Fahresi Angga Gunawan. F. Dok Pribadi untuk Batam Pos.

batampos.co.idFahresi Angga Gunawan, satu-satunya wasit sepak takraw dari Provinsi Kepri yang bersertifikat S2 (sebutan wasit untuk tingkat provinsi). Tawaran jadi wasit berskala nasional (S1) pun sudah diterimanya. Namun sayang, hasratnya terganjal keterbatasan biaya.

Surat undangan itu datang sebulan lalu, tepatnya 20 Oktober. Dibagian kiri atas kertas itu tertulis, pelatihan wasit Asian Sepak Takraw Federation (ASTAF).

Ditemui di sudut Kota Bintan Center, pria 33 tahun ini mulai menuturkan keinginan kuatnya mengikuti pelatihan wasit di Palembang, 25 November mendatang. Surat dari Pengurus Besar Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PB PSTI) itu pun tampak lecek. Mungkin karena sering dibuka tutup lipatannya.

“Kalau saya ada rezeki dan bisa ikut pelatihan itu, berarti saya satu-satunya wasit sepak takraw dari Kepri untuk tingkat nasional,” ujar putra kelahiran Tanjungpinang ini.

Alumni Universitas Islam Riau (UIR) yang juga mengajar pendidikan jasmani (Penjas) di SD 009 Bintan ini menuturkan, melalui jenjang sertifikasi S1 itu, ia dipersiapkan menjadi wasit sepak takraw di Asian Games Palembang 2018.

Untuk itu, ayah dua orang anak ini berharap, bantuan dari pemerintah daerah untuk transportasi dan akomodasi selama pendidikan.

“Pelatihannya tiga hari. Dari tanggal 25 sampai 27 November. Tapi sampai sekarang saya belum ada kepastian. Apakah jadi berangkat atau tidak, karena tak punya biaya,” ucapnya.

Meski bukan berasal dari seorang atlet, tapi Angga sudah menjadi wasit sejak 2009 dan telah mengantongi sertifikat S2. Selain di Kepri, ia sering diundang menjadi wasit di Padang dan Pekanbaru.

“Rencananya kalau saya mengikuti sertifikasi itu, saya akan dipersiapkan main di Asian Games Palembang tahun depan,” ungkapnya.

Angga menjelaskan, keberadaan wasit dalam sebuah pertandingan merupakan salah satu elemen penting. Jika tidak ada wasit, maka sebuah pertandingan tidak akan terlaksana. Dan untuk menjadi seorang wasit, bukan perkara mudah.

“Wasit harus memiliki keahlian khusus dan bertindak adil dalam menjalankan tugasnya. Karena kalau tidak, wasit akan menerima risiko seperti, dicerca suporter dengan teriakan bernada menghina. Bahkan lebih dari itu,” katanya.

Diakui Angga, menjadi wasit selain bertanggung jawab juga harus memiliki kebesaran hati. Krisis kepercayaan terhadap wasit harus diatasi, dengan terus belajar dan mengembangkan kemampuan.

“Harapan saya cuma satu. Bisa menjadi wasit nasional dan mengharumkan nama Kepri,” harapnya. (cipi Ckandina)

Respon Anda?

komentar