Jauhari berdagang tapai keliling pakai motor. F. Imam/Batam Pos.

batampos.co.idBagi Sebagian orang, menjadi honorer di lingkungan pemerintahan merupakan suatu impian. Namun tidak demikian dengan Jauhari. Meski sempat mengecap status honorer, tapi impian tertingginya adalah menjadi seorang pengusaha.

Dua tahun mengabdi sebagai honorer di salah satu sekolah dasar, tidak membuat Jauhari tenang. Naluri sebagai seorang pedagang lebih kental ketimbang rutinitas di sekolah.
Anak kelima dari tujuh bersaudar ini pun mengambil langkah tegas keluar sebagai honorer. Pria yang akrab disapa Aby Jo, memulai merintis usaha. Kondisi ekonomi keluargalah yang menempa naluri bisnis pria berusia 30 tahun ini.

Bermodal seadanya, Aby Jo memulai berdagang tapai keliling. Baginya, tidak ada kata menyerah, apalagi gengsi. Dengan kegigihan diyakininya bisa mengantarkan ke pintu kesuksesan sebagaimana yang menjadi impiannya. “Berdagang tapai keliling justru lebih nyaman dan tenang dibanding pekerjaan-pekerjaan sebelumnya,” ujar Aby Jo ketika ditemui Batam Pos, Jumat (17/11) kemarin.

Berbekal sepeda milik orangtuanya, dan keranjang berisi tapai, Aby Jo sudah berkeliling seputaran Tanjungbatu Kota sejak pagi. Penghasilannya pun terus meningkat. “Alhamdulillah, hasil dari berdagang bisa untuk menambung,” sebut Aby Jo.

Meski menjadi seorang pedagang keliling, Aby Jo, tetap menjaga penampilan. Rambutnya dipotong khas, ditambah kacamata hitam membuat penampilannya lebih segar.
Diakuinya, tidak sedikit orang yang mencibir dengan pekerjaannya tersebut. Cemooh hingga hinaan silih berganti menerpa dirinya. Namun semua dijalani Aby jo dengan ikhlas, dan sabar.

“Jujur saya sekarang lebih senang, dan santai. Walaupun saya hanya jualan tapai keliling dan banyak yang mencibir,” tutur Aby Jo yang bercita-cita menjadi pengusaha sukses, dan memberangkatkan haji kedua orangtuanya.

Mengenai ketertarikan berjualan tapai, dikata Aby, bermula ketika melihat usaha bapaknya yang tidak pernah ada kemajuan. Padahal, usaha tersebut sudah dirintis puluhan tahun. Penyebabnya karena tidak ada inovasi yang dilakukan, baik terhadap kemasan, maupun cara pemasaran.

“Selama ini tapai singkong dibungkus daun pisang, lalu dititipkan di kios atau kedai. Jadinya, kurang menarik. Sekarang saya mencoba berinovasi dengan mengubah kemasan, dan pemasaran,” tutur Aby yang mengaku menghabiskan 60 kilogram ubi singkong setiap hari.

Selain menjadi pengusaha, Aby bermimpi tapai ubi singkong kelak menjadi oleh-oleh khas Tanjungbatu. Selama ini, Kundur belum memiliki makanan yang menjadi ciri khas. Apalagi, bahan baku singkong cukup melimpah di Pulau Kundur.

“Untuk terus mengembangkan usaha, saya sudah mengikuti berbagai pelatihan, workshop. Selain mencari pengalaman, juga menambah ilmu. Semoga ubi singkong bisa menjadi makanan khas Kundur,” tutupnya. (ims)

Respon Anda?

komentar