batampos.co.id – Nilai tukar dolar Singapura terhadap rupiah terus menguat. Hingga Kamis (23/11) siang, harga jualnya menembus angka Rp 10.031 per dolar Singapura (SGD).

Kian perkasanya dolar Singapura ini ditanggapi biasa oleh Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Kepri. BI menyebut, kondisi ini tidak akan banyak berpengaruh terhadap perekonomian di Batam dan Kepri secara umum.

“Ini hal biasa,” kata Manajer Analisis BI Perwakilan Kepri, Wahyu Setyoko, Kamis (23/11).

Wahyu mengatakan, menguatnya mata uang Negeri Singa itu dikarenakan beberapa hal. Antara lain karena kondisi ekonomi Singapura yang membaik. Di antara penyebabnya adalah meningkatnya permintaan komoditas elektronika. Bahkan peningkatannya melebihi ekspektasi pemerintah setempat.

Selain itu, dolar Singapura menguat karena tumbuhnya sentimen yang terjadi akibat kenaikan suku bunga di Amerika. Sehingga ada aliran uang asing yang masuk ke Singapura.

“Meski dolar Singapura menguat, Wahyu mengatakan ini tidak berarti rupiah melemah,” kata Wahyu lagi.

Wahyu memastikan, sampai saat ini stabilitas mata uang rupiah masih terjaga. Namun begitu, BI akan tetap mewaspadai situasi ini dengan terus memantau reaksi di lapangan.

“Ketika kondisi tidak membaik, maka BI akan masuk ke pasar dan berlakukan operasi moneter untuk menstabilkan nilai rupiah,” paparnya.

Tujuannya adalah untuk menjaga iklim investasi agar tetap kondusif. “Supaya importir tidak khawatir,” katanya.

Reaksi senada juga ditunjukkan Ketua Umum Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA) Indonesia, Amat Tantoso. Menurut dia, anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura kerap terjadi di akhir tahun, antara November dan Desember. Ini dikarenakan tingginya permintaan mata uang asing, khususnya dolar Singapura.

Amat menduga, hal ini terjadi karena banyak pengusaha yang masih bertransaksi dengan mata uang asing. Termasuk dolar Singapura. Transaksi tersebut biasanya berupa pelunasan utang atau biaya proyek.

Lenni karyawati Money Changer Banda Mustikamas Megamall Batamcenter sedang menghitung uang dolar singapura, Kamis (23/11). F Cecep Mulyana/Batam Pos

“Tentu permintaan akan dolar meningkat, ya jadi harganya pasti naik,” ujar Amat, kemarin.

Selain pengusaha, permintaan dolar juga meningkat karena banyaknya masyarakat yang membeli mata uang asing. Biasanya, mereka membeli dolar untuk keperluan liburan akhir tahun ke luar negeri.

“Bahkan ibu-ibu rumah tangga pun beli dolar untuk merayakan pergantian tahun di luar negeri,” katanya.

Senada dengan BI, Amat menduga kondisi ini tidak akan berdampak pada perekonomian di Batam dan Kepri. Sebab menurut Amat kondisi ini tidak akan berlangsung lama. “Apalagi kondisi ekonomi di Kepri khususnya di Batam sudah membaik,” ujarnya. (leo)

Respon Anda?

komentar