Di balik semangat PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) membangun proyek pipa transmisi WNTS di titik Sub Sea Tie In-Batam (SSTI-B) ke Pulau Pemping terdapat optimisme dan keyakinan. Bahwa ke depan, gas bumi bukan sekadar bahan bakar, melainkan akan menjadi bahan baku bagi sejumlah sektor industri di Batam. Proyek ini juga merupakan ‘pengorbanan’ PGN demi keandalan pasokan energi masa depan bernama gas alam.

SUPARMAN, Batam

Sari Astuti bersungut-sungut. Alas setrika baru saja digelar. Setrika listrik yang ujung kabelnya sudah terhubung dengan arus listrik juga baru mulai panas. Namun tiba-tiba…Bleb! Listik padam.

Ia makin geram karena air nasi yang dimasak dengan rice cooker bahkan belum mendidih. Padahal, saat itu jarum jam menunjukkan pukul 10.30 WIB. Artinya, waktu makan siang akan segera tiba.

“Listrik padam tanpa ada pemberitahuan sebelumnya,” gerutu Sari, Kamis (2/11) lalu.

Padahal, jika Sari rajin membaca koran lokal, ia pasti akan mendapati informasi tentang pemadaman listrik yang terjadi hari itu. Sebab PT PLN Batam memasang iklan pengumuman pemadaman listrik bergilir di media cetak tempatan pada Rabu (1/11). Tak hanya itu, sejumlah media cetak maupun siber di Batam, termasuk Batam Pos, juga memuat berita tentang rencana pemadaman listrik tersebut.

Sesuai pernyataan PLN Batam kepada Batam Pos, listrik di Batam akan padam bergilir selama empat hari. Terhitung mulai 3 November hingga 6 November 2017. PLN Batam menyebut hal ini dikarenakan turunnya pasokan gas bumi dari PGN akibat aktivitas perawatan pipa PGN.

Akibat penurunan pasokan gas ini, PLN Batam mengaku kehilangan daya hingga 100 Mega Watt (MW) per hari. Sehingga tak ada pilihan lain bagi PLN Batam selain melakukan pemadaman bergilir kepada para pelanggannya.

“Kami menganggap ini situasi force majeure,” kata Manager Humas PT PLN Batam, Bukti Panggabean, Rabu (1/11) silam.

Bukti mengatakan, saat ini satu dari tiga pembangkit listrik milik PLN Batam menggunakan bahan bakar gas bumi dari PGN. Dalam sehari, konsumsi gas bumi untuk pembangkit listrik PLN Batam itu mencapai 30-40 Billion British Thermal Unit per Day (BBTUD). Sehingga penurunan pasokan gas bumi PGN saat itu sangat berdampak pada produksi setrum PLN Batam.

“Kami terpaksa melakukan pemadaman. Ini tak bisa dihindari,” kata dia.

Pihak PGN Membenarkan, bahwa pada 4-5 November ada proyek pengerjaan penguatan jaringan pipa gas PGN di Grissik, Sumatera Selatan. Akibat kegiatan ini, pasokan gas bumi ke Batam berkurang antara 40 hingga 50 persen dari suplai normal sebesar 70 MMBTUD. PGN juga mengakui, penurunan pasokan gas bisa terjadi sejak dua hari sebelum dan dua hari sesudah proyek dilaksanakan.

Kondisi semacam inilah yang membuat PGN terus berkomitmen membangun jaringan gas bumi untuk memperkuat pasokan gas alam tersebut ke Batam. Salah satunya melalui proyek pipa transmisi West Natuna Transportation System (WNTS) di titik Sub Sea Tie In-Batam (SSTI-B) ke Pulau Pemping.

Area Head PGN Batam, Amin Hidayat, menjelaskan sesuai namanya proyek SSTI-B ini merupakan pembangunan pipa gas bumi bawah laut yang di-taping dari jalur pipa gas dari Natuna ke Singapura (WNTS). Pipa SSTI-B ini kemudian mendarat di Pulau Pemping, Batam. Panjangnya sekitar 5 kilometer.

Melalui proyek ini, nantinya Batam akan mendapat tambahan pasokan gas bumi dari Natuna sebanyak 100 MMBTUD. Proyek SSTI-B ini diproyeksikan rampung 2018 mendatang. Selama ini kebutuhan gas bumi di Batam dipasok PGN dari sumur gas di Grissik, Sumatera Selatan.

“Sebenarnya gas dari Grissik cukup. Tapi dengan proyek WNTS ini, PGN ingin meningkatkan keandalan energi gas bumi di Batam,” kata Amin Hidayat, Senin (27/11).

Sehingga, kata Amin, ke depan tak perlu lagi ada industri di Batam, khususnya industri pembangkit listrik, yang terganggu akibat pasokan gas yang tersendat. Sebab dengan adanya suplai gas dari Natuna ini, Batam akan memiliki alternatif lain sumber pasokan gas bumi.

Selain industri pembangkit listrik (power plant), keandalan gas bumi di Batam dimaksudkan untuk melayani industri lain dalam skala besar. Sebab volume suplai gas 100 MMBTUD dari Natuna hanya tahap awal saja. Ke depannya pasokan gas bumi dari Natuna bisa ditingkatkan sesuai permintaan konsumen di Batam.

“Industri skala berapapun dapat kami layani,” ucap Amin dengan semangat menggelora.

Amin mengakui, serapan gas bumi di Batam saat ini masih tergolong rendah. Itulah sebabnya, ia menyebut proyek SSTI-B tersebut merupakan bagian dari ‘pengorbanan’ PGN saat ini.

Disebut pengorbanan karena sampai saat ini baru ada satu-dua industri yang menjadi calon konsumen gas bumi PGN yang dipasok dari Natuna itu. Itupun masih calon. Belum ada kontrak yang diteken.

Namun begitu, Amin mengaku pihaknya tetap optimistis bahwa ke depan serapan gas bumi di Batam akan semakin meningkat. Baik dari sektor industri, pembangkit listrik, komersial, hingga rumah tangga.

“Kami tidak bicara demand hari ini. Tapi kami memiliki optimisme terhadap peluang di masa yang akan datang,” katanya.

Amin meyakini, setidaknya ada dua efek besar dari pembangunan pipa gas bumi WNTS bagi Batam. Pertama, akan meningkatkan keandalan energi gas bumi di Batam yang akan mendorong masuknya industri skala besar. Misalnya industri petrokimia (petrochemical) dan industri oleokimia (oleochemical).

Sebab pada 2011 lalu, ada beberapa calon investor di sektor industri petrokimia yang berniat masuk ke Batam. Saat itu, mereka membutuhkan suplai gas bumi sebesar 100 MMCFD. Namun ketika itu PGN belum bisa menyanggupi.

“Tapi ke depan berapapun permintaan industri, kami akan layani,” katanya.

Kalau industri petrokimia dan oleokimia banyak yang masuk ke Batam, maka serapan gas bumi dipastikan akan semakin besar pula. Sebab bagi industri oleokimia dan petrokimia, gas bumi tidak hanya digunakan sebagai bahan bakar, melainkan juga akan menjadi bahan baku bagi industri tersebut.

Dan yang tak kalah pentingnya, kata Amin, masuknya industri skala besar ini juga akan berdampak pada ekonomi secara global. Lapangan kerja akan terbuka lebar. Efek gandanya adalah bergeraknya sektor usaha lainnya. Jika sudah begini, roda ekonomi akan berputar cepat.

Efek kedua pembangunan pipa WNTS, lanjut Amin, akan menjadikan Batam sebagai Hub-Energy untuk wilayah Kepri. Sehingga nantinya pemanfaatan gas bumi tidak hanya terfokus di Batam. Melainkan bisa didistribusikan ke daerah lain di wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Bentuknya bisa berupa compressed natural gas (CNG) maupun liquefied natural gas (LNG).

“Bahkan jika memungkinkan, kami bisa membangun pipa gas ke pulau-pulau di wilayah Kepri,” ucap Amin

Amin menjelaskan, proyek pipa gas Sub Sea Tie In-Batam (SSTI-B) dari pipa jalur WNTS merupakan proyek penugasan dari pemerintah. Proyek ini ditargetkan rampung tahun 2018 mendatang.

Pria yang hobi bersepeda ini menambahkan, pipa WNTS merupakan pipa yang menyalurkan gas bumi dari Natuna ke Singapura. Gas tersebut bersumber dari tiga sumur milik tiga Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) migas, yakni MedcoEnergi, Premier Oil, dan Star Energy.

Sementara gas yang diambil dan disalurkan ke Batam melalui pipa SSTI-B ini merupakan domestic market obligation (DMO) untuk wilayah Kepri. “Ini semacam hak daerah Kepri. Karena tiga sumur gas tersebut berada di wilayah Kepri,” kata Amin.

Proyek SSTI-B ini disambut baik sejumlah pihak. PT Pelayanan Listrik Nasional (bright PLN) Batam salah satunya. Anak perusahaan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) ini melihat pembangunan pipa gas dari WNTS ini menjadi kabar baik bagi dunia usaha dan sektor industri di Batam. Termasuk bagi PLN Batam sendiri yang saat ini merupakan konsumen gas bumi terbesar di Batam.

“Kami happy, karena nantinya bakal ada sumber baru gas bumi. Sehingga ketika satu sumber terhenti, masih ada alternatif lainnya,” kata Direkut Bisnis dan Pengembangan Usaha bright PLN Batam, Khusnul Mubien, Selasa (28/11).

Bahkan Khusnul menyebut, PLN Batam kemungkinan akan menjadi konsumen gas dari Natuna tersebut untuk pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) milik PLN Batam di Tanjunguncang, Batam. Pembangkit tersebut saat ini sudah siap dioperasikan, dan tinggal menunggu pasokan gas.

Khusnul mengatakan, saat ini PLN Batam memiliki empat pembangkit. Dua di antaranya berbahan gas bumi, satu pembangkit berbahan bakar batubara, dan satu pembangkit berbahan bakar minyak (BBM).

Ia mengakui, dengan gas bumi PLN Batam bisa menghemat biaya bahan bakar sekitar 30 hingga 40 persen dibandingkan dengan BBM. Selain itu, pembangkit dengan bahan bakar gas lebih bersih dan ramah lingkungan.

“Pembangkit dengan batubara sebenarnya lebih hemat. Tapi menimbulkan polusi udara,” katanya.

Sayangnya, kata dia, PLN Batam tidak bisa mengganti semua pembangkitnya menjadi pembangkit bertenaga gas. Sebab jika suatu saat pasokan gas terkendala, PLN Batam masih bisa mengandalkan pembangkit lainnya yang tidak berbahan bakar gas.

Setelah pasokan gas bumi terjamin keandalannya, sebagai konsumen Khusnul masih memiliki harapan lain. Yakni soal harga gas bumi yang menurutnya harus ditekan lagi. Sebab jika harga gas murah, pihaknya juga bisa menjual setrum dengan tarif yang lebih rendah pula.

“Karena energi primer merupakan komponen terbesar dalam biaya operasional mesin pembangkit,” katanya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing. Pria yang akrab disapa Ayung ini mengatakan, harga gas nasional sebesar 9,6 dolar AS per MMBTU dianggap masih terlalu mahal. Idelanya, kata dia, harga gas untuk industri harus di bawah 6 dolar AS per MMBTU.

Namun ia mengakui, komitmen PGN dalam membangun jaringan gas bumi di Batam cukup baik. Sehingga ia optimistis, ke depan keandalan pasokan gas bumi di Batam akan semakin meningkat.

“Ini akan menjadi salah satu daya tarik investor. Dengan catatan harganya juga harus kompetitif,” katanya.

Ayung menyebut, saat ini sudah ada beberapa industri dan pembangkit listrik (power plant) di Batam yang sudah mengkonversi bahan bakar nya dari BBM ke gas bumi. Setidaknya ada 43 perusahaan sektor industri dan pembangkit listrik di Batam yang sudah menggunakan gas bumi. Mereka tersebar di sembilan kawasan industri di Batam.

Selain menggunakan gas sebagai bahan bakar, beberapa industri di Batam juga sudah memanfaatkan gas alam ini sebagai bahan baku. Misalnya PT Ecogreen Oleochemical yang berada di Kawasan Industri Kabil, Batam.

Ia berharap ke depan makin banyak industri di Batam yang memanfaatkan energi ramah lingkungan ini. Juga, semakin banyak perusahaan baru yang membutuhkan bahan baku gas yang masuk ke Batam.

Seoarng petugas Perusahaan Negara Batam Hitler Simatupang melakukan pemeriksaan Metering Regulating Station (MRS) PGN Megamall Batamcenter, Rabu (22/11). infeksi tersebut untuk memastikan kualitas dan tekanan gas yang sampai ke pelanggan. F Cecep Mulyana/Batam pos

Komitmen dan semangat PGN memperkuat infrastruktur dan pasokan gas bumi didukung banyak pihak. Badan Pengusahaan (BP) Batam selaku pengelola kawasan pedagangan bebas dan pelabuhan bebas Batam merupakan satu di antara sekian banyak intansi yang menyambut gembira komitmen itu.

Deputi II Bidang Perencanaan dan Pengembangan, Yusmar Anggadinata, mengatakan keandalan pasokan gas bumi di Batam menjadi nilai tambah bagi Batam. Sebab dia meyakini, ke depan gas bumi bakal menjadi komoditas yang bukan saja dimanfaatkan sebagai bahan bakar, tetapi juga menjadi bahan baku industri.

“Kami sangat mendukung agenda penguatan pasokan gas bumi di Batam,” kata dia, Rabu (29/11) lalu.

Pria yang akrab disapa Angga ini mengatakan, dengan pasokan energi gas bumi yang cukup, ditambah dengan ketersediaan sarana dan prasana penunjang lainnya, dia yakin investasi di Batam akan ikut tumbuh.

Angga menyebut, komitmen PGN ini sejalan dengan master plan BP Batam untuk mengembangkan Batam sebagai kota aertropolis. Konsep ini, kata dia, memerlukan dukungan infrastruktur dan ketersediaan energi yang memadai. Termasuk ketersediaan listrik.

“Pasokan gas bumi yang melimpah juga bisa dimanfaatkan untuk memperkuat sektor kelistrikan,” katanya.

Dukungan juga digelorakan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kepri. Menurut Kepala Bappeda Kepri, Naharudiin, ketersediaan energi merupakan modal utama dalam pembangunan daerah, khususnya pembangunan di sektor perekonomian.

“Ya memang ketersediaan energi adalah kunci percepatan pembangunan daerah,” ujar Naharudiin.

Sedangkan Kepala Bidang Pemanfaatan Energi dan Listrik Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kepri, Mangara, menyebut semangat PGN memperkuat jaringan dan pasokan gas bumi di Batam sejalan dengan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) Kepri. Dia beharap, ke depan serapan gas bumi di Batam dan Kepri terus meningkat seiring dengan komitmen PGN yang terus menambah pasokan gas ke Batam. Termasuk yang melalui pipa WNTS SSTI-B.

Mengenai hal ini, Humas PGN Batam Riza Buana mengatakan, serapan dan pemanfaatan gas bumi memang membutuhkan dukungan dan regulasi dari pemerintah. Menurut dia, pemerintah harus mampu memanfaatkan kondisi kesiapan energi ini sebagai nilai jual untuk menggaet investor.

Khusus di Batam, kata Riza, perlu ada sinergi yang baik dari para pemangku kepentingan. Sebab ibarat sebuah kapal, Batam dikendalikan dua nakhoda. Yakni Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Pemko Batam.

“Pemerintah harus saling bekerja sama mendatangkan investor,” katanya.

Dengan adanya tambahan pasokan gas bumi dari Natuna melalui proyek SSTI-B ini, Batam nantinya akan surplus energi. Sehingga pemerintah harus mengimbanginya dengan terus menarik investor baru, khususnya untuk industri skala besar. Seperti industri petrokima dan oleokimia.

Sehingga ke depannya gas bumi tidak hanya banyak dimafaatkan untuk bahan bakar, tetapi juga banyak terserap sebagai bahan baku industri. Ia yakin, jika keunggulan Batam dalam hal keandalan energi gas bumi ini dikelola dengan baik, maka akan banyak investor asing di bidang petrokimia dan oleokimia yang tertarik menanamkan modalnya di Batam.

“Batam akan lebih menarik. Karena selain memiliki insentif fiskal, Batam punya ketersediaan sumber energi,” katanya.

 

Respon Anda?

komentar