Anto seorang pedagang sayuran di Pasar Penuin sedang merapihkan dagangannya. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Beberapa hari terakhir, harga komoditi cabai merah tak menentu, sementara itu komoditi cabai rawit langka. Keadaan ini dapat teratasi dengan cara mengembangkan lahan pertanian atau pengadaan cool storage.

Hal ini disampaikan, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), Mardanis. Menurutnya, terkait pengembangan lahan pertanian, dua komoditi tersebut perlu masing-masing 30 hektar lahan, dengan kata lain total 60 hektar.

Ia mengaku, persoalan lahan bukan hal yang mudah, jika kendalanya demikian, alternatif yang bisa dipakai adalah lahan yang kini digarap petani baik di Sagulung hingga Galang.

“Kami sudah turun tanya petani, mereka mau. Tinggal kita bantu bibit dan pupuk,” ucap Mardanis, kemarin.

Solusi kedua, lanjut mantan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil ini, yakni dengan mengadakan gudang penyimpanan (cool storage), agar stok bahan pokok yang didatangkan dari daerah lain dapat bertahan lama. Hitung-hitungannya, pelaksanaan ini dinilai akan menyerap dana Rp 5 miliar, namun manfaatnya adalah bahan pokok dapat bertahan hingga enam bulan.

“Misalnya lebaran Juni, kami masukkan Maret. Kami keluarkan saat butuh, tahan lama. Jakarta kan begitu, makanya harganya stabil dan enggak langka. Tapi ini nanti perannya BUMD,” papar dia.

Mardanis mengatakan, sejak dulu hal ini telah ia sampaikan ke Wali Kota Batam Muhammad Rudi. Namun sayang, masukan ini belum dapat terealisasi dalam waktu dekat ini karena persoalan minimnya anggaran.

“Saya udah bilang, tapi tunggu anggaran bagus. Tahun depan (2018) pun, lahan hanya dua hektar,” keluhnya.

Ia menyampaikan, sejatinya Pemko Batam paham bahan pokok adalah hal yang penting untuk diperhatikan pemerintah daerah. Dengan cara memastikan terjangkau baik ketersediaanya maupun harganya.

“Pangan ini penting,” imbuhnya.

Untuk sementara ini, yang ia lakukan adalah menggalakkan program Rumah Pangan Lestari yakni melibatkan masyarakat untuk bertanam tanaman produktif di pekarangan rumah. Pantauan Batam Pos di lapangan program ini belum menunjukkan sumbangsih yang cukup.

“Kami kasih bibit, tak ada dana makanya obat-obat kami tak sediakan,” ungkapnya.

Mardanis mengatakan,programa ini sejatinya bukan langkah utama namun hanya pelengkap. Bagaimana tidak, hasilnya pun terbilang tak cukup jika dibanding kebutuhan cabai masyarakat.

Menyikapi tingginya harga dan langkanya cabai, kini Pemko Batam akan turun memastikan apa penyebab hal tersebut terjadi. “Kami ingin buktikan apakah karena alam atau hanya dilangkain-langkain. Kalau ada yang main lapor POLDA (polisi, red) kena PMH (Perbuatan Melawan Hukum, red),” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Amsakar Achmad mengaku tahu harga komiditi cabai dan bumbu-bumbuan fluktuasinya tinggi. Bahkan, ia sampaikan apapun langkah yang diambil Pemko Batam cabai merupakan komoditi yang rentan rusak.

“Hujan pengaruh, gempa bumii, erupsi juga,” paparnya.

Namun ia menyebutkan, bahan pokok bukanlah penyumbang inflasi yang signifikan. Justru listrik dan tiket pesawatlah yang punya andil tinggi terhadap inflasi. “Ini artinya program kita tentang sembako murah itu tepat,” klaimnya.

Bahkan kini, Pemko Batam tengah menggalakkan kerjsama denga daerah lain terkait pengadaan sembako, seperti Jambi maupun Sumatera Barat.

Wali Kota Batam Muhammad Rudi mengatakan, fluktuasi harga semasih itu dalam batas wajar bisa ditolerin. “Itu biasa hukum alam,” imbuhnya.

Ia menilai, sesuatu yang dibutuhkan masyarakat rentan berubah harganya, mengatasi ini tak bisa dilakukann oleh pemerintah saja, namun juga peran pelaku usaha. Lalu bagaimana dengan alur yang panjang terkait pengiriman barang dari luar daerah dan rencana Pemko mendatangkan bahan pokok via udara.

“Pakai pesawat mahal juga, enggak jadi. Kami sambil jalan saja ya,” ucap Rudi sembari berlalu. (cr13)

Respon Anda?

komentar