada penurunan ekspor antar Provinsi.

“Konsumsi pemerintah mengalami pertumbuhan 0.04 persen (yoy), lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami kontraksi,” jelasnya.

Sementara itu konsumsi rumah tangga tumbuh menguat sebesar 7.20 persen (yoy) ditopang peningkatan jumlah kunjungan Wisman dan penurunan tingkat pengangguran sejak Agustus 2017. “Sedangkan dari sektor lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi bersumber dari perbaikan kinerja sektor industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan,” beber Gusti.

Sementara tekanan inflasi Kepri pada triwulan III 2017 melemah. Hal itu dipengaruhi dengan telah berlalunya perayaan hari besar keagamaan. Inflasi triwulan III sebesar 3.78 persen (yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya dengan inflasi sebesar 4.73 persen (yoy).

“Kelompok administered price, mencatatkan inflasi 8.88 persen (yoy), dengan andil terbesar inflasi dari tarif listrik,” imbuhnya.

Di tengah pertumbuhan ekonomi saat ini, kinerja perbankan Kepri diakui tetap kuat. Hal ini tercermin dari kredit yang tumbuh 5.43 persen (yoy) dibanding triwulan sebelumnya sebesar 4.13 persen (yoy). Penguatan kredit khususnya pada kredit investasi, modal kerja dan konsumsi dana pihak ketiga (DPK) tumbuh melemah 6.87 persen (yoy) dibanding sebelumnya sebesar 7,60 persen (yoy).

“Pelemahan dana pihak ketiga, khususnya pada tabungan dan deposito. Sementara giro menunjukkan penguatan,” pungkasnya. (leo)

Respon Anda?

komentar