Zulkifli, salah satu warga yang rumahnya berada di lokasi pembangunan pelabuhan bongkar muat menatap ke pekerjaan pembangunan di Tanjunguban, Jumat (17/11) kemarin. F. Slamet/Batam Pos.

batampos.co.id – Zulkifli menatap kosong ke arah laut. Warga Tanjunguban ini merenungi nasibnya. Bapak satu anak ini harus mengikhlaskan rumahnya yang menjadi tempat berlindung keluarganya selama 17 tahun terakhir harus dirobohkan karena berada tepat di lokasi pembangunan pelabuhan bongkar muat multifungsi di Tanjunguban.

“Mau bagaimana lagi. Bangunan rumah ini (liar) bukan di tanah sendiri kami menumpang tanah orang. Memang harus pindah, tapi belum tahu mau ke mana,” kata Zulkifli kepada Batam Pos, Jumat (17/11).

Zul panggilan lelaki yang mengantungkan ekonomi keluarganya melalui hasil laut ini
juga masih binggung mau mengadu ke mana. “Harapannya pemerintah mendengar suara-suara kami dan bisa menjembatani persoalan ganti rugi dengan pihak yang membangun pelabuhan ini. Kami tidak minta banyak, ganti uang paku dan papan,
jadilah untuk menyewa sementara rumah,” ungkapnya.

Kegelisahan Zul makin bertambah, karena sampan fiber yang digunakannya mencari ikan, bocor. Ia harus mencari uang untuk menambal kebocoran sampan agar bisa kembali digunakan menangkap ikan. Tak hanya Zul, Awang dan Sani juga harus pindah dari gubuknya. “Sudah sejak tahun 1995 saya tinggal di sini. Tanahnya milik pak Aui, kami
menumpang di sini,” kata pria paruh baya itu.

Ia belum tahu apakah ada ganti rugi dari pembangunan pelabuhan bongkar muat yang di
Tanjunguban, karena belum ada pembicaraan ke sana. “Informasinya tidak ada ganti rugi buat kami, kecuali pemilik lahan yang memang lahannya terkena pembangunan pelabuhan,” katanya.

Kadis Perhubungan Provinsi Kepulauan Riau, Jamhur Ismail mengatakan, beberapa rumah yang berada di lokasi pekerjaan sebenarnya rumah liar. Hanya, demi kebaikan bersama, pihaknya berencana akan memberikan uang saguhati. “Bukan ganti rugi, tapi saguhati. Besarannya akan kita bicarakan nanti. Tapi tahun ini mereka belum diminta pindah, sebab
tahun ini hanya pekerjaan pemancangan, tahun depan baru dilakukan
penimbunan,” jelasnya.

Sementara itu, di lokasi yang sama, kontraktor yang akan memindahkan kapal pagai sudah mulai memasukkan material. “Yang kecil kecil dulu, kalau material semua sudah ada, kami akan kerja. Mungkin besok sudah mulai kerja,” kata kapten Redi, pihak
kontraktor. (cr21)

Respon Anda?

komentar