batampos.co.id – Kenaikan upah minimum kerja (UMK) tiap tahunnya dapat membuat pengusaha di Batam mengambil opsi untuk mulai melakukan robotisasi dalam bidang produksi.

“Tiap tahun ada kenaikan. Pengusaha jadi hati-hati karena belum ada solusinya. Sekarang upah Batam lebih tinggi dari Johor Bahru,” ungkap pengusaha yang juga pemilik PT Satnusa Persada, Abidin Hasibuan di Batamcentre, Kamis (7/12).

Abidin mengatakan kenaikan UMK 2018 ini akan membuat pengusaha menguragi tenaga kerja. Untuk meminimalisir pengurangan tenaga kerja, maka pengusaha akan beralih ke proses robotisasi atau auto motion.

“Itu satu-satunya jalan setelah terpaksa mengurangi karyawan adlah tambah mesin. Kalau tidak, perusahaan akan merugi,” ujarnya.

Lagipula, Abidin mengatakan proses produksi industri saat ini sudah bergerak ke arah robotisasi.”Di China sudah luar biasa. Salah satunya perusahaan smartphone Foxcon mampu membuat smartphone hanya dengan empat orang. Semuanya sudah pakai auto motion,” jelasnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepri, Cahya juga menyikapi persoalan kenaikan UMK ini secara serius.

“Ini merupakan satu masalah. Sistem pengupahan kita benar-benar tak membantu usaha,” katanya usai peresmian motor listrik Magnum di Batamcentre.

Di Asia Tenggara, UMK Indonesia nomor dua tertinggi setelah Singapura. Dan untuk di Asia, Jepang dan Korea diatas Indonesia.

President Direktur PT Sat Nusapersada Abidin Hasibuanbersama Head of Xiaomi South Pacifik Region and Indonesia Country Manager Stepen Shi meninjau pembuatan hp xiomi di PT Sat Nusapersada, Senin (4/12). F Cecep Mulyana/Batam Pos

“Di Vietnam, Myanmar dan Kamboja masih dibawah Rp 2 juta. Sedangkan Malaysia masih Rp 3,1 juta. Di Beijing, Tiongkok, upah masih Rp 3,2 juta,” paparnya.

Bukan tidak mungkin dalam lima tahun mendatang UMK di Batam bisa mencapai Rp 6 juta.”Jika tiap tahun naik, kita tak akan bisa bersaing,” ungkapnya.

Nilai UMK yang tinggi akan menyebabkan biaya produksi menjadi mahal. Poin ini akan menjadi perhatian utama investor asing.

“Orang akan lihat mau bangun pabrik di Batam dengan yang di Vietnam beda biayanya. Mereka akan pilih yang lebih murah,” paparnya lagi.

Untuk UMK 2018, Cahya mengakui Apindo Kepri terpaksa menerimanya karena takut terjadi demo.

“Apindo terima karena anggap ini buah simalakama. Kalau tak terima, ya pasti didemo. Kami terima dulu sesuai PP 78/2015 tentang pengupahan,” ungkapnya.

Ia kemudian menyatakan jika pemerintah tak ambil langkah tegas, maka kenaikan UMK akan terjadi terus.

“Di kala bisnis tak baik, kami megap-megap. Masalah upah naik jadi kendala,” jelasnya.

Meskipun Badan Pengusahaan (BP) Batam tak punya peran dalam menentukan UMK, namun mereka menganggap situasi seperti ini akan membuat Batam tidak kondusif.

Kepala BP Batam, Lukita Dinarsyah Tuwo mengatakan mengenai persoalan upah, biasanya perusahaan akan menerapkan efisiensi untuk bisa berproduksi. Salah satunya dengan proses robotisasi.

“Itu pasti karena menjadi tren yang terjadi. Kalau tidak akan tutup semua,” ungkapnya.

Lukita juga memahami selain persoalan upah, persoalan kompetensi juga menjadi kendala perusahaan di Batam.”Makanya kami mendorong adanya tempat latihan vokasi yang bisa tingkatkan kapasitas SDM di Batam,” paparnya.

Selain itu BP Batam juga akan mengembangkan industri baru. Karena Lukita sadar Batam tak bisa bergantung lagi pada industri manufaktur dan berat. Jenis industri ini sangat terpengaruh dengan kenaikan upah.

“Contohnya bisnis online yang tak bisa kita lawan arusnya dan pariwisata yang menjadi penyumbang devisa terbanyak kedua setelah kelapa sawit,” jelasnya.

Mengembangkan jenis industri ini diharapkan dapat menutupi persoalan pengurangan tenaga kerja yang kerap terjadi di industri manufaktur.

“Persiapkan industri baru supaya pengurangan tenaga kerja bisa digeser ke industri baru,” jelasnya.

Selain bisnis online dan pariwisata, BP Batam juga berniat membangun Batam sebagai pusat logistik.”Gudang-gudang dibutuhkan karena pesawat akan banyak datang. Apalagi bisnis online membutuhkannya untuk proses pengantaran barang,” jelasnya.

Ia juga mendapat kabar bahwa harga minyak naik lagi. Sehingga membuka peluang industri migas dan shipyard bangkit kembali.”Mereka sudah dapat kontrak lagi. Mudah-mudahan bisa rekrut tenaga kerja lebih banyak lagi,” katanya.

Optimisme itu juga diungkapkan oleh Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri. Menurut Kepala BI Perwakilan Kepri, Gusti Raizal Eka Putera, harga minyak diperkirakan kembali naik.

“Hal ini didorong oleh net demand di pasar dan komitmen pemotongan produksi oleh OPEC dan 10 negara non OPEC,” jelasnya.

Selain itu, harga batubara dan beberapa jenis logam juga meningkat.”Didorong oleh kenaikan impor batu bara Tiongkok karena kebutuhan untuk mengantisipasi musim dingin,” jelasnya.

Sementara kenaikan permintaan logam sejalan dengan perbaikan ekonomi di Tiongkok dan invesrtasi infrastruktur.(leo)

Advertisement
loading...