Sebelumnya, saya ucapkan selamat untuk Persebaya Surabaya, PSMS Medan, dan PSIS Semarang yang promosi ke Liga 1 musim depan.

Sepak bola merupakan olahraga paling digandrungi di negeri ini. Bahkan, setiap kesebelasan punya basis massa masing-masing. Jumlahnya begitu besar. Mereka militan. Benar-benar fanatik.

Bagi para suporter, klub melambangkan banyak hal. Gengsi, kebanggaan, nama baik, persaudaraan, hingga yang paling ekstrem adalah harga diri. Tak jarang, ada kelompok suporter yang memiliki fanatisme berlebihan terhadap klub yang didukungnya. Sampai-sampai, mereka tidak akan bisa dan mau terima kalau yang didukungnya kalah. Ujung-ujungnya rusuh.

Dari tahun ke tahun, sepak bola Indonesia terus mengalami pembenahan. Meskipun sempat disanksi FIFA, namun pelan-pelan kompetisi digelar dengan lebih profesional. Meskipun beberapa kontroversi masih mewarnai sepak bola di negeri ini. Terlepas dari itu semua, kompetisi saat ini lebih baik ketimbang di era Perserikatan dulu. Pengelolaan klub yang profesional, manajemen berpengalaman, pelatih berkualitas tinggi, hingga pemain berbanderol miliaran rupiah menjadi daya tarik tersendiri.

Saat ini, kompetisi sepak bola resmi di Indonesia terbagi menjadi tiga. Liga 1, Liga 2, dan Liga 3. Tahun depan, kabarnya akan ada Liga 4, kasta terendah sepak bola nasional.

Untuk diketahui, Liga 1 dengan segala kontroversinya telah menasbihkan tim debutan Bayangkara FC sebagai juara. Sedangkan Persebaya Surabaya menjadi juara Liga 2. Di laga final yang digelar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bajul Ijo–julukan Persebaya–menang dramatis atas Ayam Kinantan–julukan PSMS Medan–melalui babak perpanjangan waktu yang berakhir 3-2. Satu klub lain yang menyusul Persebaya dan PSMS adalah PSIS Semarang. Laskar Mahesa Jenar–julukan PSIS–sukses mengalahkan klub kejutan Martapura FC 6-4.

Yang menarik, ketiga klub tersebut merupakan kekuatan tradisional sepak bola Indonesia. Mereka merupakan “si anak hilang”. Dulunya mereka adalah klub-klub kuat yang terlempar dari kasta tertinggi sepak bola nasional.

Di era Perserikatan, ketiganya pernah mencicipi gelar juara. PSMS menjadi tim tersukses dengan lima gelar juara, diikuti Persebaya empat kali juara, dan PSIS satu kali. Total juara itu belum termasuk kompetisi Galatama dan Liga Indonesia (Ligina).

Dengan bergabungnya Persebaya, PSMS, dan PSIS, total ada sembilan klub legendaris yang akan berlaga di Liga 1 musim depan. Mayoritas dari mereka adalah para jawara. Koleksi gelar mereka adalah sebagai berikut:

Persija Jakarta dengan raihan 10 gelar, Persebaya 8 gelar, Persib Bandung 7 gelar, PSM Makassar 6 gelar, PSMS Medan 5 gelar, Persipura Jayapura 4 gelar, dan PSIS Semarang 1 gelar. (Note: jumlah gelar merupakan akumulasi dari era Perserikatan, Galatama, dan Ligina)

Sedangkan dua klub legendaris lainnya, Persela Lamongan dan Perseru Serui belum pernah juara.

Di Liga 1 musim depan, mereka akan berhadapan dengan pendatang baru alias non-Perserikatan. Meskipun tergolong tim baru, namun mereka diklaim memiliki modal besar. Sehingga mampu bertarung di level tertinggi sepak bola nasional. Contohnya saja Bhayangkara FC dan Bali United yang menjadi juara serta runner up Liga 1 musim ini.

Meski bukan kategori klub dengan sejarah panjang, namun mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Liga 1 musim ini jadi bukti rontoknya klub para jagoan lawas negeri ini.

Musim depan, sembilan klub Perserikatan itu akan berhadapan dengan pendatang baru. Selain Bhayangkara dan Bali United, ada Madura United, Barito Putera, Borneo FC, Arema FC, Mitra Kukar, Sriwijaya FC, dan PS TNI.

Bisa dipastikan, Liga 1 musim depan akan membuka kembali sejarah lama. Persaingan klub-klub elit dengan nama besar. Sebut saja resistensi antara Bonek–pendukung Persebaya–dengan Aremania yang merupakan pendukung Arema FC. Belum lagi duel klasik antara Persib melawan Persija. Dan duel-duel bergengsi lainnya.

Memanasnya kompetisi musim depan bisa dilihat dari aktivitas transfer. beberapa klub Perserikatan sudah mulai tancap gas. Contohnya saja Persib Bandung dan Persija yang mulai membangun kekuatan mereka. Tak mau ketinggalan, non-Perserikatan juga mulai gencar belanja pemain. Madura United, Bali United, dan Barito Putera terlihat paling aktif.

Sangat layak ditunggu duel para juara tersebut. Saya pun secara pribadi berharap kompetisi bisa segera digulir. Sehingga, dapat menyaksikan secara langsung duel para raksasa di Liga 1. ***

 

Guntur Marchista Sunan
General Manager Batam Pos

Respon Anda?

komentar